Connect with us

Business

Krisis Sektor Peternakan, Harga Telur Anjlok dan Lonjakan Biaya Pakan Mengancam Keberlangsungan Peternak di Lampung Timur

Published

on

Semarang (usmnews) – Sektor peternakan ayam petelur di wilayah Kabupaten Lampung Timur, Provinsi Lampung, saat ini tengah berada dalam kondisi yang sangat mengkhawatirkan. Para pelaku usaha mikro dan mandiri di bidang ini didera kecemasan mendalam akibat tekanan ekonomi yang datang dari berbagai arah sekaligus. Selama kurun waktu tiga bulan terakhir, margin keuntungan mereka terus tergerus akibat fenomena penurunan harga jual telur yang terjadi secara drastis di tingkat produsen atau kandang. Kondisi ini kian diperparah oleh situasi pasar yang tidak seimbang, di mana beban operasional justru melambung tinggi akibat kenaikan harga pakan ternak yang signifikan.

Masalah utama yang dihadapi para peternak adalah ketidakmampuan pasar dalam menyerap hasil produksi mereka. Walaupun harga komoditas telur di pasaran terus mengalami penurunan, nyatanya daya beli dari pihak distributor, pedagang pasar, maupun konsumen akhir tidak menunjukkan tanda-tanda perbaikan atau tetap lesu. Akibat pasokan yang menumpuk dan permintaan yang rendah, para peternak kini dihantui oleh potensi kerugian finansial dalam skala yang jauh lebih besar jika situasi ini bertahan dalam jangka panjang.

Salah satu pelaku usaha peternakan ayam petelur di Lampung Timur, Masrokan, membeberkan fakta mengenai kemerosotan harga ini. Berdasarkan keterangannya pada Selasa (30/6/2026), nilai jual telur ayam di tingkat peternak saat ini menyusut hingga menyentuh angka Rp 23.000 per kilogram. Jika dibandingkan dengan situasi pada bulan Maret 2026 yang lalu, harga telur masih berada pada posisi yang relatif aman dan menguntungkan, yakni berkisar di angka Rp 27.000 per kilogram.

Penurunan harga sebesar Rp 4.000 per kilogram dalam waktu singkat ini tentu menjadi pukulan telak bagi struktur pendapatan para peternak lokal.Di tengah kondisi harga jual yang merosot tajam, para peternak justru harus menghadapi kenyataan pahit berupa lonjakan biaya produksi. Masrokan menjelaskan bahwa komponen biaya paling krusial, yaitu pakan ayam, mengalami kenaikan harga yang sangat memberatkan. Sejak bulan Maret, harga satu karung pakan ayam dengan berat 50 kilogram terhitung melonjak hingga Rp 35.000.

Kombinasi antara pendapatan yang berkurang drastis dan biaya pakan yang meroket otomatis melipatgandakan pengeluaran operasional harian yang harus ditanggung oleh pemilik kandang.Dampak nyata dari ketimpangan ekonomi ini mulai dirasakan secara meluas. Keuntungan yang biasa digunakan untuk memutar modal usaha kini terkikis habis, bahkan berganti menjadi kerugian bersih.

Banyak peternak di kawasan Lampung Timur mulai menyuarakan kekhawatiran bahwa mereka tidak akan sanggup mempertahankan operasional usahanya lebih lama lagi. Apabila ekosistem perdagangan telur tidak segera membaik dan daya beli masyarakat tetap rendah, risiko kebangkrutan massal atau gulung tikar bagi para peternak kecil kini sudah berada di depan mata.Menghadapi situasi yang semakin kritis ini, para peternak sangat mengharapkan adanya tindakan nyata dan intervensi langsung dari pihak pemerintah.

Mereka mendesak otoritas terkait untuk segera melakukan langkah-langkah strategis atau operasi pasar guna menstabilkan harga telur kembali ke tingkat yang wajar. Intervensi kebijakan dari pemerintah dinilai sebagai satu-satunya jalan keluar yang mendesak untuk menyelamatkan para peternak rakyat dari keterpurukan, menjaga roda perekonomian daerah, serta memastikan keberlangsungan rantai pasok pangan hewani di masa mendatang. Bagi mereka, keseimbangan antara regulasi harga jual telur dan pengendalian harga pakan adalah kunci utama agar usaha peternakan terhindar dari kehancuran finansial.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *