Lifestyle
Berani Tampil Beda: Gen Z Paling Vokal Perjuangkan Kenaikan Gaji di Dunia Kerja

Semarang (usmnews) – Dikutip dari CNBC, Dinamika dunia kerja di Indonesia saat ini menunjukkan sebuah pergeseran tren yang sangat menarik, khususnya terkait karakteristik antargenerasi. Berdasarkan riset terbaru, pekerja dari kalangan Generasi Z (Gen Z) terbukti menjadi kelompok demografi yang paling berani dan proaktif dalam menyuarakan hak finansial mereka, terutama ketika harus berdiskusi mengenai kenaikan gaji dengan pihak manajemen. Fenomena asertif ini berbanding terbalik dengan kecenderungan pekerja senior yang lebih banyak memilih untuk pasrah dan menerima nominal kompensasi mereka apa adanya.

Dominasi Anak Muda dalam Negosiasi Kompensasi
Fakta menarik ini diungkap secara detail dalam laporan Salary Pulse 2026 yang dirilis oleh Jobstreet by SEEK. Data statistik dari laporan tersebut secara jelas memaparkan perbandingan keberanian di antara masing-masing generasi pekerja:
- Gen Z: Sebanyak 60% pekerja muda dari generasi ini berinisiatif untuk membuka diskusi seputar kenaikan gaji secara langsung kepada atasan atau departemen Sumber Daya Manusia (SDM).
- Milenial: Menyusul di posisi kedua dengan angka partisipasi sebesar 55%.
- Gen X: Berada di posisi terbawah dengan persentase keberanian hanya menyentuh angka 37%.
Managing Director Jobstreet by SEEK Indonesia, Wisnu Dharmawan, menyatakan bahwa tingginya rasa percaya diri Gen Z untuk bernegosiasi merupakan salah satu sorotan utama dalam survei tahun ini.
“Di antara seluruh kelompok pekerja, anak-anak muda dari Gen Z ini adalah yang paling berani untuk mengambil inisiatif dan memulai percakapan mengenai penyesuaian upah kerja mereka,” papar Wisnu dalam acara pemaparan hasil riset di kantor JobStreet Jakarta, Selasa (23/6/2026).
Paradoks Pekerja Senior: Gen X Sering Mengeluh Namun Enggan Bertindak

Situasi proaktif yang ditunjukkan Gen Z rupanya memunculkan sebuah ironi jika disandingkan dengan sikap Generasi X. Menurut Wisnu, pekerja dari kalangan senior ini sering kali merasa bahwa kompensasi yang mereka terima masih belum memadai, namun sayangnya mereka tidak memiliki keberanian yang cukup untuk menyampaikannya secara formal kepada perusahaan.
“Generasi X ini mungkin lebih banyak mengeluh atau ngedumel. Biasanya keluhan itu hanya menjadi bahan omongan santai di jam istirahat atau makan siang, tetapi ketika harus bicara langsung kepada atasan, mereka kehilangan keberanian,” ungkap Wisnu seraya berkelakar.
Berdasarkan survei tersebut, tercatat hanya sekitar 41% pekerja Gen X yang merasa bahwa gaji mereka sudah berada di angka yang layak. Angka kepuasan ini nyatanya lebih rendah jika dibandingkan dengan Gen Z dan Milenial, di mana keduanya sama-sama mencatatkan tingkat kepuasan kompensasi di angka 49%.
Ironisnya, dari segi nominal penghasilan riil, Gen X sebenarnya mengantongi pendapatan yang lebih tinggi. Hampir setengah dari responden Gen X (sekitar 49%) memiliki penghasilan bulanan di atas Rp8.000.000, sebuah angka yang lebih tinggi dari rata-rata pasar yang hanya menyentuh 43%.
Wisnu menganalisis bahwa rasa ketidakpuasan Gen X ini lebih banyak didorong oleh sentimen ketidakadilan. Mereka cenderung membandingkan beban tanggung jawab serta pengalaman kerja yang mereka miliki dengan rekan kerja yang lebih junior. Selain itu, rasa canggung dan tidak nyaman untuk meminta kenaikan gaji juga menjadi faktor penahan utama bagi generasi ini.
Taktik Cerdik dan Tingkat Kesuksesan Gen Z
Di sisi lain, meskipun rata-rata masih berada di fase awal perjalanan karier, sebanyak 60% Gen Z merasa sangat nyaman ketika harus menyuarakan ekspektasi finansial mereka. Keberanian ini tidak hanya berhenti pada permintaan awal saja. Mereka juga memiliki strategi negosiasi cadangan jika penawaran dari perusahaan ternyata tidak sesuai dengan harapan:
- 28% responden Gen Z akan bersikeras untuk melakukan tawar-menawar atau negosiasi ulang secara alot dengan atasan atau tim HRD.
- 28% responden Gen Z lainnya akan beralih taktik dengan meminta kompensasi dalam bentuk lain, seperti tambahan fasilitas perusahan dan tunjangan di luar gaji pokok.
Sikap percaya diri ini ternyata membuahkan hasil yang luar biasa manis. Statistik membuktikan bahwa Gen Z adalah generasi yang paling banyak menerima persetujuan kenaikan gaji dalam rentang waktu 12 bulan terakhir, yakni menyentuh angka 72%. Persentase keberhasilan ini sukses melampaui rata-rata kenaikan gaji pekerja Indonesia secara nasional yang hanya berada di level 62%.
“Melihat kesuksesan ini, sepertinya Gen X memang harus mulai menurunkan gengsi dan belajar banyak dari keberanian Gen Z,” tambah Wisnu memberikan saran.
Sebagai informasi, riset komprehensif Salary Pulse 2026 ini dihimpun pada bulan Februari 2026 dengan melibatkan 1.010 responden pekerja di seluruh Indonesia, yang tersebar dalam rentang usia 18 hingga 64 tahun. Sebagai penutup, hasil survei juga menyingkap sebuah fakta membahagiakan: meskipun secara nominal rata-rata gaji Gen Z masih lebih rendah dari pekerja senior, sebanyak 65% dari mereka mengaku sangat puas dengan kompensasi yang diterima, dan 49% merasa bahwa upah tersebut sudah sangat layak dan sepadan dengan beban kerja mereka.







