Connect with us

Education

Tradisi Sungkeman Lebaran di Ponorogo Yang Penuh Kehangatan

Published

on

Ponorogo (usmnews) – Di lansir dari detik.com Suasana Lebaran terasa hangat dan menyentuh hati saat keluarga besar berkumpul. Hal ini terlihat dari perayaan Idul Fitri keluarga almarhum Mbah Supeno di Desa Gontor, Ponorogo. Setelah melaksanakan salat Id, seluruh anggota keluarga langsung menggelar tradisi sungkeman.

Mereka yang merantau sengaja pulang kampung demi merasakan momen kebersamaan. Saat prosesi berlangsung, setiap anggota keluarga saling memohon maaf kepada orang tua dan kerabat yang lebih tua. Tak sedikit yang menitikkan air mata karena terharu saat berpelukan.

Tradisi sungkeman sendiri menjadi bentuk penghormatan serta ungkapan maaf yang tulus. Selain itu, kebiasaan ini terus bertahan sebagai warisan budaya masyarakat Jawa yang sarat makna.

Momen Ceria Saat Berbagi THR

Setelah suasana haru, acara berlanjut menjadi lebih meriah. Anak-anak mulai berbaris rapi untuk menerima tunjangan hari raya (THR) dari keluarga yang sudah bekerja. Sekitar 40 anak tampak antusias mengikuti antrean tersebut.

Menariknya, setiap anak bisa memperoleh uang saku dalam jumlah besar, bahkan mencapai Rp1 juta. Salah satu anak, Rafasa Zidane Raharjo, mengaku sangat senang mengikuti tradisi ini. Ia pun berencana menggunakan uang tersebut untuk membeli sepatu.

Sementara itu, sesepuh keluarga, Setyo Budiyono, menjelaskan bahwa tradisi berbagi THR atau “sangu” sudah berlangsung sejak zaman leluhur. Oleh karena itu, keluarga terus menjaga kebiasaan ini agar tetap hidup.

Makna Mendalam Tradisi Sungkeman dan Berbagi THR

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa kegiatan tersebut bukan sekadar berbagi uang semata. Tradisi ini justru menjadi simbol kuat dari kepedulian antaranggota keluarga. Melalui momen tersebut, setiap orang belajar untuk saling berbagi rezeki, memperhatikan satu sama lain, serta menjaga hubungan agar tetap harmonis.

Selain itu, kebiasaan berbagi THR atau “sangu” juga menanamkan nilai kebersamaan sejak dini kepada anak-anak. Mereka tidak hanya merasa senang karena mendapatkan uang, tetapi juga memahami arti penting berkumpul bersama keluarga besar. Dengan begitu, tradisi ini berperan sebagai sarana pendidikan nilai sosial dan budaya.

Di sisi lain, tradisi sungkeman memperkuat rasa hormat kepada orang tua dan sesepuh. Saat seseorang menundukkan diri dan meminta maaf, tersirat kerendahan hati serta keinginan untuk memperbaiki hubungan. Hal ini membuat ikatan emosional dalam keluarga menjadi semakin erat.

Pada akhirnya, perayaan Lebaran bukan hanya soal berkumpul atau merayakan kemenangan setelah berpuasa. Lebih dari itu, momen ini menjadi kesempatan untuk mempererat tali silaturahmi, memperbaiki hubungan yang sempat renggang, serta menumbuhkan rasa syukur atas rezeki yang telah diberikan. Dengan menjaga tradisi seperti ini, nilai kekeluargaan akan terus hidup dan diwariskan dari generasi ke generasi.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *