Connect with us

International

Penolakan Jaminan Keamanan Ekstrem Ukraina: Isu Senjata Nuklir dan Keanggotaan NATO

Published

on

WASHINGTON (usmnews) di kutip dari sindonews dengan fokus pada pernyataan Senator Amerika Serikat **Lindsey Graham**, menggarisbawahi realitas politik yang keras mengenai permintaan jaminan keamanan ekstrem dari Ukraina. Inti dari permasalahan ini adalah penegasan bahwa jaminan keamanan untuk Ukraina **tidak mungkin mencakup keanggotaan penuh dalam Organisasi Pakta Atlantik Utara (NATO)** atau **penempatan senjata nuklir** di wilayahnya.

### 📜 Latar Belakang Opini Zaluzhny

Pernyataan Graham ini merupakan respons langsung terhadap opini yang baru-baru ini diterbitkan oleh **Valery Zaluzhny**, mantan komandan militer tertinggi Ukraina yang saat ini menjabat sebagai Duta Besar Ukraina untuk Inggris. Dalam opininya yang dimuat di surat kabar *The Telegraph* pada hari Sabtu, Zaluzhny memaparkan visinya mengenai apa yang disebutnya sebagai “**jaminan keamanan yang efektif**” bagi negaranya.

Zaluzhny menguraikan tiga opsi utama yang ia anggap esensial untuk menjamin keamanan jangka panjang Ukraina dalam menghadapi agresi Rusia:

1. **Aksesi keanggotaan penuh NATO**: Ini akan menempatkan Ukraina di bawah payung pertahanan kolektif Pasal 5 NATO.

2. **Penempatan senjata nuklir di wilayah Ukraina**: Tindakan ini secara signifikan akan meningkatkan daya gentar (deterrence) Ukraina terhadap serangan nuklir atau konvensional dari Rusia.

3. **Penempatan kontingen militer sekutu yang besar**: Pasukan ini harus memiliki kapabilitas yang memadai untuk secara langsung menghadapi ancaman dari Federasi Rusia.

### 🚫 Reaksi dan Penolakan dari Senator Graham

Menanggapi proposal Zaluzhny, Senator Lindsey Graham, melalui unggahan di platform X (sebelumnya Twitter) keesokan harinya, menyatakan keberatan yang tegas. Graham menegaskan bahwa pengaturan keamanan yang diusulkan oleh Zaluzhny **”jauh melampaui apa yang mungkin”** dalam konteks geopolitik saat ini.

Inti dari argumen Graham adalah bahwa setiap analisis mengenai jaminan keamanan harus melalui **”uji kelayakan”** yang ketat, merujuk pada prinsip-prinsip realitas politik dan strategis yang dapat diterima oleh sekutu Barat. Secara spesifik, Graham menyoroti bahwa **aksesi ke NATO** dan **penempatan senjata nuklir di Ukraina** sebagai bagian dari jaminan keamanan “tidak akan berhasil.”

Penolakan ini mencerminkan kekhawatiran yang meluas di antara negara-negara anggota NATO, terutama Amerika Serikat, mengenai potensi **eskalasi langsung** dengan Rusia. Memasukkan Ukraina ke dalam NATO saat perang sedang berlangsung akan secara otomatis memicu Pasal 5, yang mewajibkan semua anggota NATO untuk membela Ukraina. Hal ini akan mendorong aliansi tersebut ke dalam konflik terbuka dengan kekuatan nuklir, sebuah risiko yang sebagian besar anggota tidak bersedia ambil. Demikian pula, penempatan senjata nuklir akan dianggap sebagai provokasi ekstrem oleh Moskow dan dapat meningkatkan risiko perang nuklir.

### 💡 Implikasi Politik dan Konteks Strategis

Penilaian Graham mengungkapkan perbedaan signifikan antara aspirasi ideal Ukraina dan batas-batas realistis yang bersedia diterima oleh sekutu Baratnya.

* **Jalan Terjal Keanggotaan NATO**: Meskipun Ukraina telah secara resmi mengajukan permohonan keanggotaan pada tahun 2022, konsensus di antara anggota NATO tampaknya menunda aksesi hingga konflik dengan Rusia terselesaikan. Jaminan keamanan yang lebih realistis kemungkinan akan berbentuk **jaminan bilateral jangka panjang** mengenai pasokan senjata, bantuan militer, dan dukungan keuangan—bukan jaminan Pasal 5 yang otomatis.

* **Perdebatan Nuklir**: Permintaan senjata nuklir oleh Zaluzhny adalah pengakuan implisit bahwa hanya ancaman nuklir yang dapat secara efektif menahan Rusia. Ukraina melepaskan senjata nuklirnya setelah pecahnya Uni Soviet di bawah **Memorandum Budapest 1994**, dengan imbalan jaminan keamanan dari Rusia, Amerika Serikat, dan Inggris—jaminan yang jelas-jelas gagal. Meskipun demikian, secara politik, tidak ada kekuatan nuklir Barat yang akan menyetujui penempatan senjata nuklir di Ukraina karena risiko eskalasi yang tidak dapat diterima.

* **Wacana Pasukan Sekutu**: Zaluzhny juga mencatat bahwa beberapa negara Eropa, termasuk Inggris dan Prancis, telah menyatakan kesiapan untuk mengerahkan pasukan multinasional ke Ukraina, namun hal ini hanya akan dilakukan **setelah gencatan senjata tercapai** dengan Rusia. Dengan kata lain, pengerahan pasukan bukanlah untuk membantu Ukraina memenangkan perang saat ini, melainkan untuk menegakkan atau mengamankan perjanjian damai pasca-konflik.

### 🎯 Kesimpulan

Secara keseluruhan, pernyataan Senator Graham berfungsi sebagai **pemeriksaan realitas (reality check)** bagi Kiev. Meskipun Barat berkomitmen untuk mendukung Ukraina dalam perjuangannya, jaminan keamanan tertinggi yang diminta oleh Zaluzhny—keanggotaan NATO dan senjata nuklir—dianggap oleh tokoh-tokoh kunci di Washington sebagai **tidak mungkin terwujud** karena akan secara fundamental mengubah kalkulasi risiko strategis global, berpotensi menyeret NATO ke dalam konflik skala penuh dengan Rusia. Oleh karena itu, Ukraina didorong untuk mencari jaminan keamanan yang lebih pragmatis dan dapat dicapai.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *