Lifestyle
Fenomena “Daun Surga” Indonesia: Mengapa Warga Amerika Serikat Begitu Terobsesi dengan Kratom?
Semarang (usmnews) – Dikutip dari CNBCIndonesia.com Belakangan ini, sebuah tanaman herbal asli Indonesia yang dijuluki sebagai “daun surga” tengah menjadi pusat perhatian di pasar internasional, khususnya di Amerika Serikat (AS). Tanaman ini secara ilmiah dikenal dengan nama Mitragyna speciosa atau yang lebih populer disebut Kratom. Meskipun di dalam negeri namanya mungkin belum sepenuhnya akrab di telinga masyarakat luas, di Negeri Paman Sam, permintaan terhadap komoditas ini melonjak tajam karena dianggap memiliki berbagai khasiat medis dan peningkatan kualitas hidup.
Mengapa Disebut “Daun Surga”?
Julukan “daun surga” muncul bukan tanpa alasan. Masyarakat di Amerika Serikat menggunakan kratom sebagai alternatif alami untuk meningkatkan energi, stamina, hingga memperbaiki suasana hati (mood booster). Bagi banyak warga AS, kratom dianggap sebagai “penyelamat” yang mampu memberikan efek vitalitas tanpa harus bergantung pada obat-obatan kimia sintetis. Tanaman tropis ini umumnya tumbuh subur di wilayah Asia Tenggara, dan Indonesia—terutama kawasan Kalimantan di sepanjang Sungai Kapuas—menjadi pemasok utama bagi kebutuhan global tersebut.
Manfaat dan Khasiat Kesehatan
Berdasarkan catatan medis tradisional dan riset modern, kratom telah digunakan selama ratusan tahun untuk mengatasi berbagai keluhan kesehatan. Di antara manfaat utamanya yang sangat dicari oleh pasar global adalah kemampuannya sebagai pereda nyeri alami (analgesik) dan solusi untuk mengatasi kelelahan kronis. Selain itu, penelitian dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menunjukkan bahwa kratom mengandung senyawa bioaktif yang berpotensi memiliki sifat anti-inflamasi, anti-diabetes, hingga anti-kanker. Di Amerika, masyarakat biasanya mengonsumsi kratom dalam bentuk serbuk yang diseduh seperti teh, kapsul suplemen, atau bahkan dalam bentuk ekstrak cair.
Dampak Ekonomi yang Signifikan
Popularitas kratom di luar negeri membawa angin segar bagi perekonomian Indonesia. Berdasarkan data perdagangan, nilai ekspor kratom sangat menggiurkan. Dalam bentuk ekstrak, harga jualnya di pasar internasional bahkan bisa menyentuh angka US$ 6.000 atau sekitar Rp 90 juta per kilogram. Pada tahun 2023 saja, Indonesia tercatat mengirimkan lebih dari 4.000 ton kratom ke Amerika Serikat.
Beberapa daerah seperti Kalimantan Barat, Jawa Timur, dan Jakarta menjadi penopang utama ekspor ini. Di Kalimantan, budidaya kratom bahkan mulai menggeser komoditas tradisional seperti karet karena nilai ekonominya yang jauh lebih tinggi. Selain memberikan keuntungan finansial bagi petani lokal dan menekan angka pengangguran, tanaman ini juga memiliki fungsi ekologis untuk mencegah abrasi di sepanjang tepian sungai.
Tantangan Regulasi dan Status Hukum
Meski memiliki potensi ekonomi yang dahsyat, perjalanan kratom sebagai komoditas ekspor bukannya tanpa hambatan. Di masa lalu, kratom sempat menuai kontroversi dan masuk dalam pengawasan ketat karena dikategorikan dalam daftar narkotika golongan 1. Namun, setelah melalui serangkaian kajian mendalam dan mempertimbangkan manfaat ekonominya bagi masyarakat, pemerintah Indonesia melalui Kementerian Perdagangan akhirnya memberikan lampu hijau untuk ekspor dengan regulasi yang lebih jelas melalui Permendag.
Secara keseluruhan, kratom atau “daun surga” ini telah membuktikan dirinya sebagai harta karun hijau dari Indonesia yang mampu menembus pasar elit dunia. Dengan manajemen yang tepat dan standarisasi kualitas yang terjaga, tanaman ini diprediksi akan terus menjadi komoditas unggulan yang mengharumkan nama Indonesia di kancah industri herbal global.