Business
Transformasi “Emas Kuning” di Lahan Gambut, Strategi Kementerian Transmigrasi Jadikan Nanas Komoditas Unggulan Ekonomi Rakyat
Semarang (usmnews) – Dikutip dari sindonews.com Pemerintah melalui Kementerian Transmigrasi terus berupaya mencari terobosan baru untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat di kawasan transmigrasi. Pada pertengahan Januari 2026 ini, fokus utama tertuju pada Kabupaten Kampar, Provinsi Riau, yang dinilai memiliki potensi agraris luar biasa. Wakil Menteri Transmigrasi, Viva Yoga Mauladi, secara khusus menyoroti potensi buah nanas sebagai “emas kuning” yang layak dikembangkan menjadi komoditas unggulan nasional dari wilayah transmigrasi.
Hal ini disampaikan Viva Yoga saat menghadiri Festival Nanas yang diselenggarakan di Balai Pelatihan dan Pemberdayaan Masyarakat Transmigrasi (BPPMT) Pekanbaru. Festival ini bukan sekadar seremonial, melainkan menjadi panggung strategis untuk menyerap aspirasi akar rumput sekaligus memamerkan inovasi produk turunan nanas.
Jeritan Hati Petani: Potensi Besar yang Terbentur Kepemilikan Lahan
Di balik kemeriahan festival, terselip realitas di lapangan yang disuarakan oleh para petani. Sendo Naminrova (61), seorang petani nanas dari Desa Rimbo Panjang, Kecamatan Tambang, Kabupaten Kampar, memanfaatkan momen pertemuan pada 17 Januari 2026 tersebut untuk berdialog langsung dengan Wakil Menteri.
Sendo mengungkapkan sebuah ironi: Desa Rimbo Panjang memiliki hamparan kebun nanas seluas 108 hektare yang sangat produktif, namun status kepemilikan lahannya menjadi kendala utama. “Pak, lahan yang saya garap itu bukan milik pribadi, tetapi milik orang lain yang bersedia memberikan pemanfaatannya kepada saya,” keluh Sendo.
Padahal, dampak ekonomi dari budidaya ini sangat nyata. Sendo merinci bahwa dari satu hektare lahan saja, petani bisa memanen hingga 19.000 buah nanas. Dengan harga jual di kisaran Rp6.000 per buah, pendapatan yang dihasilkan mampu menjadi tulang punggung keluarga, termasuk membiayai pendidikan anak-anak hingga jenjang yang tinggi. Namun, ketidakpastian status lahan membuat para petani yang berjumlah 38 orang di desanya merasa was-was akan masa depan usaha tani mereka.
Solusi Reforma Agraria: Transmigrasi Karya Nusa
Menanggapi keluhan mendasar tersebut, Viva Yoga menegaskan komitmen pemerintah di bawah arahan Presiden Prabowo Subianto. Solusi yang ditawarkan adalah program Reforma Agraria melalui skema transmigrasi lokal atau yang dikenal sebagai Transmigrasi Karya Nusa.
Viva Yoga menjelaskan bahwa transmigrasi era baru tidak hanya soal memindahkan penduduk, tetapi memberikan aset produksi. “Tanah yang diberikan bukan sekadar lahan, namun juga sebagai sumber ekonomi untuk meningkatkan pendapatan rakyat,” tegasnya. Ia mengimbau para petani yang belum memiliki lahan sendiri untuk mendaftar dalam program transmigrasi ini agar mendapatkan kepastian hak milik atas tanah garapan, sehingga kesejahteraan mereka lebih terjamin.
Hilirisasi dan Edukasi: Dari Kebun ke Produk Bernilai Tambah
Kabupaten Kampar sendiri telah lama dikenal sebagai sentra nanas dengan tiga desa penyangga utama: Rimbo Panjang, Pagaruyung, dan Kualu Nenas. Untuk meningkatkan nilai ekonomi, Kementerian Transmigrasi tidak ingin petani hanya menjual buah segar. Melalui BPPMT Pekanbaru, pemerintah mendorong hilirisasi produk.
Dalam festival tersebut, dipamerkan berbagai produk olahan kreatif seperti sirup, dodol, keripik, hingga jajanan pasar berbahan dasar nanas. Bahkan, Kementerian merencanakan pembangunan rumah produksi khusus nanas untuk menstandarisasi kualitas produk olahan ini agar bisa bersaing di pasar yang lebih luas.
Sebagai langkah konkret regenerasi petani dan transfer pengetahuan, Viva Yoga juga meresmikan Pusat Edukasi Nanas Moris yang berlokasi di area belakang BPPMT Pekanbaru. Pusat edukasi ini dirancang sebagai kawah candradimuka bagi para calon transmigran. Harapannya, pengetahuan budidaya nanas ini dapat mereka bawa ke lokasi penempatan transmigrasi baru, sehingga komoditas ini tumbuh merata di berbagai daerah.
Keunggulan Nanas Moris di Lahan Marjinal
Kepala BPPMT Pekanbaru, Ahmad Syahir, menambahkan bahwa pemilihan nanas sebagai maskot dan komoditas unggulan bukan tanpa alasan. Tanaman ini memiliki daya adaptasi (adaptif) yang luar biasa. Nanas mampu tumbuh subur di lahan-lahan marjinal yang biasanya dihindari tanaman lain, seperti lahan gambut, tanah tandus, atau tanah dengan tingkat kesuburan rendah.
Secara spesifik, varietas Nanas Moris menjadi primadona karena karakteristiknya yang unggul. Menurut Sendo, varietas ini memiliki rasa yang manis, aroma yang harum, tahan terhadap serangan hama, serta memiliki daya simpan (shelf-life) yang panjang hingga satu minggu pascapanen, membuatnya sangat potensial untuk distribusi jarak jauh.