Connect with us

Education

Jejak Perih Sun Yaoting sang Kasim Terakhir pengawal Rahasia Runtuhnya Kekaisaran China

Published

on

Semarang (usmnews) – Di penghujung usianya, ada dua pusaran kenangan memilukan yang selalu berhasil menitikkan air mata Sun Yaoting, sosok pria yang tercatat dalam sejarah sebagai kasim terakhir di daratan China. Hidupnya merupakan sebuah potret ironi yang terjepit di antara dua era yang saling berbenturan keras; di satu sisi ia dipersiapkan untuk menikmati kemewahan absolut dari balik tembok istana kekaisaran kuno, namun di sisi lain, ia harus bertahan menghadapi gelombang revolusi modern yang berupaya menyapu bersih seluruh jejak masa lalu tersebut. Di tengah pusaran pergolakan zaman itu, Sun Yaoting bertahan hidup sembari mengunci rapat berbagai rahasia gelap istana.

Penderitaan Sun bermula dari kondisi keluarganya yang sangat melarat, yang kehidupannya dihancurkan tanpa belas kasih oleh tuan tanah setempat. Rumah mereka dibumihanguskan dan lahan pertanian direnggut paksa. Terhimpit oleh keputusasaan yang mendalam, keluarga ini memutuskan untuk mengambil satu-satunya jalan pintas yang ekstrem demi mengubah nasib, yakni menjadikan Sun sebagai seorang kasim. Pada masa itu, menjadi kasim adalah salah satu jalan bagi pria awam untuk menembus batas ruang eksklusif Kota Terlarang dan meraih kekuasaan politik yang tak terbatas di sisi kaisar. Eksekusi pengebirian itu dilakukan sendiri oleh sang ayah di atas tempat tidur beralaskan lumpur, tanpa menggunakan obat bius sama sekali. Dengan hanya bermodalkan kertas yang dibasahi minyak sebagai perban penutup luka dan sehelai bulu angsa yang disisipkan ke dalam uretra guna mencegah penyumbatan, Sun harus melewati rasa sakit yang tak terbayangkan. Ia tak sadarkan diri selama tiga hari penuh dan lumpuh tak bisa bergerak selama dua bulan. Ironisnya, pengorbanan berdarah ini terasa sia-sia ketika ia tersadar dan mendapati fakta bahwa kaisar yang hendak ia layani hidupnya telah resmi turun takhta hanya beberapa pekan sebelumnya.

Jia Yinghua, seorang sejarawan amatir yang kelak menjadi sahabat sekaligus penulis biografi Sun, menggambarkan betapa tragisnya jalan hidup sang kasim. Sun seolah terus dipermainkan oleh takdir. Setelah dikorbankan melalui pengebirian saat kaisar lengser, ia tetap berhasil masuk ke lingkungan Kota Terlarang, namun tak lama berselang, Kaisar Pu Yi justru diusir dari istana. Ia bahkan sempat mengikuti kaisar tersebut ke wilayah utara, yang pada akhirnya rezim boneka bentukan Jepang pada era 1930-an itu pun turut hancur lebur. Meski demikian, perjalanannya memberikan Sun kesempatan langka untuk menjadi saksi mata langsung dari detik-detik keruntuhan sebuah peradaban besar. Ia merekam seluruh intrik, kekejaman ritual istana, penderitaan fisik, hingga kehidupan paling intim dari para kasim dan keluarga kekaisaran yang tak pernah terungkap ke publik.

Memasuki era Revolusi Kebudayaan antara tahun 1966 hingga 1976, nyawa Sun kembali berada di ujung tanduk. Statusnya sebagai kasim menjadikannya target persekusi kelompok kiri radikal karena dianggap sebagai simbol hidup sisa-sisa feodalisme. Di tengah situasi politik yang kacau balau tersebut, keluarganya mengambil keputusan panik dengan membuang “harta karun” milik Sun—sebutan lazim di kalangan kasim untuk organ vital mereka yang diawetkan pasca-pengebirian. Padahal, bagi seorang kasim, organ yang diawetkan tersebut memiliki makna spiritual yang sangat dalam, bukan sekadar identitas fisik, melainkan juga syarat mutlak bagi kesempurnaan tubuh di kehidupan setelah kematian menurut tradisi kuno. Kehilangan benda paling berharga inilah yang menjadi kenangan pahit kedua yang tak pernah gagal membuat Sun menangis terisak.

Selama puluhan tahun, Sun memilih untuk membungkam mulutnya dari kejaran jurnalis maupun pencatat sejarah negara. Luka batinnya terlalu dalam untuk dikorek oleh orang asing. Satu-satunya orang yang berhasil memenangkan kepercayaannya hanyalah Jia Yinghua. Kepada Jia, Sun mencurahkan segala penderitaan di balik janji manis kekuasaan palsu kekaisaran, termasuk masalah inkontinensia (kesulitan menahan buang air) dan rasa malu yang menderanya. Sun tetap memegang kesetiaannya pada sistem lama karena ia telah mengorbankan seluruh eksistensi hidupnya demi sistem tersebut. Semua rahasia ini akhirnya diabadikan oleh Jia dalam buku biografi yang membedah sisi terdalam istana.

Sun Yaoting menghembuskan napas terakhirnya pada tahun 1996 di usia 93 tahun. Ia menghabiskan masa tuanya di sebuah kuil sederhana yang beralih fungsi menjadi rumahnya, jauh dari kemegahan istana yang pernah menjanjikan kejayaan. Meski tak pernah merengkuh kekayaan materi atau kekuasaan politik, Sun pergi dengan membawa kekayaan pengalaman yang tak tertandingi, menutup lembaran sejarah sebagai saksi hidup terakhir dari dunia yang telah musnah.

PNFPB Install PWA using share icon

For IOS and IPAD browsers, Install PWA using add to home screen in ios safari browser or add to dock option in macos safari browser