Connect with us

Tech

Kemandirian Energi di Sawah, Bagaimana Petani Purworejo Menyulap Sinar Matahari Menjadi Beras Melimpah

Published

on

Semarang(usmnews) – Di tengah hantaman iklim ekstrem akibat fenomena El Nino yang memicu kemarau panjang serta situasi ketidakpastian harga Bahan Bakar Minyak (BBM), sektor pertanian sering kali menjadi pihak yang paling rentan. Namun, pemandangan berbeda justru tersaji di Desa Krandegan, Kecamatan Bayan, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Para petani setempat berhasil membuktikan ketangguhan ketahanan pangan mereka lewat langkah visioner: mengawinkan sektor pertanian dengan teknologi terbarukan berupa Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) untuk menjalankan sistem irigasi persawahan.

Sebelumnya, hamparan lahan pertanian seluas 70 hektare di desa tersebut sepenuhnya berstatus sawah tadah hujan. Ketergantungan pada alam ini membuat para petani hanya mampu mengolah lahan dan memanen padi sebanyak satu hingga dua kali saja dalam setahun. Keterbatasan tersebut seketika sirna begitu sistem pompa air bertenaga surya mulai diintegrasikan ke kawasan persawahan mereka.

Gotong Royong Membangun Infrastruktur PLTS

Transformasi hijau di Desa Krandegan tidak terjadi dalam semalam, melainkan melalui komitmen investasi yang terencana dari berbagai pihak. Perjalanan inovasi teknologi ini direkam melalui lini masa pengembangan berikut:

  • Tahun 2022: Memulai langkah awal dengan memanfaatkan bantuan satu unit pompa air bertenaga surya dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.
  • Fase Perluasan: Pemerintah desa mengambil langkah mandiri untuk memperluas jangkauan sistem dengan mengalokasikan Dana Desa serta menjaring kerja sama Corporate Social Responsibility (CSR).
  • Kondisi Saat Ini: Desa Krandegan telah berhasil mengoperasikan tujuh unit pompa bertenaga surya dengan total nilai investasi akumulatif mencapai Rp850 juta.

Secara teknis, infrastruktur penunjang pertanian ini disokong penuh oleh hamparan panel surya yang memiliki kapasitas daya total sebesar 42.000 watt. Sistem mutakhir tersebut difungsikan untuk menyedot air dari Sungai Dulang, yang menjadi urat nadi pengairan utama di wilayah mereka. Ketika kondisi cuaca terik secara optimal, kekuatan pompa ini mampu menghasilkan debit air hingga 500 meter kubik per jam untuk dialirkan langsung ke area persawahan warga.

Efisiensi Finansial: Memangkas Ongkos Produksi hingga Nol Rupiah

Kepala Desa Krandegan, Dwinanto, mengungkapkan bahwa adopsi energi surya ini membawa dampak ekonomi yang sangat signifikan bagi kas operasional para petani. Jika menilik ke belakang, biaya untuk menghidupkan mesin pompa konvensional berbahan bakar solar sangat membelenggu petani. Dulu, untuk mengoperasikan dua unit pompa berkapasitas 25 PK selama sehari semalam, pengeluaran untuk membeli bahan bakar bisa mencapai Rp500 ribu. Kini, pengeluaran untuk membeli solar tersebut telah terpangkas habis menjadi nol rupiah.

Sebagai gantinya, pihak desa menerapkan sistem pengelolaan mandiri yang berbasis gotong royong dan ramah di kantong:

Petani tidak lagi dibebani biaya solar, melainkan cukup membayar iuran yang sangat terjangkau, yaitu sebesar Rp2.000 per ubin. Dana yang terkumpul dari iuran gotong royong ini dialokasikan untuk menggaji tiga orang petugas desa yang bersiaga khusus untuk merawat perangkat pompa sekaligus mengatur distribusi aliran air secara adil ke setiap petak sawah.

Sistem “terima beres” ini dirasakan langsung manfaatnya oleh para petani setempat, salah satunya adalah Supriono. Ia menceritakan beratnya masa lalu saat musim tanam kedua tiba, di mana ia harus memanggul mesin pompa sendiri demi menyedot sisa-sisa air tanah yang volumenya kian menipis. Sekarang, para petani bisa bekerja dengan lebih nyaman karena pasokan air dari Sungai Dulang mengalir stabil langsung ke sawah mereka tanpa perlu menguras tenaga fisik secara berlebihan.

Pihak pemerintah desa pun tidak berpuas diri, sebab mereka sudah merencanakan perluasan proyek untuk memasang pompa tenaga surya di 20 hektare lahan tersisa yang saat ini belum terjangkau sistem.

Lonjakan Hasil Panen dan Target Replikasi Daerah

Imbas paling konkret dari pemanfaatan teknologi PLTS ini adalah terjadinya revolusi pola tanam di Desa Krandegan. Ketersediaan pasokan air yang melimpah dan stabil sepanjang tahun memicu lompatan frekuensi panen yang luar biasa. Jika sebelumnya petani hanya bisa pasrah dengan satu atau dua kali panen, kini mereka mampu menanam dan memanen padi hingga tiga kali dalam setahun. Produktivitas yang meningkat tajam ini berhasil menyumbang tambahan produksi padi hingga 420 ton per tahun di skala desa.

Keberhasilan masif di Desa Krandegan ini memantik perhatian dari Pemerintah Kabupaten Purworejo. Wakil Bupati Purworejo, Dion Agasi, menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk mereplikasi skema sukses ini ke wilayah-wilayah lain. Fokus utama perluasan ini akan diarahkan pada desa-desa pethit—yaitu daerah-daerah pinggiran yang secara geografis memiliki posisi pengairan sulit dan tidak terjangkau oleh sistem irigasi konvensional.

Dalam mengeksekusi rencana replikasi ini, pemerintah daerah akan menggandeng sektor akademis dari perguruan tinggi serta PT Agros selaku mitra strategis, dengan harapan inovasi pertanian berbasis energi bersih ini bisa segera menular dan menyejahterakan desa-desa lain di seluruh Kabupaten Purworejo.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *