Connect with us

International

Ketika Pemangsa Menjadi Mangsa: Kisah Ironis Perampokan Berantai di India

Published

on

Semarang (usmnews) -Dikutip dari SindoNews.com Dunia kriminal sering kali menyajikan kisah-kisah yang tak terduga, namun peristiwa yang baru-baru ini terjadi di India mungkin adalah salah satu contoh paling menggelikan dari istilah “karma instan”. Sebuah insiden yang terjadi di kawasan Avalahalli, Bengaluru timur, telah menarik perhatian publik dan aparat kepolisian setempat karena alur ceritanya yang menyerupai naskah film komedi gelap. Inti dari kejadian ini adalah nasib sial seorang perampok yang baru saja sukses melakukan aksinya, namun hanya beberapa menit kemudian justru menjadi korban perampokan oleh komplotan penjahat lain.

Kronologi peristiwa bermula pada tanggal 22 November, ketika seorang pria berusia 30 tahun bernama Isayi Raja, yang teridentifikasi sebagai warga Amruthahalli, merencanakan aksi pencurian. Raja telah melakukan pengintaian terhadap sebuah rumah milik keluarga di Manduru, dekat Avalahalli. Ia dengan sabar menunggu hingga larut malam, memastikan bahwa keluarga tersebut telah meninggalkan kediaman mereka.

Memanfaatkan celah keamanan yang minim, Raja berhasil menyusup masuk ke dalam rumah melalui sebuah jendela yang tertinggal dalam kondisi sedikit terbuka. Di dalam rumah tersebut, ia sukses menggasak sejumlah perhiasan emas dengan nilai total mencapai 1,75 lakh rupee atau setara dengan sekitar Rp32 juta.

Setelah merasa sukses dengan hasil jarahannya, Raja bergegas meninggalkan lokasi kejadian. Ia menuju ke sebuah area pemakaman di dekat lokasi untuk mengambil sepeda motor yang telah ia parkir sebelumnya sebagai sarana melarikan diri. Namun, di tempat yang sunyi inilah nasibnya berbalik 180 derajat. Tanpa disadari oleh Raja, gerak-geriknya ternyata telah dipantau oleh sebuah komplotan geng lain yang terdiri dari empat pemuda.

Keempat pemuda tersebut—yang kemudian diidentifikasi oleh polisi sebagai Mounesh Rao, Darshan M, Chandan R, dan Sunil M, dengan rentang usia antara 20 hingga 23 tahun—segera mencegat Raja di area pemakaman tersebut. Menggunakan modus seolah-olah sedang menginterogasi, mereka justru memojokkan Raja. Dalam hitungan menit, perhiasan emas yang baru saja dicuri Raja berpindah tangan. Raja, yang tadinya adalah seorang pelaku kriminal, seketika berubah posisi menjadi korban kejahatan di tangan komplotan yang lebih agresif.

Ironisnya, setelah insiden perampokan ganda tersebut, Raja tidak langsung jera atau melarikan diri sejauh mungkin. Laporan menyebutkan bahwa setelah keempat perampok itu pergi, Raja justru berniat menargetkan rumah-rumah lain, sebuah keputusan nekat yang menunjukkan betapa gelap matanya ia pada harta. Namun, sepandai-pandainya tupai melompat, akhirnya jatuh juga. Pihak kepolisian yang menerima laporan mengenai aktivitas mencurigakan dan tindak kejahatan di area tersebut bergerak cepat.

Penyelidikan intensif yang dilakukan oleh aparat kepolisian akhirnya membuahkan hasil yang gemilang sekaligus menggelikan. Polisi berhasil membekuk Isayi Raja atas tindak pencurian yang dilakukannya. Tidak berhenti di situ, pengembangan kasus ini juga menuntun polisi kepada jejak keempat pemuda yang merampok Raja. Dalam waktu singkat, kelima pelaku—baik perampok pertama maupun empat perampok kedua—berhasil diamankan. Kini, kelima pria tersebut harus mendekam di balik jeruji besi, merenungi nasib mereka dalam sebuah rantai kejahatan yang berakhir antikejadian, di mana tidak ada satu pun dari mereka yang sempat menikmati hasil curian tersebut.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *