Connect with us

Nasional

Catatan Hasil PISA Indonesia 2025, Pencapaian Luar Biasa dan Evaluasi Pendidikan

Published

on

images 2026 09 15T100116.081

Semarang (usmnews) – Program for International Student Assessment (PISA) 2025 yang dirilis oleh Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) memberikan gambaran komprehensif mengenai peta pendidikan nasional. Berdasarkan pengumuman resmi dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), performa peserta didik Indonesia yang berusia 15 tahun menunjukkan dinamika yang sangat menarik untuk dicermati. Pembahasan mengenai Catatan Hasil PISA Indonesia 2025 menjadi topik hangat di kalangan akademisi, praktisi pendidikan, hingga masyarakat umum yang mendambakan perbaikan kualitas pembelajaran di tanah air.

Asesmen skala internasional ini mengukur tiga domain utama pembelajaran, yakni literasi membaca, matematika, dan sains. Pada penyelenggaraan periode 2025, Indonesia mencatatkan peningkatan performa yang cukup signifikan pada dua sektor utama, yakni sains dan literasi membaca. Skor sains mengalami kenaikan sebesar 6 poin dari 383 pada tahun 2022 menjadi 389 pada tahun 2025, yang menempatkan Indonesia pada peringkat 73 dari 91 negara peserta. Penyiapan daya saing generasi muda di bidang sains ini mencerminkan keberhasilan awal dari adaptasi kurikulum yang lebih aplikatif.

Tidak hanya sains, kemampuan literasi membaca anak-anak Indonesia juga memperlihatkan perkembangan yang menggembirakan. Kenaikan skor sebesar 6 poin tercatat dari angka 359 pada asesmen PISA 2022 naik menjadi 365 pada tahun 2025, yang membuat Indonesia berada di peringkat 74 dari 90 negara. Kenaikan ini membuktikan bahwa berbagai program peningkatan minat baca dan penyediaan sarana literasi di berbagai daerah mulai membuahkan hasil positif, meskipun perjuangan untuk mencapai standar global masih sangat panjang.

Catatan Hasil PISA Indonesia 2025

Evaluasi Kritis dan Catatan Hasil PISA Indonesia 2025

Kendati mencetak tren positif di sektor sains dan membaca, perhatian serius harus diberikan pada domain matematika. Pada sektor ini, skor Indonesia mengalami penurunan sebesar 2 poin, yaitu dari 366 pada asesmen tahun 2022 menjadi 364 pada tahun 2025. Angka ini menempatkan posisi matematika Indonesia di peringkat 78 dari 90 negara. Penurunan ini mengindikasikan bahwa penalaran logis serta pemecahan masalah matematis masih menjadi kendala utama yang perlu segera dibenahi dalam sistem kurikulum pembelajaran nasional.

Jika ditinjau dari persentase siswa yang berhasil mencapai taraf kompetensi minimum, angka yang ditunjukkan masih menuntut kerja keras seluruh pemangku kepentingan. Persentase siswa yang mampu memenuhi kompetensi minimum pada bidang sains tercatat sebesar 36,81 persen, sedangkan pada bidang literasi membaca berada di angka 27,11 persen. Sektor matematika mencatatkan angka paling memprihatinkan, di mana hanya 16,93 persen siswa yang sanggup memenuhi ambang batas kompetensi minimum.

Tantangan Akses dan Kualitas Pendidikan Nasional

Salah satu poin penting yang mendapat apresiasi langsung dari Direktur Pendidikan dan Keterampilan OECD, Andreas Schleicher, adalah keberhasilan Indonesia dalam memperluas akses pendidikan secara masif. Indonesia dinilai mampu meningkatkan partisipasi sekolah anak-anak di berbagai daerah tanpa mengorbankan kualitas dasar pembelajaran. Peningkatan akses ini menjadi modal sosial yang amat berharga bagi pemerataan kesempatan belajar bagi seluruh anak bangsa dari Sabang sampai Merauke.

Namun demikian, disparitas kualitas antardaerah serta beban administratif tenaga pengajar tetap menjadi tantangan nyata. Pemerintah melalui Kemendikdasmen perlu merumuskan langkah strategis untuk memperkuat pelatihan guru, membenahi sarana prasarana sekolah di wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar), serta meminimalkan kasus perundungan (bullying) di lingkungan sekolah yang kerap mengganggu konsentrasi belajar siswa.

images 2026 09 15T100142.385

Langkah Strategis Menuju Peningkatan Mutu Sustanabel

Guna merespons dinamika yang tecermin dalam Catatan Hasil PISA Indonesia 2025, pembenahan metode pengajaran matematika harus menjadi prioritas utama. Pendekatan numerasi yang kontekstual dan menyenangkan perlu diterapkan sejak tingkatan sekolah dasar agar siswa tidak menganggap matematika sebagai beban kognitif yang menakutkan.

Selain itu, penguatan literasi membaca tidak boleh berhenti pada tahap melek huruf semata, melainkan ditingkatkan hingga taraf pemahaman kritis dan analisis informasi. Kolaborasi antara pemerintah, sekolah, perguruan tinggi, serta masyarakat menjadi kunci utama untuk memastikan bahwa setiap kenaikan skor asesmen benar-benar berkorelasi langsung dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia di masa depan.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Secret Link