Connect with us

USM News

Memanasnya Hubungan Cina dan Jepang Akibat Kebijakan Kontrol Ekspor

Published

on

images 23 1 1

Semarang (usmnews) – Pemerintah Beijing saat ini sedang memperketat aturan perdagangan internasional secara sangat sepihak. Kebijakan ekonomi yang tegas ini memperburuk Hubungan Cina dan Jepang yang sudah memanas sejak tahun lalu. Sementara itu, Perdana Menteri Jepang bernama Sanae Takaichi secara langsung mengisyaratkan kesiapan militer mereka. Jepang berjanji akan melakukan intervensi militer jika Cina menyerang wilayah kedaulatan independen Taiwan. Oleh karena itu, Tokyo segera mempercepat pengembangan kekuatan angkatan bersenjata untuk menghadapi ancaman nyata. Langkah ofensif dari pihak Jepang tersebut tentu saja membuat para pejabat Beijing menjadi semakin berang.

Dampak Kontrol Dagang Ekonomi terhadap Hubungan Cina dan Jepang

Kementerian Perdagangan Cina pada hari Senin memutuskan memasukkan dua puluh entitas Jepang ke daftar hitam. Selain itu, aturan baru ini secara resmi melarang penjualan barang berfungsi ganda kepada entitas dagang. Barang berfungsi ganda tersebut meliputi berbagai macam perangkat keras untuk kepentingan sipil maupun militer negara. Sebab itu, korporasi besar berskala global seperti Mitsubishi Corporation kini menghadapi hambatan besar dalam berbisnis. Selanjutnya, pemerintah Beijing juga mengawasi secara ketat pergerakan bisnis perusahaan seperti Mitsui, Fujitsu, dan Komatsu. Pihak berwenang mewajibkan semua perusahaan lokal mengajukan izin khusus yang ketat sebelum melakukan proses ekspor. Bahkan, mereka harus menyerahkan laporan penilaian risiko bisnis secara komprehensif kepada kementerian perdagangan negara tersebut.

images 22 1

Pesan Diplomatik Kuat dan Isu Sensitif Kedaulatan Wilayah Taiwan

Pemerintah Beijing mengklaim secara sepihak bahwa kebijakan kontrol ekspor ini sepenuhnya memiliki dasar hukum kuat. Namun, Juru Bicara Utama Pemerintah Jepang secara tegas menilai pembatasan tersebut sebagai tindakan sangat provokatif. Tokyo menganggap keputusan pembatasan ekonomi ini sangat merugikan pihak mereka dan memperburuk stabilitas keamanan regional. Meskipun demikian, Kepala Sekretaris Kabinet Minoru Kihara berjanji akan segera menyiapkan langkah balasan setimpal segera. Lebih lanjut, militer Jepang terus menempatkan sistem rudal jarak jauh pada berbagai pulau terpencil mereka. Akibatnya, pengerahan peluncur rudal tipe baru tersebut memicu respons perlawanan yang sangat keras dari Cina. Dengan demikian, perselisihan perihal kebijakan ekspor ini berpotensi besar memicu konflik bersenjata berskala cukup besar.

images 24 2

Para pengamat politik menilai pembatasan dagang sepihak ini sebagai pesan diplomatik yang sangat kuat sekali. Oleh karena itu, masa depan Hubungan Cina dan Jepang berpotensi tetap rapuh dalam jangka waktu pendek. Apalagi, pemerintah Beijing menganggap isu kedaulatan kepulauan Taiwan sebagai persoalan politik yang paling sensitif saat ini. Cina berkomitmen penuh merebut kembali pulau mandiri tersebut walaupun mereka harus mengerahkan semua kekuatan militer. Sebaliknya, beberapa negara barat seperti Inggris, Jerman, dan Prancis langsung mengecam aktivitas patroli militer Cina. Pada akhirnya, dunia internasional bersatu menolak segala upaya paksa yang bertujuan mengubah status quo wilayah. Perkembangan aliansi pertahanan baru ini pada akhirnya terus mengubah dinamika Hubungan Cina dan Jepang secara signifikan.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Secret Link