Connect with us

Education

Menjelajah Jejak Sejarah di Balik Keagungan Arsitektur Kuno Masjid Saka Tunggal Baitussalam

Published

on

Semarang (usmnews)- Nusantara menyimpan banyak warisan sejarah Islam yang sangat menakjubkan. Salah satu peninggalan bersejarah tersebut bernamah Masjid Saka Tunggal Baitussalam. Rumah ibadah ini berlokasi pada wilayah Desa Cikakak, Kecamatan Wangon. Bangunan ini memadukan ajaran agama dan kearifan budaya Jawa lokal. Warga Banyumas terus menjaga kelestarian tempat ibadah ini hingga sekarang.

Banyak orang meyakini bahwa rumah ibadah ini berdiri sangat lama. Kalangan sejarawan mencatat tahun pendiriannya pada seribu dua ratus delapan puluh delapan masehi. Angka ini bertepatan dengan tahun enam ratus delapan puluh tujuh hijriah. Catatan waktu ini membuktikan usianya mendahului era dakwah Wali Songo. Kerajaan Majapahit bahkan baru lahir enam tahun setelahnya.

Kyai Mustolih memprakarsai pembangunan Masjid Saka Tunggal Baitussalam ini. Beliau merupakan ulama karismatik penyebar ajaran Islam pada wilayah Banyumas.

Filosofi Mendalam pada Struktur Tiang Penyangga Utama Masjid Saka Tunggal Baitussalam Desa Cikakak

Daya tarik utama arsitektur bangunan ini berpusat pada tiang tunggalnya. Satu tiang kayu solid setinggi lima meter menopang atap utama. Sang perancang sama sekali tidak menambahkan sambungan pada penyangga tersebut. Tiang tunggal ini merepresentasikan wujud huruf Alif dalam abjad Arab. Simbol ini mengajarkan manusia untuk selalu hidup lurus dan tegak. Manusia juga harus senantiasa patuh pada aturan Tuhan Semesta Alam.

Desain Masjid Saka Tunggal Baitussalam ini selaras dengan filosofi Jawa. Filosofi Manunggal iku Kawula Gusti bermakna penyatuan hamba dan Sang Pencipta. Puncak tiang utama memiliki empat sayap kayu berukir corak flora. Ukiran estetik ini melambangkan prinsip hidup Papat Kiblat Lima Pancer.

Prinsip kuno ini mengajarkan harmoni alam dan manusia sebagai pusatnya. Warga juga mempertahankan anyaman bambu atau gedheg pada dinding bangunan. Plafon tradisional turut memperkuat nuansa kesederhanaan masa lampau.

Harmoni Tradisi Unik Aboge dan Mitos Kera Liar

Kawasan hutan sekitar pelataran masjid menjadi rumah bagi ratusan kera. Kera ekor panjang tersebut hidup berdampingan secara jinak bersama warga. Cerita rakyat menganggap kera-kera itu sebagai perwujudan santri masa lalu. Para santri tersebut kabarnya sering melalaikan kewajiban ibadah harian mereka. Tata cara peribadatan masyarakat sekitar juga memancarkan nuansa lokal kental.

Imam dan muazin selalu memakai udeng atau pengikat kepala Jawa. Mereka sama sekali tidak mengenakan peci biasa saat bertugas. Nuansa tradisional ini semakin terasa pekat saat salat Jumat tiba. Sang khatib menyampaikan khotbah dan puji-pujian lewat lantunan kidung Jawa. Empat orang muazin mengumandangkan panggilan azan Jumat secara bersamaan.

Seluruh warga desa juga rutin menggelar tradisi gotong royong tahunan. Mereka menamai kegiatan mengganti pagar bambu keliling ini tradisi Jaro. Pada akhirnya, komunitas Muslim Aboge menjadikan Masjid Saka Tunggal Baitussalam ini sebagai basis sentral kegiatan spiritual mereka.