Lifestyle
Bahaya Tersembunyi di Balik Konsumsi Protein Berlebihan: Memahami Risiko bagi Kesehatan Tubuh
Semarang (usmnews) – Dikutip dari SINDOnews, Protein sering kali dipuja sebagai “nutrisi super,” terutama bagi mereka yang aktif berolahraga atau sedang menjalani program pembentukan otot. Perannya memang krusial; mulai dari memperbaiki jaringan tubuh yang rusak, mendukung sistem metabolisme, hingga menjadi bahan baku utama dalam pembentukan massa otot.
Namun, pepatah lama yang mengatakan bahwa “segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik” sangat berlaku dalam hal asupan protein. Mengonsumsi protein melampaui batas kebutuhan harian secara terus-menerus ternyata dapat mendatangkan berbagai komplikasi kesehatan yang serius.
Berdasarkan artikel dari Sindonews, terdapat setidaknya lima dampak buruk utama yang perlu diwaspadai jika seseorang tidak mengontrol asupan proteinnya dengan bijak. Berikut adalah uraian mendalam mengenai risiko-risiko tersebut:
1. Peningkatan Risiko Penyakit Kronis Berbahaya
Meskipun protein hewani sering dianggap sebagai sumber energi yang padat, konsumsi yang tidak terkontrol, terutama dari daging merah atau produk olahan, dapat memicu timbulnya penyakit kronis dalam jangka panjang. Penelitian menunjukkan adanya korelasi antara pola makan tinggi protein hewani dengan peningkatan risiko penyakit jantung koroner.
Hal ini sering kali diperparah jika sumber protein tersebut mengandung lemak jenuh yang tinggi. Selain itu, beberapa jenis kanker juga dikaitkan dengan pola makan yang didominasi oleh protein tanpa adanya keseimbangan dari serat. Tanpa asupan sayuran dan buah-buahan yang cukup sebagai penyeimbang, tubuh akan kehilangan perlindungan antioksidan yang dibutuhkan untuk menangkal radikal bebas.
2. Beban Kerja Ginjal yang Menjadi Terlalu Berat
Salah satu dampak yang paling sering dibahas oleh para ahli medis adalah kerusakan fungsi ginjal. Ginjal memiliki peran vital untuk menyaring sisa-sisa metabolisme protein, termasuk nitrogen, dari dalam darah untuk kemudian dibuang melalui urin. Ketika seseorang mengonsumsi protein dalam jumlah yang sangat besar, ginjal dipaksa bekerja ekstra keras untuk memproses limbah tersebut.
Bagi individu yang sudah memiliki riwayat gangguan ginjal sebelumnya, asupan protein berlebih dapat mempercepat penurunan fungsi organ ini hingga menyebabkan gagal ginjal. Bahkan pada orang sehat sekalipun, tekanan yang terus-menerus pada ginjal dapat memicu pembentukan batu ginjal akibat akumulasi kalsium dan asam urat.
3. Gangguan Pencernaan dan Sembelit
Diet yang terlalu fokus pada protein sering kali mengabaikan asupan serat. Protein, terutama yang berasal dari sumber hewani, sama sekali tidak mengandung serat. Akibatnya, sistem pencernaan akan kesulitan dalam mengolah makanan dan mendorong kotoran keluar dari tubuh.
Hal ini sering memicu sembelit atau konstipasi kronis. Jika kondisi ini dibiarkan, keseimbangan mikrobiota atau bakteri baik di dalam usus bisa terganggu, yang pada akhirnya akan melemahkan sistem imun tubuh secara keseluruhan.
4. Masalah Bau Mulut (Halitosis)
Dampak yang mungkin terlihat sepele namun mengganggu hubungan sosial adalah bau mulut. Saat tubuh berada dalam kondisi kelebihan protein dan kekurangan karbohidrat, tubuh akan memasuki fase metabolisme yang disebut ketosis.
Dalam fase ini, tubuh membakar lemak dan protein untuk menghasilkan energi, yang kemudian melepaskan zat kimia bernama keton. Keton ini memiliki aroma yang khas dan cenderung tidak sedap yang dilepaskan melalui pernapasan. Sayangnya, bau mulut akibat ketosis ini tidak bisa dihilangkan hanya dengan menyikat gigi secara rutin.
5. Risiko Dehidrasi dan Ketidakseimbangan Cairan
Protein membutuhkan air yang cukup banyak untuk bisa dimetabolisme oleh tubuh. Semakin banyak protein yang masuk, semakin banyak pula air yang digunakan oleh ginjal untuk membuang limbah nitrogennya.
Jika seseorang meningkatkan asupan protein tanpa dibarengi dengan peningkatan konsumsi air putih, risiko dehidrasi meningkat secara signifikan. Kondisi dehidrasi ini tidak hanya membuat tubuh terasa lemas dan pusing, tetapi juga mengganggu konsentrasi dan fungsi organ lainnya.
Kesimpulan dan Saran
Penting bagi kita untuk memahami bahwa kebutuhan protein setiap orang berbeda-beda, tergantung pada usia, berat badan, serta tingkat aktivitas fisik. Alih-alih hanya berfokus pada kuantitas protein, sebaiknya kita lebih memperhatikan kualitas dan variasi sumbernya.
Mengombinasikan protein hewani dengan protein nabati (seperti kacang-kacangan dan tempe) serta memastikan asupan serat yang cukup dari sayur dan buah adalah kunci utama pola makan yang sehat. Jangan lupa untuk selalu berkonsultasi dengan ahli gizi jika Anda berencana melakukan perubahan ekstrem pada pola diet harian demi menghindari efek samping yang merugikan di masa depan.