Connect with us

Nasional

Langkah Tegas Prabowo Perintahkan Aparat Gencarkan Edukasi Larangan Pembakaran Hutan di Desa

Published

on

images 12 7

Semarang (usmnews) Masalah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kerap melanda berbagai wilayah di Indonesia setiap memasuki musim kemarau kembali menjadi sorotan utama pemerintah pusat. Menanggapi ancaman bencana kabut asap yang dapat merugikan berbagai sektor kehidupan, Presiden Prabowo Subianto mengambil langkah taktis dan antisipatif. Beliau secara resmi telah menginstruksikan seluruh jajaran aparat keamanan, baik TNI maupun Polri, beserta instansi terkait untuk segera turun langsung ke desa-desa. Tujuannya sangat jelas dan mendesak, yakni memberikan edukasi larangan pembakaran hutan kepada seluruh lapisan masyarakat, khususnya bagi para petani dan peladang yang masih mempraktikkan metode pembukaan lahan tradisional.

kebakran hutan AFP

Instruksi dari Presiden Prabowo ini bukan tanpa alasan. Berkaca dari pengalaman tahun-tahun sebelumnya, mayoritas kasus kebakaran hutan skala besar yang memicu bencana kabut asap lintas negara sering kali bermula dari titik-titik api kecil di area perkebunan rakyat atau lahan pinggiran. Kebiasaan membuka lahan dengan cara dibakar memang dianggap paling murah, cepat, dan praktis oleh sebagian masyarakat perdesaan. Namun, tanpa adanya pemahaman mendalam terkait dampak ekologis dan hukum, api yang awalnya dikira terkendali bisa dengan cepat menjalar. Api yang tertiup angin dapat melahap ribuan hektare kawasan hutan lindung maupun lahan gambut yang teksturnya sangat rentan dan sangat sulit dipadamkan jika sudah terbakar di bawah permukaan. Oleh karena itu, pendekatan preventif dan edukatif harus segera dikedepankan sebelum bencana yang lebih besar terjadi.

Pentingnya Pendekatan Humanis dalam Edukasi Larangan Pembakaran Hutan

Dalam menjalankan tugas pencegahan di lapangan, aparat yang diterjunkan tidak hanya bertindak sebagai penegak hukum yang menakut-nakuti masyarakat dengan ancaman sanksi pidana maupun denda. Lebih dari itu, mereka dituntut untuk menjadi fasilitator, penyuluh, dan komunikator yang baik bagi masyarakat desa. Proses sosialisasi dan penyampaian informasi harus dilakukan dengan metode dialog yang mudah dipahami serta diterima oleh akal sehat para petani. Aparat harus mampu menjelaskan dengan bahasa yang membumi tentang bahaya laten dari asap hasil pembakaran lahan. Asap pekat tersebut tidak hanya merusak kualitas udara yang dihirup, tetapi juga secara langsung mengancam kesehatan saluran pernapasan anak-anak, balita, lansia, dan seluruh warga desa itu sendiri.

Selain memaparkan dampak negatifnya secara gamblang, kegiatan kunjungan langsung ke desa ini juga harus dibarengi dengan pemberian solusi alternatif yang rasional. Tidak cukup hanya sekadar melarang, pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan aparat keamanan juga wajib mengenalkan metode-metode pembukaan atau pembersihan lahan tanpa harus menggunakan api atau dikenal dengan istilah zero burning. Sebagai contoh, pemerintah dapat membantu dengan memfasilitasi penggunaan teknologi alat berat yang dikelola secara komunal atau kelompok tani. Solusi lainnya adalah memberikan pelatihan penggunaan cairan dekomposer untuk mempercepat pembusukan sisa-sisa ranting, rumput liar, dan daun kering agar bisa dimanfaatkan kembali menjadi pupuk kompos organik yang justru dapat menyuburkan tanah pertanian. Hal-hal praktis dan aplikatif seperti inilah yang sebenarnya sangat dinantikan oleh para pekebun di pelosok negeri.

images 11 6

Keterlibatan Bhabinkamtibmas dan Babinsa di setiap desa dinilai sebagai ujung tombak yang paling efektif dalam program sosialisasi ini. Mereka adalah sosok yang sehari-hari bersentuhan langsung dengan denyut nadi kehidupan masyarakat setempat, sehingga memiliki ikatan emosional, pengenalan karakter, dan tingkat kepercayaan yang tinggi dari warga. Melalui kegiatan sambang desa, obrolan santai di balai pertemuan, hingga patroli dialogis di warung-warung kopi warga, pesan-pesan pencegahan karhutla dapat tersampaikan secara lebih natural tanpa terkesan menggurui. Kolaborasi sinergis antara aparat keamanan, perangkat desa, tokoh agama, ketua adat, dan tokoh masyarakat lokal sangat krusial dalam membentuk kesadaran kolektif untuk menjaga kelestarian lingkungan hidup dan mencegah kerusakan alam yang berdampak sistemik.

Dari perspektif makro ekonomi dan hubungan internasional, bencana kabut asap akibat karhutla sering kali mencoreng citra Indonesia di mata dunia, terutama di kawasan Asia Tenggara. Protes diplomatik dari negara-negara tetangga yang aktivitas warganya terdampak kepulan asap tentu mengganggu stabilitas hubungan bilateral dan ekonomi regional. Belum lagi kerugian material yang harus ditanggung di dalam negeri sendiri. Mulai dari terganggunya jadwal penerbangan komersial karena jarak pandang yang minim, lumpuhnya aktivitas belajar mengajar di sekolah, terhambatnya roda perekonomian, hingga beban biaya kesehatan yang melonjak drastis akibat lonjakan penderita Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di berbagai rumah sakit. Anggaran negara yang seharusnya bisa dialokasikan untuk pembangunan infrastruktur, pendidikan, dan pengentasan kemiskinan justru harus terkuras hingga triliunan rupiah hanya untuk mendanai operasi pemadaman menggunakan helikopter water bombing dan hujan buatan.

Oleh karena itu, kebijakan proaktif dan ketegasan sikap yang diambil oleh Presiden Prabowo merupakan bentuk nyata dari kehadiran negara dalam melindungi segenap tumpah darah Indonesia dari ancaman bencana ekologis buatan manusia. Kesuksesan program pencegahan dan mitigasi ini tentu membutuhkan kerja keras serta dukungan penuh dari seluruh elemen masyarakat. Masyarakat desa secara bertahap harus mulai merubah paradigma bertani lama dan berani beralih ke praktik pertanian modern yang ramah lingkungan. Diharapkan, melalui gencarnya edukasi larangan pembakaran hutan yang dilakukan secara masif, persisten, dan berkelanjutan dari satu wilayah ke wilayah lainnya, langit Nusantara akan selalu terjaga kebiruannya, bebas dari kepungan kabut asap pekat yang menyesakkan pernapasan. Langkah kecil di tingkat desa ini diyakini akan membawa dampak positif yang masif bagi penyelamatan ekosistem bumi kita untuk generasi yang akan datang.

Secret Link