Education
Waspada Jebakan “Resolusi”: Mengupas Tren Diet Awal Tahun yang Berbahaya Menurut Ahli Gizi

Semarang (usmnews) – Dikutip dari kompas.com Momen pergantian tahun sering kali menjadi titik awal bagi banyak orang untuk menetapkan resolusi baru, di mana “menurunkan berat badan” hampir selalu menduduki peringkat teratas. Euforia “New Year, New Me” ini sayangnya sering dimanfaatkan oleh munculnya berbagai tren diet viral di media sosial yang menjanjikan hasil instan. Menanggapi fenomena ini, para ahli gizi profesional angkat bicara untuk membongkar kesesatan informasi yang berpotensi membahayakan kesehatan publik alih-alih menyehatkan. Ilusi Hasil Instan dan Bahaya Media Sosial. Para ahli menyoroti bahwa masalah utama dari tren diet awal tahun adalah promosi yang tidak realistis. Banyak influencer atau konten media sosial yang memamerkan transformasi tubuh drastis dalam waktu singkat (misalnya: “turun 10 kg dalam 2 minggu”). Menurut ahli gizi, narasi ini sangat menyesatkan.
Diet yang menjanjikan penurunan berat badan super cepat biasanya melibatkan restriksi kalori yang ekstrem atau penghilangan satu kelompok nutrisi penting (seperti karbohidrat atau lemak) secara total. Padahal, penurunan berat badan yang terjadi secara kilat tersebut umumnya hanyalah kehilangan massa air (water weight) dan massa otot, bukan pembakaran lemak yang sesungguhnya. Ketika seseorang kembali ke pola makan normal, berat badan mereka akan melonjak kembali dengan cepat, atau yang dikenal sebagai Efek Yoyo.
Mitos “Detox” dan Suplemen Ajaib

Salah satu tren yang paling sering dikritik oleh ahli gizi adalah tren “Detoksifikasi” atau penggunaan teh/jus pelangsing yang diklaim dapat membuang racun. Ahli menegaskan bahwa tubuh manusia sudah memiliki sistem detoksifikasi alami yang sangat canggih melalui hati (liver), ginjal, dan kulit. Mengonsumsi produk laksatif (pencahar) berkedok teh diet hanya akan menyebabkan dehidrasi dan gangguan pencernaan, bukan penurunan berat badan yang sehat. Selain itu, tren diet yang melarang konsumsi makanan tertentu secara mutlak (misalnya, anti-nasi atau anti-gula alami dari buah) justru dapat memicu kekurangan nutrisi (malnutrisi). Tubuh membutuhkan keseimbangan makronutrisi (karbohidrat, protein, lemak) dan mikronutrisi untuk berfungsi optimal, terutama untuk menjaga sistem imun dan keseimbangan hormonal.
Risiko Jangka Panjang: Metabolisme dan Kesehatan Mental

Bahaya yang lebih serius dari mengikuti tren diet sembarangan adalah kerusakan metabolisme. Ketika tubuh dipaksa berada dalam kondisi kelaparan (starvation mode) akibat diet ekstrem, metabolisme tubuh akan melambat sebagai mekanisme pertahanan diri. Akibatnya, di masa depan, orang tersebut akan semakin sulit menurunkan berat badan. Selain fisik, ahli gizi juga memperingatkan dampak psikologis. Diet ketat yang didasari oleh tren sering kali memicu hubungan yang tidak sehat dengan makanan (eating disorder), rasa bersalah saat makan, hingga stres berlebihan. Alih-alih terjebak pada tren diet yang memiliki nama-nama unik dan aturan rumit, para ahli gizi menyarankan pendekatan yang lebih membosankan namun terbukti efektif: Konsistensi dan Keseimbangan.
Pola Makan Berkelanjutan: Pilihlah pola makan yang bisa Anda jalankan seumur hidup, bukan hanya untuk 2 minggu.Gizi Seimbang: Pastikan piring makan terdiri dari sayuran, protein yang cukup, karbohidrat kompleks, dan lemak sehat.Dengarkan Tubuh: Makan saat lapar dan berhenti saat kenyang (mindful eating).Aktivitas Fisik: Kombinasikan pengaturan makan dengan olahraga rutin, bukan hanya mengandalkan defisit kalori.Kesimpulannya, jangan mudah tergiur dengan testimoni viral di internet. Kesehatan adalah investasi jangka panjang yang tidak bisa dicapai melalui jalan pintas yang menyiksa tubuh.







