Connect with us

Nasional

Kental Nuansa Toleransi, Warga Getasan Gelar Tradisi Maaf-Memaafkan Layaknya Lebaran Saat Waisak

Published

on

Semarang (usmnews) – Perayaan Waisak di Dusun Thekelan, Desa Batur, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang menampilkan pemandangan yang sangat berbeda pada tahun ini. Seluruh lapisan masyarakat setempat menunjukkan potret toleransi beragama yang sangat kuat. Umat Buddha dan warga non-Buddha kompak membaur untuk menciptakan suasana kedamaian yang mendalam.

Warga lintas iman di kawasan lereng gunung tersebut menggelar tradisi bersalaman hingga bersilaturahmi ke rumah-rumah. Nuansa persaudaraan tersebut terasa sangat kental layaknya momen perayaan Idul Fitri bagi umat Muslim. Peringatan hari besar keagamaan ini terpusat secara khidmat di area sekitar Vihara Buddha Bhumika.

Kepala Dusun Thekelan, Supriyo, menyatakan bahwa seluruh elemen masyarakat terlibat aktif dalam menyukseskan agenda tahunan tersebut. Kelompok pemuda, petugas linmas, hingga pemuka agama non-Buddha bersinergi menjaga keamanan lokasi ibadah. Mereka memastikan seluruh rangkaian ritual keagamaan berjalan dengan aman dan lancar.

Momen Haru Umat Lintas Agama Saling Bermaafan di Gerbang Vihara

Sementara itu, ratusan warga tampak berbaris mengular di sepanjang jalan menuju gerbang utama tempat ibadah. Masyarakat non-Buddha sengaja berdiri rapi guna menyambut kedatangan para umat Buddha yang baru selesai melaksanakan prosesi sembahyangan. Mereka langsung berjabat tangan untuk memberikan ucapan selamat hari raya.

Suasana haru seketika pecah saat para tetangga saling berpelukan dan meminta maaf atas segala kekhilafan. Beberapa warga bahkan tidak mampu membendung air mata kebahagiaan mereka di tengah kerumunan masyarakat. Pemandangan indah ini merefleksikan kedewasaan masyarakat dalam merawat keberagaman di tanah air.

Selanjutnya, sejumlah warga juga memperlihatkan aksi sungkem sebagai bentuk penghormatan kepada orang yang lebih tua. Seorang pria berpeci tampak bersungkem dengan tulus di depan seorang nenek berkebaya putih. Sinergi emosional ini membuktikan bahwa perbedaan keyakinan tidak menjadi penghalang untuk tetap saling menghormati.

Tradisi Open House dan Makan Bersama yang Merawat Kerukunan

Sebelum matahari bergeser ke barat, kemeriahan perayaan Waisak berlanjut dengan agenda kunjungan ke rumah tinggal warga. Keluarga umat Buddha membuka pintu rumah mereka lebar-lebar melalui penyediaan hidangan khas pedesaan. Mereka mengundang umat Muslim, Kristen, dan Katolik untuk datang bertamu dan menikmati makan bersama.

Lebih lanjut, Supriyo menegaskan bahwa tradisi luhur ini sudah mengakar kuat sejak zaman nenek moyang mereka. Warga menjalankan kebiasaan baik ini murni atas dasar kesadaran pribadi tanpa adanya paksaan dari pihak luar. Sikap saling menghargai tersebut juga selalu terjaga dalam aktivitas kehidupan bertetangga sehari-hari.

Akhirnya, agenda silaturahmi akbar di dusun tersebut resmi berakhir seiring selesainya jam kunjungan rumah. Kerukunan yang terjaga di wilayah Getasan ini layak menjadi contoh nyata bagi daerah lain di Indonesia. Pemeliharaan toleransi sejak dini akan terus melahirkan lingkungan sosial yang aman dan damai.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *