Blog
Nostalgia Kaesang Pangarep: Dari ‘Anak Presiden Paling Membumi’ ke Dinamika Politik
Semarang (usmnews) – Dikutip dari suara.com, Media sosial X (dahulu Twitter) baru-baru ini dihebohkan oleh gelombang nostalgia yang merujuk pada masa-masa awal jabatan Presiden Joko Widodo.
Fokus kenangan warganet tertuju pada putra bungsunya, Kaesang Pangarep, dan citra kesederhanaan yang ia tampilkan pada saat itu. Diskusi ini bermula dari perbandingan kontras antara Kaesang dengan anak-anak pemimpin negara lain, salah satunya Barron Trump, putra dari mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Perbandingan tersebut menyoroti bagaimana Kaesang, yang merupakan anak dari pemimpin negara dengan kekuatan politik besar, mampu menampilkan persona yang sangat merakyat dan jauh dari kesan eksklusif atau glamor yang biasa melekat pada lingkaran Istana.
MisterKacang dan Identitas Digital yang Membumi
Puncak nostalgia ini direspons oleh berbagai akun, termasuk @ardi_tama1, yang menegaskan kembali pandangan populer tersebut. Dalam cuitan yang menjadi viral, Kaesang Pangarep diakui sebagai “anak presiden paling ‘membumi’ pada masanya”.
Pengakuan ini tidak terlepas dari jejak digital Kaesang di periode awal ayahnya menjabat. Ia aktif mengembangkan citra dirinya melalui platform yang sangat digemari anak muda: blog dan YouTube. Blognya, yang dikenal sebagai MisterKacang, serta konten-konten video yang ia produksi, dianggap sebagai “hal keren” yang dilakukan oleh anak seusianya pada masa itu.
Aktivitas Kaesang di media sosial secara efektif menciptakan relatability atau kedekatan emosional yang kuat dengan masyarakat biasa. Kontennya cenderung ringan, jujur, dan tidak berjarak, sebuah branding personal yang sangat unik bagi seorang anak presiden di Indonesia—sebelumnya, anak-anak kepala negara umumnya cenderung menjaga privasi dan minim interaksi langsung dengan publik.
Citra ini menghasilkan kekaguman massal karena ia dianggap berhasil mendobrak stigma eksklusivitas.
Perubahan Persepsi dan Sorotan Publik
Namun, diskusi nostalgia ini tidak berhenti pada pujian semata. Pergeseran karir Kaesang di tahun-tahun berikutnya menjadi titik refleksi dan kegelisahan di kalangan netizen. Viralitas cuitan tersebut menjadi ruang untuk mengungkapkan rasa kehilangan dan kekecewaan terhadap perubahan drastis dalam citra publiknya, terutama setelah Kaesang secara terbuka memasuki ranah politik praktis.
Netizen secara blak-blakan menyuarakan pertanyaan retoris tentang kemungkinan yang terlewat: “Kira-kira apa yang terjadi jika Kaesang tetap jadi YouTuber/streamer alih-alih maju ke politik?” Pertanyaan ini menyiratkan kerinduan akan sosok Kaesang yang non-politik.
Komentar lain menyoroti bagaimana “Semua berubah setelah periode kedua” jabatan Presiden Jokowi, menandakan bahwa transisi Kaesang dari influencer menjadi politisi dianggap sebagai akhir dari “era kesederhanaan” tersebut.
Pandangan ini menunjukkan bahwa publik menghargai kemunculannya yang unik sebagai anak presiden yang “relate” dengan masyarakat, dan memandang perubahan haluan tersebut sebagai tindakan yang—menurut sebagian netizen—menyimpang dari persona awal yang dicintai.
Frasa seperti “Siapa yang ngira juga modelan gitu sekarang berubah malah jadi, ah sudahlah,” menggambarkan ambivalensi dan sedikit penyesalan atas perkembangan karir Kaesang saat ini.
Intinya, diskusi viral ini adalah cerminan dari ekspektasi publik terhadap integritas dan autentisitas seorang figur publik, di mana Kaesang, yang dulunya adalah simbol anti-kemapanan birokrasi, kini dilihat sebagai bagian dari struktur politik yang sebelumnya ia hindari.