Lifestyle
Waspada Bahaya Tersembunyi: 7 Jenis Makanan yang Pantang Dimasak dengan Aluminium Foil
Semarang (usmnews) – Dikutip dari cnnindonesia.com Aluminium foil telah lama menjadi “sahabat” di dapur banyak rumah tangga. Kepraktisannya dalam menjaga suhu makanan, mempercepat proses pematangan, serta kemudahannya untuk membungkus sisa makanan membuatnya menjadi barang wajib di laci dapur. Namun, di balik kemilau lembarannya yang serbaguna, para ahli kesehatan mulai membunyikan alarm peringatan. Penggunaan lembaran logam tipis ini ternyata tidak seaman yang dikira, terutama jika dipertemukan dengan jenis bahan makanan atau metode memasak tertentu.
Dietisien Bridget Wood menyoroti adanya risiko kesehatan jangka panjang yang mengintai. Penelitian menunjukkan bahwa penggunaan aluminium foil yang tidak tepat dapat menyebabkan partikel logam berpindah (leaching) ke dalam makanan dan terakumulasi di dalam tubuh. Meskipun dampaknya tidak langsung terasa, akumulasi aluminium berlebih sering dikaitkan dengan risiko penyakit neurodegeneratif. Oleh karena itu, sangat penting untuk memastikan foil yang Anda gunakan berlabel food grade, atau lebih baik lagi, mulai beralih ke wadah kaca tahan panas.
Berikut adalah tujuh kondisi dan jenis makanan yang sebaiknya dihindari saat menggunakan aluminium foil demi menjaga kesehatan keluarga:
1. Pantangan Keras di Microwave
Ini adalah aturan keselamatan nomor satu. Jangan pernah memasukkan aluminium foil ke dalam microwave. Gelombang elektromagnetik microwave akan memantul pada permukaan logam, memicu percikan api yang bisa menyebabkan kebakaran atau kerusakan alat. Selain risiko ledakan, menyimpan sisa makanan di dalam foil juga tidak disarankan karena sifatnya yang tidak kedap udara, sehingga bakteri lebih mudah masuk.
2. Makanan Asam (Tomat, Jeruk, Cuka)
Hindari membungkus atau memasak makanan yang bersifat asam dengan foil. Bahan makanan seperti tomat, jeruk nipis, lemon, atau bumbu marinasi yang mengandung cuka dapat memicu reaksi kimia agresif. Tingkat keasaman yang tinggi akan melarutkan lapisan aluminium, menyebabkan logam tersebut luruh dan bercampur ke dalam hidangan yang Anda santap.
3. Hidangan Tinggi Garam
Sama halnya dengan asam, garam (natrium klorida) juga musuh bagi aluminium foil. Kandungan garam yang tinggi pada masakan dapat berinteraksi dengan ion aluminium. Reaksi ini mempercepat pelepasan partikel logam ke dalam makanan. Jadi, jika Anda memasak hidangan yang sangat asin, sebaiknya gunakan baking paper atau wadah keramik.
4. Memanggang dalam Waktu Lama
Durasi memasak berbanding lurus dengan risiko kontaminasi. Memanggang daging atau hidangan lain berjam-jam dengan bungkus foil bukanlah ide yang bijak. Semakin lama makanan bersentuhan dengan aluminium di dalam oven, semakin banyak pula residu logam yang berpotensi terserap ke dalam makanan tersebut.
5. Suhu Terlampau Tinggi
Meskipun aluminium foil diklaim tahan panas hingga lebih dari 500 derajat Celcius, batas aman untuk memasak makanan sebenarnya jauh di bawah itu. Para ahli menyarankan untuk tidak menggunakan foil pada suhu di atas 400 derajat Fahrenheit (sekitar 200 derajat Celcius). Panas ekstrem dapat memperbesar pori-pori logam dan meningkatkan risiko migrasi partikel aluminium ke dalam makanan.
6. Ikan dan Makanan Laut
Bagi pencinta seafood, perhatikan hal ini. Riset menunjukkan bahwa daging ikan memiliki struktur yang lebih rentan menyerap aluminium dibandingkan dengan daging sapi atau unggas. Membakar ikan yang dibungkus foil memang praktis dan lezat, namun risiko kesehatan yang menyertainya membuat metode ini sebaiknya ditinggalkan.
7. Kue Kering (Cookies)
Poin terakhir ini lebih berkaitan dengan estetika dan kemudahan memanggang. Kue kering yang dipanggang di atas aluminium foil cenderung menempel kuat pada permukaannya. Akibatnya, saat kue matang dan hendak diangkat, bagian bawahnya sering kali hancur atau tertinggal di foil. Penggunaan kertas roti (parchment paper) jauh lebih disarankan untuk hasil yang sempurna.