Connect with us

Entertainment

Curahan Hati Aurelie Moeremans Usai Diancam Akibat Rilis Buku Broken Strings

Published

on

Semarang (usmnews) – Dikutip dari cnnindonesia.com Keputusan mantan aktris Aurelie Moeremans untuk membuka lembaran hitam masa lalunya melalui sebuah buku memoar ternyata berbuntut panjang. Alih-alih mendapatkan ketenangan setelah berbagi kisah, Aurelie justru mengaku kembali menerima gangguan dari pihak tertentu yang merasa tersinggung dengan isi tulisannya. Buku digital bertajuk Broken Strings yang ia bagikan secara cuma-cuma di media sosial tersebut, sejatinya diniatkan sebagai media penyembuhan diri dan berbagi pengalaman tanpa menyudutkan individu tertentu secara spesifik.

‎Dalam memoar tersebut, Aurelie menumpahkan pengalaman traumatisnya saat masih berusia 15 tahun. Ia menceritakan secara gamblang bagaimana dirinya diduga menjadi korban grooming atau upaya pendekatan manipulatif oleh seorang pria dewasa yang usianya hampir dua kali lipat darinya kala itu. Aurelie menggambarkan hubungan tersebut penuh dengan kontrol berlebih, manipulasi psikologis, hingga kekerasan yang membuatnya terperangkap dalam situasi yang menyiksa sebelum akhirnya perlahan berhasil membebaskan diri.

‎Respons Defensif dan Gangguan Balik

‎Meski Aurelie menegaskan bahwa tulisannya tidak menyebutkan nama siapa pun dan murni bertujuan untuk berbagi agar orang lain tidak mengalami hal serupa, respons yang ia terima justru sebaliknya. Dalam salah satu kolom komentar unggahannya, Aurelie menyindir adanya pihak yang “merasa” tersindir dan kemudian melancarkan gangguan terhadap dirinya. Ia menegaskan bahwa selama ini dirinya memilih diam, namun diamnya tersebut adalah sebuah pilihan sadar, bukan kewajiban. Ia memperingatkan bahwa kesabarannya memiliki batas dan tindakan mengganggu tersebut justru bisa menjadi bumerang bagi pelakunya.

‎Aurelie bahkan sempat mengunggah konten video yang menunjukkan dirinya menggunakan teknologi kecerdasan buatan, ChatGPT, untuk memverifikasi keabsahan dokumen pernikahan yang selama ini dijadikan senjata oleh pihak lawan untuk membuktikan status pernikahan mereka. Hal ini merujuk pada isu pernikahan siri yang terjadi pada tahun 2011, di mana Aurelie yang saat itu berusia 18 tahun dikabarkan menikah secara paksa tanpa kehadiran orang tua dan tanpa catatan negara.

‎Sorotan Publik Tertuju pada Sosok Roby Tremoti

‎Narasi dalam buku Broken Strings mau tidak mau menyeret kembali ingatan publik pada sosok musisi Roby Tremoti, mantan kekasih Aurelie. Berdasarkan pemberitaan media, deskripsi mengenai kekerasan, ancaman saat menolak hubungan intim, hingga pernikahan paksa yang ditulis Aurelie sangat identik dengan riwayat hubungannya dengan Roby di masa lalu.

‎Dukungan publik pun mengalir deras untuk Aurelie. Warganet beramai-ramai memberikan simpati dan kesaksian di kolom komentar. Salah satu warganet bahkan membagikan kenangan pilu saat melihat ibunda Aurelie menangis di sebuah studio rekaman karena dihalangi untuk bertemu putrinya yang saat itu masih remaja. Komentar-komentar ini memperkuat dugaan publik mengenai betapa toksiknya hubungan yang dijalani Aurelie saat itu.

‎Di sisi lain, Roby Tremoti turut bereaksi melalui media sosialnya. Ia mengeluhkan banyaknya komentar liar yang dianggapnya sebagai fitnah keji yang bertujuan untuk membunuh karakternya. Kendati demikian, gelombang dukungan terhadap Aurelie tampaknya jauh lebih besar, dengan banyak pihak yang memuji keberaniannya untuk akhirnya bersuara melawan trauma masa lalu dan menghadapi ancaman yang masih membayanginya hingga kini.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *