Connect with us

Education

​7 Strategi Digital Parenting untuk Menumbuhkan Anak yang Cerdas dan Bertanggung Jawab di Internet

Published

on

Semarang (usmnews) – Dikutip Kompas.com Penggunaan media sosial dan teknologi digital yang tak terhindarkan dalam kehidupan sehari-hari menuntut orang tua untuk aktif menerapkan digital parenting. Menurut psikolog Miranty Novia Wardhani, S.Psi., digital parenting didefinisikan sebagai upaya mendidik anak agar mereka bertanggung jawab penuh atas penggunaan teknologi informasi dan komunikasi (TIK). Tujuannya adalah menjadikan orang tua sebagai panutan dalam teknologi, mengajarkan etika digital, serta mendampingi dan mengawasi aktivitas anak di dunia maya.

Terdapat tujuh langkah praktis yang bisa diterapkan orang tua:

​1. Ciptakan Ikatan dan Komunikasi yang Kuat (Bonding) Langkah pertama dan fundamental adalah membangun ikatan yang erat antara orang tua dan anak. Ayah dan ibu didorong untuk lebih sering berinteraksi dan mengobrol dengan anak. Komunikasi harus terjalin secara terbuka dan santai. Sikap orang tua yang tenang dan tidak menghakimi sangat krusial agar anak merasa nyaman untuk mendiskusikan segala hal yang mereka temui di ruang digital, baik itu pengalaman positif maupun hal yang mengganggu atau membingungkan. Keterbukaan ini adalah kunci keamanan digital anak.

​2. Edukasi dan Tingkatkan Pengetahuan Diri Sendiri Di era digital, orang tua wajib memiliki kemauan keras untuk terus belajar. Ini mencakup edukasi mandiri mengenai seluk-beluk gawai, platform media sosial, game online, hingga tren digital terbaru secara keseluruhan. Orang tua disarankan untuk mencari informasi tentang apa pun yang tidak mereka pahami, bahkan mencoba langsung aplikasi, game, atau situs web yang digunakan anak untuk mengetahui konten dan mekanismenya. Dengan bekal pengetahuan ini, pendampingan yang diberikan akan jauh lebih relevan dan efektif.

​3. Aktifkan dan Manfaatkan Parental Control Fitur kontrol orang tua (parental control) merupakan alat penting yang tersedia di berbagai platform digital. Fungsi utama fitur ini adalah memungkinkan orang tua mengontrol akses anak, misalnya dengan menetapkan batas durasi penggunaan platform dan menyaring jenis konten yang dapat diakses. Contoh yang dapat dimanfaatkan antara lain Google Family Link, YouTube Kids, atau Supervised Experience di YouTube. Di YouTube, fitur-fitur seperti Shorts Daily Time Limit dan pengingat otomatis “Take a Break” serta “Bedtime” yang aktif untuk pengguna di bawah 18 tahun, bisa membantu mengelola waktu layar anak secara proaktif dan disiplin.

​4. Tetapkan Aturan Bersama dan Terapkan Konsekuensinya Penting bagi keluarga untuk membuat aturan penggunaan gawai yang disepakati bersama, bukan hanya sekadar instruksi sepihak dari orang tua. Aturan ini harus dibuat melalui diskusi terbuka dengan anak mengenai kapan dan di mana gawai boleh digunakan (misalnya, tidak di meja makan atau kamar tidur). Jika diperlukan, aturan tersebut dapat dicetak dan ditandatangani bersama. Hal yang tidak kalah penting adalah menegakkan konsekuensi yang disepakati, seperti mencabut hak penggunaan gawai jika anak melanggar batasan yang sudah ditetapkan.

​5. Awasi Media Sosial Anak Namun Jaga Privasi Mereka Orang tua dianjurkan untuk mengikuti (follow) akun media sosial anak untuk memantau aktivitas mereka, namun disarankan untuk tidak bertindak sebagai “penguntit” digital. Hormati ruang dan kebebasan berekspresi mereka di ranah daring. Hindari membanjiri unggahan mereka dengan komentar orang tua. Tujuan pengawasan adalah untuk memahami minat dan komunitas daring mereka, sehingga orang tua dapat memberikan bimbingan yang tepat, sekaligus mendorong anak untuk membangun jejak digital yang positif.

​6. Jelajahi, Berbagi, dan Lakukan Aktivitas Digital Bersama-sama Daripada hanya membatasi, ajaklah anak menjelajahi dunia digital bersama. Luangkan waktu untuk melakukan kegiatan digital bersama, seperti menonton video edukatif, mencari informasi, atau bahkan bermain game tertentu bersama-sama. Dengan berpartisipasi, orang tua dapat belajar dari anak tentang tren digital terbaru, sementara anak dapat belajar dari orang tua tentang etika dan literasi digital. Ini mengubah teknologi dari sumber konflik menjadi ruang kebersamaan.

​7. Jadilah Teladan Digital yang Baik (Good Digital Role Model) Anak-anak cenderung meniru kebiasaan orang tua. Oleh karena itu, orang tua harus menjadi contoh yang baik dalam perilaku digital. Ini berarti mengendalikan kebiasaan buruk dalam menggunakan gawai, seperti tahu kapan harus melepaskan diri (unplug) dari layar (misalnya, saat berinteraksi tatap muka), serta menunjukkan cara berkolaborasi dan bersikap santun (kind) saat berinteraksi secara daring. Keteladanan orang tua dalam penggunaan teknologi yang bijak adalah fondasi terkuat bagi keamanan dan kecerdasan digital anak.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *