Lifestyle
Kebiasaan Ngorok Saat Tidur Bisa Picu Stroke dan Gangguan Otak

Semarang (usmnews) – Banyak orang menganggap kebiasaan mendengkur sebagai hal biasa saat seseorang beristirahat. Namun, para ahli saraf justru memperingatkan masyarakat mengenai ancaman fatal di balik kondisi tersebut. Kebiasaan ngorok saat tidur bisa picu stroke serta penyakit berbahaya lain seperti demensia. Fenomena medis ini berkaitan erat dengan gangguan pernapasan serius yang merusak kualitas tidur manusia. Oleh karena itu, penderita wajib mewaspadai gejala ini demi mencegah kerusakan fungsi kognitif otak sejak dini.
Hubungan Obstructive Sleep Apnea dengan Gejala Mendengkur Keras
Kepala Neurologi Manipal Hospital, Dr. Pramod Krishnan, memaparkan fakta ilmiah mengenai bahaya mendengkur. Beliau menjelaskan bahwa ngorok saat tidur bisa picu stroke jika terjadi akibat obstructive sleep apnea (OSA). Gangguan tidur ini menyebabkan saluran napas bagian atas tersumbat secara total sepanjang malam. Akibatnya, pasokan oksigen menuju otak menurun drastis dan mengganggu kenyamanan istirahat penderita. Selain mendengkur keras, penderita OSA biasanya mengeluhkan rasa kantuk yang berlebihan pada siang hari.
“Semakin banyak bukti ilmiah menunjukkan bahwa mendengkur bukanlah hal yang bisa dianggap sepele. Kondisi ini dapat menjadi tanda gangguan tidur serius yang disebut obstructive sleep apnea,” kata Krishnan.

Penderita juga sering mengalami sakit kepala akut saat terbangun dari tidur di pagi hari. Kondisi tersebut terjadi karena tubuh tidak mendapatkan waktu istirahat yang berkualitas selama malam hari. Efek lanjutannya, penderita menjadi sangat mudah mengantuk serta sulit memfokuskan perhatian saat beraktivitas. Namun, Krishnan menjelaskan bahwa mendengkur tanpa keluhan penyerta umumnya tidak terlalu mengkhawatirkan bagi kesehatan. Jika muncul bersamaan dengan gejala lain, pemeriksaan ke dokter spesialis sangat penting untuk Anda lakukan.
Mengapa Gangguan Ngorok Saat Tidur Bisa Picu Stroke dan Kerusakan Saraf?
Penurunan kadar oksigen secara berulang membuat organ otak mengalami stres oksidatif yang sangat tinggi. Kondisi buruk ini memicu peradangan hebat dan merusak sel-sel saraf pada pusat memori manusia. “Pada penderita OSA, tidur menjadi terfragmentasi karena kadar oksigen darah berulang kali turun akibat sumbatan pada saluran napas bagian atas,” ujar Krishnan. Kerusakan sel saraf inilah yang pada akhirnya memicu serangan stroke penyumbatan pembuluh darah otak.
Berbagai penelitian ilmiah juga membuktikan bahwa penderita OSA mengalami penurunan kemampuan berpikir secara drastis. Kecepatan memproses informasi serta daya ingat penderita melemah akibat kurangnya kualitas tidur yang mendalam. Maka dari itu, penanganan medis yang cepat dan tepat akan menyelamatkan penderita dari risiko kelumpuhan.
Metode Pengobatan Medis dan Cara Mengatasi Gangguan Apnea Tidur
Penderita harus segera berkonsultasi dengan dokter spesialis untuk mendapatkan diagnosis klinis yang akurat. Krishnan menyarankan terapi utama menggunakan alat Continuous Positive Airway Pressure (CPAP) saat pasien tidur. Alat medis ini bekerja efektif menjaga saluran pernapasan tetap terbuka lebar sepanjang malam. Selain itu, penderita juga wajib menurunkan berat badan guna mengurangi penyumbatan pada jaringan leher. Gaya hidup sehat dan olahraga teratur akan mempercepat proses penyembuhan gangguan tidur berbahaya ini.








