Nasional
Waspada! Fenomena Gempa Susulan Guncang Manggarai M 5,7, Cek Faktanya

Semarang (usmnews) – Peristiwa gempa susulan guncang Manggarai berkekuatan magnitudo 5,7 kembali mengejutkan warga Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Kamis pagi, 20 Agustus 2026. Guncangan yang terjadi secara mendadak tersebut membuat sebagian warga yang sedang melakukan aktivitas rutinitas pagi segera berhamburan keluar dari dalam rumah maupun tenda darurat pengungsian untuk mencari tempat perlindungan yang aman.
Beruntungnya, tidak ada kepanikan berlebihan karena tim gabungan dari BPBD dan pihak kepolisian berseragam segera memantau situasi di lapangan serta memberikan edukasi penanganan bencana secara langsung. Menyikapi gempa susulan guncang Manggarai yang terjadi tepat pada pukul 09.47 WIB ini, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) langsung merilis data resmi. Masyarakat diminta untuk tetap tenang dan tidak mudah terpengaruh oleh isu hoaks yang sengaja disebarkan oleh pihak tak bertanggung jawab.
BMKG memastikan bahwa getaran yang dirasakan warga ini merupakan bagian dari rangkaian aktivitas seismik pascabencana utama yang terjadi sebelumnya di kawasan Nusa Tenggara Timur.

Detail Magnitudo dan Pusat Gempa Susulan Guncang Manggarai
Berdasarkan hasil analisis mutakhir dari instrumen pendeteksi getaran BMKG, episenter gempa bumi tektonik ini terletak pada koordinat 8,28 Lintang Selatan (LS) dan 120,60 Bujur Timur (BT). Pusat getaran berada tepat di darat pada jarak 39 kilometer arah timur laut dari daerah Ruteng, Kabupaten Manggarai, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Kedalaman titik gempa atau hiposenter tercatat berada pada kedalaman 10 kilometer di bawah permukaan bumi. Kedalaman ini mengategorikan peristiwa tersebut sebagai gempa bumi jenis dangkal. Karateristik gempa dangkal ini memang sangat mudah memicu getaran kuat dan dirasakan nyata oleh masyarakat di permukaan tanah sekitar episenter.
Kepastian BMKG: Tidak Berpotensi Tsunami
Meskipun berkekuatan cukup signifikan yakni M 5,7, BMKG menegaskan bahwa guncangan tektonik ini sama sekali tidak berpotensi memicu gelombang tsunami di pesisir pantai utara Flores maupun wilayah sekitarnya. Pernyataan resmi ini dikeluarkan dengan cepat guna memberikan rasa aman kepada warga pesisir yang sempat khawatir akan potensi gelombang pasang. Dengan tidak adanya ancaman tsunami, masyarakat diimbau untuk tetap beraktivitas secara wajar sembari terus meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi guncangan susulan minor lainnya.
Catatan Ribuan Aktivitas Seismik di Wilayah NTT
Sejak rentetan kejadian bencana seismik skala besar pertama yang meluluhlantakkan sebagian kawasan pemukiman di wilayah Nusa Tenggara Timur pada pertengahan bulan Agustus ini, instrumen pencatatan gempa milik jaringan nasional BMKG sama sekali belum pernah berhenti merekam aktivitas pergerakan lempeng di bawah tanah. Berdasarkan data rekapitulasi resmi yang dihimpun hingga Kamis pagi, pihak BMKG mencatat telah terjadi setidaknya lebih dari 3.400 kali guncangan susulan dengan skala yang bervariasi.
Rentetan aktivitas tektonik ini menunjukkan bahwa kondisi geologis di bawah permukaan tanah kawasan tersebut masih dalam proses pelepasan sisa energi tekanan secara terus-menerus hingga akhirnya mencapai titik keseimbangan baru yang benar-benar stabil. Sebagian besar dari ribuan getaran susulan tersebut memiliki magnitudo kecil yang tidak dirasakan oleh manusia, namun beberapa di antaranya termasuk guncangan berkekuatan M 5,7 pagi ini masih cukup kuat untuk menggetarkan dinding bangunan dan mengejutkan masyarakat setempat.
Mengapa Gempa Susulan Guncang Manggarai Terus Terjadi?
Fenomena frekuensi gempa yang terbilang sangat tinggi ini dapat dijelaskan secara ilmiah melalui pendekatan geologi struktur kawasan Kepulauan Nusa Tenggara. Wilayah Manggarai dan Flores secara umum berada tepat di atas jalur Sesar Naik Busur Belakang Flores (Flores Back-Arc Thrust). Patahan aktif berskala raksasa ini membentang di perairan utara Flores dan menjadi pemicu utama dinamika tektonik lokal. Ketika patahan tersebut mengalami pergeseran atau pelepasan energi utama, batuan di sekitarnya akan membutuhkan waktu beberapa minggu untuk kembali ke posisi stabil. Proses penyesuaian kembali struktur batuan inilah yang memicu terjadinya serangkaian gempa susulan berulang di wilayah tersebut.
Pakar geologi memperkirakan bahwa intensitas dan frekuensi getaran akan meluruh secara perlahan seiring berjalannya waktu. Masyarakat diharapkan tetap mematuhi petunjuk keselamatan dari pihak berwenang serta selalu memeriksa kelayakan struktur bangunan rumah sebelum kembali memasukinya.








