Tech
Transformasi Google Search: Mengenal Fitur Personal Intelligence yang Semakin Intuitif

Semarang (usmnews) – Dikutip dari tekno.kompas.com Teknologi mesin pencari sedang memasuki babak baru yang jauh lebih personal. Berdasarkan laporan terbaru dari KompasTekno, raksasa teknologi Google secara resmi telah memperluas jangkauan fitur terbarunya, yaitu Personal Intelligence, ke dalam ekosistem mesin pencarian Google Search. Inovasi ini menandai pergeseran besar dalam cara kita berinteraksi dengan informasi di internet, di mana Google tidak lagi sekadar menyajikan data umum, melainkan jawaban yang disesuaikan secara unik untuk setiap individu.
Apa itu Personal Intelligence?

Secara mendasar, Personal Intelligence adalah fitur kecerdasan buatan (AI) yang dirancang untuk membuat Google Search “lebih mengenal” penggunanya. Fitur ini bekerja dengan cara mengintegrasikan data dari berbagai layanan Google lainnya yang sudah kita gunakan sehari-hari, seperti Gmail, Google Photos, dan YouTube. Dengan menghubungkan titik-titik data dari platform tersebut, Google Search mampu memahami konteks kehidupan pengguna, minat pribadi, hingga kebutuhan mendesak tanpa perlu penjelasan yang panjang lebar.
Robby Stein, VP Product di Google Search, menjelaskan bahwa tujuan utama dari pembaruan ini adalah untuk menciptakan pengalaman pencarian yang terasa unik bagi setiap orang. Sebagai contoh, jika seorang pengguna mencari “rekomendasi mantel,” Google tidak akan hanya menampilkan daftar mantel populer secara acak. Sebaliknya, melalui AI Mode, sistem akan melihat data cuaca di lokasi pengguna, meninjau riwayat belanja sebelumnya, bahkan mempertimbangkan gaya berpakaian yang sering muncul dalam dokumentasi foto atau aktivitas YouTube mereka. Hasilnya? Pengguna akan mendapatkan saran mantel yang benar-benar relevan, seperti mantel tahan angin yang sesuai dengan tren lokal dan preferensi gaya pribadinya.
Integrasi yang Mulus dan Cerdas
Salah satu keunggulan utama dari Personal Intelligence adalah kemampuannya untuk beroperasi di balik layar secara halus. Pengguna tidak lagi diharuskan memasukkan kata kunci yang terlalu spesifik atau teknis. Keajaiban ini dimungkinkan karena AI Mode dapat mempertimbangkan variabel seperti jenis item yang sering dibeli dan toko favorit pengguna. Hal ini tentu sangat membantu, terutama dalam aktivitas belanja daring, di mana pilihan yang melimpah seringkali justru membingungkan konsumen.
Selain itu, fitur ini sebelumnya telah memulai debutnya pada asisten AI Gemini dan kini diperluas ke Search untuk memberikan konsistensi pengalaman di seluruh platform Google. Dengan integrasi ini, Google Search bukan lagi sekadar alat pencari informasi statis, melainkan asisten pribadi yang proaktif dalam memberikan solusi.
Batasan dan Ketersediaan
Meski menawarkan kecanggihan yang menggiurkan, Google tetap menerapkan batasan tertentu demi alasan fungsionalitas dan keamanan. Saat ini, fitur Personal Intelligence baru tersedia dalam versi terbatas bagi pengguna di Amerika Serikat yang berlangganan paket Google AI Pro dan AI Ultra. Perlu dicatat bahwa fitur ini bersifat opsional; pengguna memiliki kendali untuk mengaktifkan atau menonaktifkannya sesuai kenyamanan mereka.
Selain itu, Google menegaskan bahwa fitur ini hanya diperuntukkan bagi akun Google pribadi. Artinya, akun yang dikelola oleh organisasi, seperti akun Workspace bisnis, perusahaan, atau instansi edukasi, belum mendapatkan akses ke fitur ini. Hal ini kemungkinan dilakukan untuk menjaga privasi data sensitif di lingkungan korporasi.

Hingga saat ini, belum ada informasi resmi mengenai kapan fitur Personal Intelligence akan diluncurkan secara global, termasuk di pasar Indonesia. Namun, melihat tren perkembangan teknologi AI Google yang masif, masyarakat Indonesia tentu sangat menantikan kehadiran fitur ini untuk mempermudah navigasi digital di masa depan. Kita hanya perlu menunggu pengumuman selanjutnya dari Google terkait ekspansi global fitur pintar ini.







