Connect with us

International

Waspada Wabah Nipah India 2026

Published

on

Semarang (usmnews) – Dunia kesehatan kembali memberikan perhatian khusus pada India setelah munculnya laporan terbaru mengenai wabah virus Nipah di awal tahun 2026. Berdasarkan informasi resmi dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), India melaporkan adanya klaster infeksi baru yang memicu kekhawatiran global. Meskipun lokasinya saat ini masih terbatas di wilayah tertentu, kecepatan penularan dan tingkat fatalitas virus ini memaksa berbagai negara, termasuk Indonesia, untuk segera mengambil langkah pencegahan.

Laporan Resmi Kasus dari India

Pemerintah India melalui IHR National Focal Point (IHR NFP) secara resmi menyampaikan laporan kepada WHO pada 26 Januari 2026. Mereka mendeteksi adanya aktivitas virus Nipah di negara bagian Benggala Barat. Laporan ini menjadi basis bagi komunitas kesehatan internasional untuk memantau pergerakan virus agar tidak meluas ke wilayah lain. India bertindak cepat dengan mengisolasi area terdampak guna menekan angka penularan sejak dini.

Ancaman Penularan pada Petugas Medis

Salah satu poin krusial dalam wabah kali ini adalah risiko penularan di lingkungan rumah sakit. Tercatat seorang perawat laki-laki di rumah sakit swasta tertular virus ini setelah berinteraksi langsung dengan pasien pertama. Selain perawat tersebut, otoritas kesehatan juga memantau ketat tiga tenaga medis lainnya, termasuk dokter, yang menunjukkan gejala serupa. Situasi ini menunjukkan bahwa virus Nipah memiliki potensi penularan antarmanusia yang sangat tinggi melalui kontak erat.

Gejala Serius yang Perlu Diwaspadai

Virus Nipah menyerang tubuh dengan cara yang agresif, terutama pada sistem saraf dan pernapasan. Para pasien yang terjangkit umumnya mengalami demam yang sangat tinggi secara mendadak. Tak hanya itu, virus ini sering memicu ensefalitis atau peradangan otak yang berujung pada pusing hebat hingga kejang-kejang. Kecepatan virus dalam merusak kesadaran pasien menjadikannya salah satu ancaman kesehatan yang paling mematikan jika tidak segera mendapat penanganan medis.

Hasil Penilaian Risiko dari WHO

Menanggapi situasi tersebut, WHO melakukan evaluasi risiko untuk skala regional dan global. Hingga saat ini, WHO menilai risiko penyebaran internasional masih dalam kategori rendah. Penilaian ini merujuk pada fakta bahwa sekitar 196 orang yang melakukan kontak erat dengan pasien telah menjalani tes dan menunjukkan hasil negatif. Oleh karena itu, WHO belum merasa perlu untuk merekomendasikan adanya pembatasan perjalanan atau perdagangan ke India bagi negara-negara lain.

Langkah Sigap Pemerintah Indonesia

Meski risiko global dianggap rendah, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) tidak ingin mengambil risiko. Kemenkes segera menerbitkan Surat Edaran Nomor HK.02.02/C/445/2026 yang menginstruksikan penguatan pengawasan di pintu masuk negara, seperti bandara dan pelabuhan internasional. Petugas kesehatan di lapangan kini lebih waspada dalam memantau suhu tubuh dan kondisi kesehatan para pelaku perjalanan yang baru tiba dari wilayah terdampak.

Tips Mencegah Penularan secara Mandiri

Masyarakat memegang peran penting dalam memutus rantai potensi penularan virus ini di Indonesia. Langkah utama yang bisa dilakukan adalah menjaga kebersihan konsumsi makanan. Hindari memakan buah-buahan yang memiliki bekas gigitan hewan, karena dikhawatirkan telah terkontaminasi air liur kelelawar buah. Selain itu, pastikan selalu mencuci tangan dengan sabun dan menerapkan gaya hidup sehat guna menjaga imunitas tubuh dari berbagai serangan virus berbahaya.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *