International
Drama di Ketinggian 123 Meter: Sambaran Petir Lumpuhkan Bianglala Osaka, 20 Pengunjung Terjebak Selama 9 Jam

Jakarta (usmnews) – Dikutip dari detiktravel, Sebuah insiden mendebarkan terjadi di kawasan hiburan populer Expocity, kota Suita, Osaka, Jepang, yang mengubah momen rekreasi menjadi pengalaman bertahan hidup yang menegangkan.
Wahana bianglala raksasa setinggi 123 meter—yang dikenal sebagai salah satu daya tarik utama kawasan tersebut—mengalami kelumpuhan total secara tiba-tiba akibat cuaca buruk. Peristiwa ini memaksa 20 orang pengunjung untuk bertahan di dalam gondola gantung selama kurang lebih sembilan jam sebelum akhirnya berhasil dievakuasi dengan selamat.
Berdasarkan laporan yang dirilis oleh Japan Today pada Kamis (27/11/2025), mimpi buruk ini bermula pada hari Selasa (25/11) sore. Sekitar pukul 17.47 waktu setempat, saat badai petir yang hebat melanda wilayah tersebut, wahana tersebut berhenti mendadak.

Diduga kuat, sambaran petir menyambar di sekitar lokasi atau bahkan mengenai struktur wahana, yang memicu gangguan fatal pada sistem kelistrikan. Akibatnya, puluhan pengunjung yang tersebar di sembilan gondola berbeda terperangkap di ketinggian tanpa kepastian kapan mereka akan turun.
Situasi di dalam gondola menjadi semakin tidak nyaman dan berpotensi berbahaya karena durasi terjebak yang sangat lama. Selain kepanikan akibat ketinggian dan badai, para penumpang juga harus menghadapi suhu udara yang tidak terkondisikan. Hal ini dikarenakan sistem kelistrikan yang mati turut melumpuhkan fasilitas pemanas dan pendingin ruangan di dalam kabin gondola.
Sesaat setelah kejadian, staf operasional wahana berupaya melakukan penanganan darurat. Mereka mencoba memutar poros roda raksasa tersebut secara manual untuk menurunkan penumpang ke peron evakuasi.
Sayangnya, proses manual ini berjalan sangat lambat dan tidak efisien mengingat kondisi cuaca dan teknis yang ada. Menyadari situasi yang semakin mendesak, pihak pengelola akhirnya meminta bantuan profesional dari petugas pemadam kebakaran dan tim tanggap darurat setempat.
Operasi penyelamatan berlangsung dramatis hingga larut malam. Tim penyelamat bekerja keras mengevakuasi satu per satu penumpang dari ketinggian. Penumpang terakhir baru berhasil menapakkan kaki di tanah dengan selamat pada pukul 02.41 dini hari, hari Rabu, menandai berakhirnya drama penyanderaan oleh cuaca tersebut. Beruntung, laporan resmi menyatakan tidak ada korban yang mengalami cedera fisik dalam insiden ini.
Takeshi Niwa, manajer hubungan masyarakat (Humas) dari perusahaan operator bianglala, memberikan keterangan bahwa investigasi mendalam sedang dilakukan. Fokus utama penyelidikan adalah untuk memastikan apakah petir menyambar struktur kincir secara langsung atau hanya memengaruhi jaringan di sekitarnya.

Niwa menjelaskan bahwa meskipun pasokan listrik komersial sempat pulih tak lama setelah badai mereda, wahana tetap tidak dapat dioperasikan. Hal ini disebabkan oleh kerusakan parah pada sistem manajemen daya yang mengatur operasional kincir, yang juga menjadi alasan utama mengapa penyelamatan memakan waktu sangat lama.
Hingga saat ini, belum ada kepastian kapan wahana ikonik di Expocity ini akan dibuka kembali untuk umum. Kerusakan pada sistem vital dinilai cukup parah, dan pihak manajemen tengah melakukan tinjauan menyeluruh terhadap prosedur tanggap darurat mereka untuk mencegah kejadian serupa terulang di masa depan.







