Connect with us

Nasional

Lumpuhnya Sukapura: Banjir Surut, Sisakan Lumpur dan Kecemasan Warga

Published

on

Semarang (usmnews) – Dikutip dari sindonews.com Awal pekan yang seharusnya menjadi momentum untuk memulai aktivitas produktif, justru berubah menjadi perjuangan berat bagi ratusan warga di kawasan Sukapura, Jakarta Utara. Pada Senin pagi, 19 Januari 2026, Jalan Lestari 8, khususnya di wilayah RT 02 RW 10, masih tergenang air yang melumpuhkan mobilitas. Meskipun intensitas air dilaporkan mulai berangsur surut dibandingkan kondisi puncak sebelumnya, ketinggian genangan yang bervariasi antara 20 hingga 60 sentimeter masih cukup signifikan untuk mengganggu roda kehidupan warga setempat. Dampak Pendidikan dan Aktivitas Harian. Dampak sosial dari banjir ini sangat terasa pada sektor pendidikan.

Anak-anak sekolah di lingkungan tersebut terpaksa tidak dapat menuntut ilmu seperti biasa. Pihak sekolah dan orang tua memutuskan untuk meliburkan para siswa mengingat akses jalan yang tertutup air dan kondisi lingkungan yang tidak kondusif. Risiko kesehatan dan keselamatan menjadi prioritas utama, sehingga kegiatan belajar mengajar harus dihentikan sementara hingga situasi benar-benar pulih. Keheningan pagi yang biasanya diwarnai hiruk-pikuk anak sekolah kini berganti dengan kesibukan warga memantau debit air. Tantangan Pasca-Banjir: Endapan Lumpur Hitam. Ketika air mulai surut, penderitaan warga belum berakhir.

Justru, fase ini memunculkan tantangan baru yang melelahkan: pembersihan sisa banjir. Air yang surut meninggalkan jejak berupa endapan lumpur hitam yang pekat, baik di jalanan lingkungan maupun yang masuk hingga ke dalam rumah. Warga harus mengerahkan tenaga ekstra untuk membersihkan lantai dan perabotan mereka dari kotoran yang terbawa arus, sembari tetap waspada terhadap kemungkinan air naik kembali. Aroma tidak sedap dan licinnya lumpur menjadi kendala sanitasi yang harus segera ditangani untuk mencegah penyakit kulit maupun gangguan kesehatan lainnya. Katam, salah satu warga setempat, memberikan gambaran nyata mengenai situasi di lapangan. Menurut kesaksiannya, meskipun pagi ini air mulai turun, ketinggian air sebelumnya sempat mencapai lutut orang dewasa di dalam rumah.

Bahkan, di beberapa titik lokasi kerabatnya, air sempat merendam hingga setinggi pinggang. Kondisi yang tidak menentu ini memaksa sebagian besar warga untuk tetap bertahan di posko pengungsian atau menumpang di rumah kerabat yang dataran tanahnya lebih tinggi. Keputusan untuk tidak segera kembali ke rumah didasari oleh rasa trauma dan kekhawatiran bahwa hujan susulan akan kembali turun dan memicu naiknya debit air, mengingat cuaca yang sulit diprediksi. Banjir yang melanda Sukapura ini diidentifikasi sebagai akibat dari meluapnya Kali Cakung Lama. Sungai tersebut tidak mampu menampung debit air kiriman dan curah hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur wilayah tersebut sebelumnya.

Luapan air dari “atas” ini dengan cepat merendam permukiman yang berada di dataran lebih rendah. Di tengah kelelahan fisik dan mental menghadapi bencana yang kerap berulang ini, terselip harapan besar dari warga kepada pemerintah daerah. Mereka mendesak adanya penanganan infrastruktur yang lebih serius dan berkelanjutan, bukan sekadar solusi sementara. Normalisasi sungai, perbaikan drainase, dan manajemen pompa air menjadi tuntutan utama agar setiap kali musim hujan tiba, warga Sukapura tidak lagi harus hidup dalam bayang-bayang banjir dan pengungsian.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *