Education
Apa Benar Orang Bergolongan Darah O Lebih Sering Tergigit Nyamuk?

Semarang (usmtv) – Dikutip oleh CNBC Indonesia Fenomena unik ini sering kali menimbulkan rasa penasaran mengenai alasan medis di balik ketertarikan serangga tersebut. Namun, para ahli biologi kini berhasil menemukan penjelasan ilmiah yang akurat mengenai misteri kesehatan ini. Fakta membuktikan bahwa aroma tubuh manusia memengaruhi keputusan serangga terbang ini untuk melakukan tindakan gigitan nyamuk pada manusia. Oleh karena itu, masyarakat perlu memahami faktor risiko tersebut agar dapat melakukan tindakan pencegahan secara efektif. Lalu, apakah benar orang bergolongan darah O lebih sering tergigit nyamuk?
Meskipun semua orang berpotensi terkena serangan serangga, Orang bergolongan darah O lebih sering tergigit nyamuk. Sebuah penelitian ilmiah di Jepang mengonfirmasi bahwa kelompok ini menghasilkan senyawa volatil dalam jumlah melimpah. Senyawa alami tersebut memicu aroma khas yang sangat memikat radar sensorik serangga pencari darah. Padahal, pemilik golongan darah lain seperti A dan B tidak memproduksi senyawa tersebut sebanyak golongan O.
Mengapa Orang Bergolongan Darah O Sering Tergigit Nyamuk
Guru Besar Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis IPB, Prof Upik Kesumawati, memberikan penjelasan mendalam mengenai hal ini. Beliau memaparkan bahwa tubuh bergolongan darah O menghasilkan asam laktat serta karbon dioksida secara lebih aktif. Gas karbon dioksida tersebut bertindak sebagai pemandu arah yang memudahkan serangga mendeteksi keberadaan calon korban mereka. Namun, beliau tetap menegaskan bahwa serangga pengisap ini pada dasarnya tetap dapat menyerang semua golongan darah tanpa terkecuali.

Selain faktor genetik darah, preferensi warna pakaian seseorang juga turut memengaruhi tingkat ketertarikan serangga terbang ini. Prof Upik menjelaskan bahwa pakaian berwarna gelap memiliki sifat menyerap panas lingkungan sekitar secara maksimal. Kondisi tersebut membuat suhu tubuh pengguna pakaian gelap menjadi lebih hangat sekaligus mengundang kehadiran serangga. “Nyamuk menyukai kondisi hangat dan lembap. Karena itu orang yang menggunakan pakaian gelap lebih sering didatangi nyamuk,” ucap beliau.
Fakta Perilaku Reproduksi dan Cara Pencegahan Efektif
Masyarakat juga perlu mengetahui fakta bahwa hanya serangga betina yang mengisap darah makhluk hidup lainnya. Serangga betina membutuhkan asupan protein tinggi dari darah demi mendukung proses reproduksi dan pematangan telur mereka. Sementara itu, serangga jantan hanya mengonsumsi cairan manis dari tanaman serta nektar bunga di alam liar. “Darah yang dihisap nyamuk dibutuhkan untuk reproduksi, bukan sebagai makanan utama,” jelas Prof Upik secara terperinci.

Beliau juga mematahkan mitos keliru mengenai penularan virus HIV melalui perantara serangga kecil ini di lingkungan. Virus mematikan tersebut akan langsung mati dalam waktu singkat setelah masuk ke dalam sistem pencernaan serangga. Akhirnya, serangga tersebut tidak memiliki kemampuan sama sekali untuk menularkan virus kepada manusia lain secara sekunder. Sebagai langkah perlindungan terbaik, Prof Upik mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk aktif menerapkan program gerakan 3M Plus.
Masyarakat harus rajin menguras bak mandi, menutup rapat penampungan air, serta mendaur ulang barang bekas secara berkala. Selain itu, penggunaan losion antinyamuk serta kelambu saat tidur dapat meminimalkan risiko serangan penyakit berbahaya. Melalui edukasi yang tepat ini, kita dapat menjaga kesehatan keluarga dari ancaman demam berdarah secara mandiri.







