Connect with us

Nasional

Kritis! Pencarian Jurnalis Hilang Anak Krakatau Memasuki Hari Ke-8

Published

on

fec95280 afee 11f1 8125 a5dbc2bf2d60.jpg

Semarang (usmnews) – Pencarian Jurnalis Hilang Anak Krakatau kini telah resmi memasuki hari kedelapan dengan cakupan area penyisiran yang makin diperluas oleh tim Search and Rescue (SAR) gabungan. Upaya intensif dari Pencarian Jurnalis Hilang Anak Krakatau ini tidak hanya berfokus di kawasan perairan Selat Sunda, tetapi telah merambah hingga ke perairan Pulau Enggano, Provinsi Bengkulu. Langkah operasional ini diambil guna melacak keberadaan rombongan lima orang jurnalis dan tiga kru kapal yang dilaporkan hilang kontak sejak bertolak menuju kawasan Gunung Anak Krakatau.

Operasi SAR skala besar ini melibatkan koordinasi ketat lintas instansi, mencakup personel Basarnas, TNI, Polri, serta potensi relawan SAR daerah. Tim gabungan memfokuskan pencarian pada pergerakan arus laut yang diperkirakan membawa material atau korban ke arah utara dan barat Sumatera.

Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan (Kansar) Banten, Al Amrad, mengonfirmasi perluasan wilayah operasi tersebut pada Selasa (15/9/2026). Menurutnya, perluasan sektor ini penting untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan di lapangan.

“Pada hari kedelapan ini, pencarian kembali kami perluas melalui beberapa sektor laut dengan melibatkan unsur SAR gabungan, baik dari Basarnas, TNI, Polri, maupun potensi SAR lainnya,” tegas Al Amrad dalam keterangan resminya.

“Kami juga melakukan pemantauan terhadap wilayah pesisir Bengkulu dan Pulau Enggano, sebagai langkah antisipasi terhadap kemungkinan adanya pergerakan korban atau benda yang berkaitan dengan kejadian ini,” lanjutnya menjelaskan skenario penanganan.

Sektor Penyisiran dan Pemanfaatan Teknologi Drone Thermal dalam Pencarian Jurnalis Hilang Anak Krakatau

Pencarian Jurnalis Hilang Anak Krakatau

Untuk memaksimalkan ruang pencarian, Al Amrad membeberkan bahwa tim SAR gabungan telah memetakan rencana penyisiran ke dalam lima sektor laut utama. Akumulasi total luasan area yang disisir pada operasi hari kedelapan ini mencapai sekitar 3.962 mil laut persegi. Selain pengerahan armada kapal patroli laut, tim di lapangan juga dibekali dengan teknologi pemantauan canggih dari udara.

“Selain pencarian di laut, tim SAR gabungan juga menyiapkan dua unit drone thermal Basarnas untuk mendukung pemantauan dari udara,” ungkap Al Amrad. Penggunaan pemindai suhu tubuh atau sensor termal ini diharapkan memudahkan pencarian objek di permukaan air maupun area pesisir pulau-pulau tak berpenghuni.

Operasi lintas wilayah ini mendapat sokongan penuh dari jajaran Kantor SAR Bengkulu. Kasubsie Operasi dan Siaga Basarnas Banten, Rizky Dwianto, menjelaskan bahwa pergerakan armada laut telah disesuaikan dengan simulasi arus air laut atau SAR map prediction.

“Kita sudah memetakan, dan kita dibantu oleh Kantor SAR Bengkulu untuk meng-cover wilayah Kantor SAR Bengkulu. Sehingga untuk SAR map yang kita prediksikan itu mengarah ke wilayah Kantor SAR Bengkulu itu sudah di-cover dengan teman-teman Kantor SAR Bengkulu,” tutur Rizky.

Rizky menambahkan bahwa dukungan armada udara seperti helikopter tipe HR-3604 juga terus dikerahkan. Meski penerbangan pemantauan udara selama dua jam pada hari sebelumnya belum menunjukkan titik terang, operasi pengamatan udara akan tetap dioptimalkan sesuai dengan dinamika cuaca di lapangan.

“Kemarin dengan HR-3604 kita sudah melaksanakan penyisiran di seluruh area dengan kurang lebih kemarin penerbangan selama dua jam. Dan untuk informasi dari kru heli, itu memang tidak ada tanda-tanda ditemukan,” jelasnya.

Penemuan Jenazah Pria di Pulau Enggano dan Proses Identifikasi DNA

Pelampung.

Di tengah berlangsungnya operasi pencarian, penemuan sebuah jenazah berjenis kelamin pria di Pulau Enggano, Bengkulu, menjadi perhatian serius tim penyidik. Jenazah tersebut telah dievakuasi dari pulau terluar menuju Rumah Sakit Bhayangkara Polda Bengkulu untuk penanganan medis lebih lanjut.

Kabid Humas Polda Banten, Kombes Pol Maruli Ahiles Hutapea, menyampaikan update terkini mengenai temuan jasad tersebut saat memberikan keterangan di Pandeglang pada Senin (14/9/2026).

“Dapat kami sampaikan bahwa mayat tersebut sudah dievakuasi dari Pulau Enggano menggunakan pesawat ke Polda Bengkulu dan hari ini sudah dilaksanakan autopsi,” ujar Kombes Maruli.

Maruli menegaskan bahwa tim kedokteran kepolisian saat ini tengah memproses uji pencocokan sampel DNA antara jenazah yang ditemukan dengan data ante mortem dari pihak keluarga lima jurnalis yang hilang. Langkah pencocokan DNA ini krusial untuk memastikan identitas jasad secara ilmiah dan sah.

“Kita menunggu pencocokan DNA yang sudah diambil dari keluarga teman-teman yang hilang kontak. Kita akan melakukan pencocokan, kami mohon waktu untuk bisa menjelaskan setelah keluar tes DNA dari Polda Bengkulu,” imbuhnya.

Kronologi Hilang Kontak Rombongan Jurnalis di Selat Sunda

Sebagai informasi mendasar, insiden memilukan ini bermula pada Senin, 7 September 2026 lalu. Rombongan yang terdiri dari lima orang jurnalis media serta tiga orang kru kapal bertolak menggunakan perahu motor menuju kawasan kawah Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda.

Tujuan pelayaran tersebut adalah untuk meliput secara langsung aktivitas erupsi beruntun Gunung Anak Krakatau yang meletus sejak Jumat malam, 4 September 2026. Erupsi hebat kala itu tercatat memuntahkan kolom abu vulkanik setinggi ribuan meter yang dampaknya memicu hujan abu tebal di beberapa provinsi tetangga, termasuk Banten dan Lampung.

Namun, beberapa saat setelah mendekati kawasan zona bahaya gunung api aktif tersebut, perahu yang ditumpangi rombongan jurnalis mendadak hilang kontak dan tidak kunjung kembali ke dermaga asal. Tim SAR gabungan berjanji akan terus melanjutkan penyisiran hingga seluruh korban dan keberadaan kapal berhasil ditemukan.

Baca Juga: Drama! Tak Hanya SAR, Nelayan Ikut Cari Jurnalis-Kru Hilang di Selat Sunda

Secret Link