Education
Zero Waste FSM UNDIP: Ubah Serasah Daun Jadi Pupuk Bernilai Guna
Semarang (USMNEWS) – Komitmen Universitas Diponegoro dalam mewujudkan kampus yang hijau dan berkelanjutan terus diwujudkan melalui berbagai inisiatif pengelolaan lingkungan di tingkat fakultas. Salah satunya dilakukan oleh Fakultas Sains dan Matematika (FSM) melalui Zero Waste Initiative, yang mengolah sampah organik berupa serasah daun menjadi kompos sebagai bagian dari upaya mengurangi timbulan sampah sekaligus mendukung pengelolaan sampah berbasis sumber.
Pengelolaan sampah organik ini menjadi salah satu implementasi prinsip ekonomi sirkular, di mana limbah yang dihasilkan dari lingkungan kampus tidak lagi dipandang sebagai sampah semata, melainkan dimanfaatkan kembali menjadi produk yang memiliki nilai guna bagi lingkungan.
Dosen Departemen Biologi FSM UNDIP sekaligus anggota Zero Waste Initiative, Aprilia Nurul Aini, S.Si., M.Si., menjelaskan bahwa pengelolaan sampah difokuskan pada serasah daun yang setiap hari dihasilkan dari ruang terbuka hijau di lingkungan fakultas.
“Sebagai salah satu upaya dalam mengelola sampah organik, khususnya serasah daun di lingkungan Fakultas Sains dan Matematika Universitas Diponegoro, kami melakukan pengolahan melalui pembuatan kompos yang nantinya dapat dimanfaatkan kembali sebagai pupuk,” jelasnya.
Proses pengolahan diawali dengan pengumpulan serasah daun dari berbagai area di lingkungan FSM UNDIP. Selanjutnya, sampah organik tersebut diangkut menuju pusat pengolahan kompos sebelum dicacah menggunakan mesin pencacah untuk memperkecil ukuran material. Tahap pencacahan dilakukan agar proses dekomposisi berlangsung lebih cepat dan efisien.
Material yang telah dicacah kemudian dimasukkan ke dalam compost bag berkapasitas 200 liter untuk menjalani proses fermentasi dan dekomposisi. Proses tersebut berlangsung selama dua hingga delapan minggu, bergantung pada kondisi bahan organik dan lingkungan, hingga menghasilkan kompos yang siap dimanfaatkan.
Kompos yang dihasilkan digunakan sebagai pupuk bagi berbagai tanaman di lingkungan FSM UNDIP. Selain itu, hasil pengomposan juga dimanfaatkan di luar fakultas, salah satunya di Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Universitas Diponegoro, sebagai bagian dari upaya mendukung penghijauan dan pengelolaan kawasan hutan pendidikan.
Menurut Aprilia, pengelolaan sampah organik sejak dari sumber menjadi langkah penting dalam mengurangi volume sampah yang berakhir di tempat pemrosesan akhir sekaligus meningkatkan nilai manfaat limbah organik bagi lingkungan.
“Melalui pengelolaan serasah daun ini, kami berharap limbah organik tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang harus dibuang, tetapi dapat dimanfaatkan kembali menjadi kompos yang bermanfaat bagi lingkungan kampus maupun kawasan lain di Universitas Diponegoro,” ujarnya.
Program ini juga diharapkan mampu mendorong tumbuhnya budaya pengelolaan sampah yang lebih bertanggung jawab di lingkungan kampus. Keterlibatan sivitas akademika dalam memilah dan mengelola sampah sejak dari sumber dinilai menjadi kunci keberhasilan implementasi konsep Zero Waste di tingkat fakultas.
“Kami berharap kegiatan ini dapat menginisiasi sekaligus memicu semangat pengelolaan sampah yang lebih luas sehingga dapat bersama-sama mewujudkan fakultas dan universitas yang lebih hijau, bersih, dan berkelanjutan,” pungkas Aprilia.
Melalui inisiatif ini, FSM UNDIP terus mendorong penguatan sistem pengelolaan sampah organik yang berkelanjutan sekaligus membangun kesadaran sivitas akademika untuk mengelola sampah sejak dari sumbernya. Lebih dari sekadar menghasilkan kompos, program Zero Waste Initiative diharapkan mampu menumbuhkan budaya peduli lingkungan sebagai bagian dari aktivitas akademik dan kehidupan kampus sehari-hari, sehingga mendukung terwujudnya FSM UNDIP yang lebih hijau, bersih, dan berkelanjutan.