Education
Waspada “Gula Tersembunyi”: Mengenali Taktik Penyamaran Label pada Produk Pangan Anak
Semarang (usmnews) – Dikutip CNN Indonesia Industri makanan modern sering kali menggunakan berbagai strategi pemasaran yang cerdik untuk membuat produk mereka terlihat lebih sehat daripada kenyataannya. Salah satu isu yang paling mengkhawatirkan adalah cara produsen menyembunyikan kandungan gula tambahan dalam produk makanan dan minuman yang ditargetkan untuk anak-anak. Orang tua perlu menyadari bahwa kata “gula” sering kali tidak muncul secara gamblang di label komposisi, melainkan disamarkan dengan berbagai nama teknis yang mungkin tidak familiar bagi masyarakat awam.
Istilah-istilah seperti maltodextrin, sirup jagung tinggi fruktosa (HFCS), dekstrosa, konsentrat sari buah, hingga agave nectar sebenarnya adalah bentuk-bentuk gula tambahan. Penyamaran ini sering kali membuat orang tua merasa aman saat memberikan camilan tertentu kepada buah hati mereka, padahal secara akumulatif, anak mengonsumsi gula jauh di atas batas harian yang direkomendasikan. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) sering mengingatkan bahwa anak-anak di bawah usia dua tahun sebaiknya tidak mengonsumsi gula tambahan sama sekali, sementara anak yang lebih besar harus membatasi asupannya agar tidak melebihi 25 gram atau sekitar enam sendok teh per hari.
Bahaya dari konsumsi gula yang berlebihan dan tidak terdeteksi ini sangat nyata. Dalam jangka pendek, anak mungkin mengalami lonjakan energi yang drastis diikuti oleh penurunan drastis (sugar crash), yang memengaruhi suasana hati dan fokus belajar mereka. Namun, dampak jangka panjangnya jauh lebih mengerikan. Kegemukan atau obesitas pada usia dini, kerusakan gigi yang parah, hingga risiko penyakit degeneratif seperti diabetes tipe 2 dan hipertensi dapat mengintai masa depan anak. Gula yang disamarkan ini juga berpotensi merusak indra perasa anak, membuat mereka terbiasa dengan rasa manis yang intens dan akhirnya menolak makanan alami yang lebih sehat seperti sayuran.
Oleh karena itu, kecakapan dalam membaca label informasi nilai gizi menjadi keahlian yang wajib dimiliki oleh setiap orang tua. Jangan hanya terpaku pada klaim “rendah lemak” atau “diperkaya vitamin” di bagian depan kemasan. Periksalah daftar komposisi di bagian belakang; jika bahan-bahan yang berakhir dengan akhiran “-osa” atau berbagai jenis sirup menempati urutan teratas, itu menandakan produk tersebut didominasi oleh gula. Memilih makanan utuh (whole foods) seperti buah segar, kacang-kacangan, dan yogurt tanpa rasa merupakan langkah preventif terbaik untuk memastikan tumbuh kembang anak berjalan optimal tanpa ancaman gula yang terselubung.