Connect with us

Entertainment

Refleksi Spiritual Tio Pakusadewo Menghadapi “Tikungan Terakhir” Kehidupan

Published

on

Semarang (usmnews) – Dikutip dari CNBC Indonesia, Aktor senior Indonesia, Tio Pakusadewo, membagikan sebuah refleksi mendalam mengenai perjalanan hidup serta kondisi kesehatannya saat ini. Menginjak usia 62 tahun, Tio menganalogikan fase kehidupannya bak sebuah skenario film yang tengah memasuki babak “tikungan terakhir”. Setelah sempat menjalani perawatan intensif di rumah sakit akibat gangguan kesehatan yang dideritanya, Tio merasa momentum ini merupakan sebuah alarm bagi dirinya untuk segera berbenah diri, terutama dalam memperbaiki aspek spiritual dan batiniahnya.

Dalam sebuah dialog di program acara Rumpi: No Secret, Tio mengungkapkan pandangan spiritual yang cukup unik mengenai rasa sakit. Baginya, penderitaan fisik yang dialaminya saat ini bukanlah sebuah musibah, melainkan sebuah hadiah terindah dari Tuhan sekaligus bentuk ibadah yang luar biasa. Ia bahkan berpendapat bahwa andai saja orang-orang yang sehat mengetahui betapa besarnya nilai pahala dan penggugur dosa di balik sebuah penyakit, mereka pasti akan berebut untuk merasakannya. Berangkat dari kesadaran tersebut, kini ia memilih untuk membatasi diri dari hal-hal yang tidak esensial, seperti mengurangi ucapan, tindakan, hingga pikiran-pikiran negatif yang tidak perlu.

Hidayah di Balik Jeruji Besi: Belajar Mengaji dari Ali Imron

Selain berbicara mengenai kondisinya saat ini, Tio juga mengenang kembali sebuah titik balik spiritual yang sangat krusial saat dirinya mendekam di balik jeruji besi beberapa tahun lalu. Di dalam lembaga pemasyarakatan, takdir mempertemukannya dengan Ali Imron, seorang mantan narapidana kasus terorisme yang akrab disapa “Pak Ustaz” oleh sesama penghuni lapas.

Pada awalnya, Tio mengaku sama sekali tidak mengenal sosok tersebut dan sempat merasa enggan untuk menemuinya. Namun, seiring berjalannya waktu, kedekatan mulai terbangun di antara keduanya hingga mereka terlibat dalam sebuah percakapan yang sangat intim mengenai kemampuan membaca Al-Qur’an.

Dialog Spiritual Tio dan Ali Imron:

  • Ali Imron bertanya, “Mau belajar ngaji nggak? Eh, pernah ngaji enggak? Masih ingat?”
  • Tio menjawab dengan jujur, “Enggak, ya jim, ha, kho, selebihnya lupa.”
  • Ali kemudian menawarkan, “Mau saya ajarin? Tergantung kalau masih cerdas bisa (cepat).”

Ali Imron bahkan memberikan garansi bahwa Tio akan bisa kembali lancar membaca Al-Qur’an hanya dalam kurun waktu dua hari. Menariknya, janji tersebut terbukti nyata; berkat bimbingan intensif itu, Tio benar-benar berhasil menguasai kembali kemampuan mengajinya dalam waktu singkat.

Tangisan Syukur dan Kerinduan pada Masjid

Keberhasilan membaca Al-Qur’an menjadi pintu gerbang bagi Tio untuk mendalami agama lebih jauh. Atas saran dari Ali Imron, ia mulai rutin membaca dan menelaah ayat-ayat suci. Di tempat yang serba terbatas seperti penjara, Tio justru merasakan mukjizat karena mampu memberikan ketenangan batin untuk menghafal beberapa bagian penting Al-Qur’an, termasuk Ayat Kursi dan sejumlah surah lainnya. Bahkan, setelah menghirup udara bebas, hafalan tersebut tidak hilang, dan ia masih mampu menghafal Surah Al-A’la.

Mengingat kembali seluruh rangkaian perjalanan spiritual tersebut membuat pertahanan emosional Tio runtuh. Ia tidak mampu membendung air matanya karena menyadari bahwa di balik segala masa lalu dan kekhilafannya, Tuhan ternyata masih sangat menyayanginya dan memberikan kesempatan untuk bertobat.

Kendati demikian, kondisi kesehatannya yang kini menurun membawa perubahan besar pada rutinitas harian Tio. Ada sebuah kerinduan mendalam yang hingga kini belum bisa ia tunaikan kembali akibat keterbatasan fisiknya, yaitu kerinduan untuk melangkah ke masjid di pagi buta demi menunaikan ibadah salat Subuh secara berjemaah.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *