Business

Upaya Penyelamatan Spesies: Misi Diplomatik Orangutan Jennifer ke Jepang

Published

on

Semarang (usmnews) – Dikutip dari Kompas.com Pemerintah Indonesia kembali menunjukkan komitmen seriusnya dalam upaya konservasi satwa liar yang terancam punah. Kali ini, sebuah langkah strategis diambil melalui kerja sama internasional dengan Jepang.

Seekor orangutan betina berusia 15 tahun bernama Jennifer, yang berasal dari Kalimantan, telah diterbangkan ke Tobe Zoo di Prefektur Ehime, Jepang. Misi utama dari pengiriman ini bukan sekadar pemindahan satwa, melainkan sebuah upaya perjodohan yang diharapkan dapat menyelamatkan garis keturunan spesies ini dari ancaman kepunahan.

Direktur Konservasi Spesies dan Genetik Kementerian Kehutanan (Kemenhut), Ahmad Munawir, menjelaskan bahwa Jennifer akan dipertemukan dengan Hayato, seekor orangutan jantan yang sudah lebih dulu menetap di kebun binatang tersebut. Hayato diketahui belum memiliki pasangan, dan kehadiran Jennifer diharapkan dapat memicu proses perkembangbiakan yang sukses.

Langkah ini dinilai krusial untuk menjaga keragaman genetik (genetic diversity) orangutan, sehingga populasi mereka tetap sehat dan lestari, meskipun berada jauh dari habitat aslinya di hutan hujan tropis Indonesia.

Program perjodohan ini bukanlah keputusan yang diambil secara mendadak, malainkan hasil dari proses panjang diplomasi dan koordinasi antarlembaga. Awalnya, inisiatif ini bermula dari komunikasi antara Tobe Zoo dan Taman Safari Indonesia. Seiring berjalannya waktu, skala kerja sama ini meningkat menjadi kesepakatan antar-pemerintah (G to G) yang melibatkan sektor kehutanan kedua negara. Skema yang digunakan dalam program ini dikenal sebagai breeding loan atau peminjaman untuk pengembangbiakan.

Dalam perjanjian ini, status kepemilikan Jennifer—beserta keturunan yang mungkin lahir nantinya—tetap berada di tangan pemerintah Indonesia.

Durasi kerja sama konservasi ini disepakati selama lima tahun ke depan, dengan opsi perpanjangan. Tidak hanya fokus pada perjodohan satwa, kemitraan ini juga mencakup aspek yang lebih luas seperti pertukaran pengetahuan, alih teknologi, dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia. Jansen Manansang, Co-founder Taman Safari Indonesia, menambahkan bahwa kolaborasi ini akan melibatkan para keeper, staf medis, dan dokter hewan dari kedua negara untuk saling belajar dan berbagi pengalaman terbaik dalam perawatan satwa.

Jepang dipilih sebagai mitra bukan tanpa alasan. Negara ini dikenal memiliki apresiasi yang tinggi terhadap satwa liar, khususnya orangutan, serta didukung oleh fasilitas lembaga konservasi yang mumpuni. Ahmad Munawir menegaskan bahwa setiap pengiriman satwa ke luar negeri dilakukan dengan sangat selektif, memastikan standar kesejahteraan hewan terpenuhi dengan baik. Melalui diplomasi satwa ini, diharapkan upaya pelestarian orangutan tidak hanya bergema di kancah internasional, tetapi juga memberikan dampak positif balik bagi konservasi di tanah air.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Exit mobile version