Nasional
Deretan Kabar Bohong yang Mencatut Nama SBY di Media Sosial

Semarang (usmnews) – Media sosial saat ini menjadi panggung utama penyebaran berbagai hoaks yang menyerang SBY secara masif. Sejumlah akun tidak bertanggung jawab memproduksi konten palsu demi memanipulasi opini publik tanah air. Fenomena manipulasi ini merugikan nama baik Presiden keenam Republik Indonesia tersebut dalam berbagai momentum. Oleh karena itu, masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan saat menerima kiriman informasi dari platform digital. Langkah verifikasi fakta menjadi kunci utama untuk menangkal peredaran berita bohong yang kian meresahkan. Jurnalisme sehat mendesak publik untuk selalu memeriksa kebenaran setiap unggahan sebelum mempercayai isinya sepenuhnya.

Modus Operandi hoaks yang menyerang SBY di Platform Digital
Salah satu rekayasa digital mencatut nama Susilo Bambang Yudhoyono terkait isu kedaulatan wilayah Aceh. Sebuah akun Facebook menyebarkan tangkapan layar palsu yang menampilkan foto SBY bersama Presiden Prabowo Subianto. Narasi menyesatkan dalam unggahan tersebut mengklaim SBY mendesak pemerintah pusat mengembalikan empat pulau ke Aceh.
“SBY Minta Prabowo Kembalikan 4 Pulau ke Aceh: Perdamaian Itu Tidak Datang dengan Sendirinya,” bunyi teks dalam gambar palsu itu.
Padahal, penelusuran dokumen resmi membuktikan bahwa gambar tersebut merupakan hasil suntingan pihak tidak bertanggung jawab. Para pengamat menilai rekayasa visual ini sengaja menyasar sentimen kedaerahan demi memicu perpecahan masyarakat. Komunitas siber juga mengimbau netizen agar mengabaikan konten manipulatif semacam ini.
Rekayasa Video Konten Politik Melalui Media Sosial
Selanjutnya, oknum pembuat berita bohong juga memanipulasi rekaman video pidato politik SBY mengenai pemilu. Konten editan tersebut mengarahkan opini seolah-olah mahasiswa akan menggelar demonstrasi besar untuk melawan keputusan KPU. Padahal, pidato asli SBY justru mengajak seluruh elemen bangsa untuk mengawal pemilu yang damai.
“Pendapat saya menuduh apa lagi memastikan bahwa pilpres ini pasti curang dan karenanya hasilnya pasti akan ditolak tentulah berlebihan,” ujar SBY dalam pidato aslinya.
Produsen hoaks memotong bagian penting pidato demi menciptakan kesan provokatif di mata netizen. Akibatnya, sebagian masyarakat sempat membagikan video menyesatkan tersebut tanpa melakukan pengecekan ulang yang mendalam. Pengguna internet harus menyadari bahaya penyebaran video manipulatif seperti ini bagi stabilitas nasional.

Hoaks Isu Kesehatan dan Kondisi Fisik Tokoh Nasional
Selain isu politik, kabar bohong medis juga mengincar kondisi fisik sang mantan presiden belakangan ini. Pengguna media sosial menyebarkan klaim foto SBY terbaring sakit pada awal bulan Juli 2026. Pembuat konten palsu tersebut menyertakan kalimat sedih berbunyi,
“Inalillahiiiiii pakSBY masuk RS karena terlalu merindukan bu…”.
Faktanya, rangkaian foto tersebut merupakan dokumentasi lama saat rekan sejawat membesuk beliau beberapa tahun silam. Foto sang putra sulung, Agus Harimurti Yudhoyono, dalam unggahan itu juga memuat konteks yang salah. Oleh sebab itu, masyarakat harus menyaring seluruh kabar dari internet demi memutus rantai kebohongan.







