International
Swiss di Ambang Pilihan: Referendum Nasional untuk Membatasi Populasi Penduduk Tetap

Semarang (usmnews) – Dikutip dari International.kompas.com Sebuah kebijakan luar biasa tengah menjadi perbincangan hangat di kancah internasional. Swiss, negara yang dikenal dengan pemandangan pegunungan Alpen yang memukau dan stabilitas ekonominya, berencana untuk mengadakan pemungutan suara nasional atau referendum pada pertengahan Juni mendatang. Isu yang diangkat sangat krusial, yakni usulan untuk menetapkan batas maksimal populasi penduduk di negara tersebut agar tidak melampaui angka 10 juta jiwa. Rencana ini lahir dari meningkatnya kekhawatiran terhadap lonjakan jumlah pendatang yang dianggap mulai membebani kapasitas infrastruktur dan kualitas layanan publik.
Inisiatif Keberlanjutan dari Sayap Kanan

Usulan kebijakan ini, yang secara resmi disebut sebagai “Inisiatif Keberlanjutan,” dipelopori oleh Partai Rakyat Swiss (SVP). Sebagai partai sayap kanan terbesar di negara tersebut, SVP berhasil memanfaatkan sistem demokrasi langsung Swiss untuk memaksakan pemungutan suara ini setelah mengumpulkan lebih dari 100.000 tanda tangan warga. Inti dari usulan mereka adalah membatasi jumlah penduduk tetap agar tidak menembus batas psikologis 10 juta orang setidaknya hingga tahun 2050.
SVP juga mengajukan klausul darurat: jika populasi penduduk menyentuh angka 9,5 juta jiwa sebelum tenggat waktu tersebut, pemerintah pusat wajib segera mengintervensi. Langkah-langkah darurat yang diusulkan mencakup pembatasan ketat terhadap pemberian suaka bagi pengungsi serta pengetatan aturan mengenai reuni keluarga bagi warga asing yang menetap di Swiss. Strategi ini dianggap sebagai solusi radikal untuk menjaga keseimbangan sosial dan lingkungan di negara itu.
Perbandingan Populasi: Swiss vs Jakarta
Data terkini menunjukkan bahwa jumlah penduduk Swiss saat ini berada di kisaran 9,1 juta jiwa. Meskipun angka ini mungkin terdengar besar bagi sebuah negara di Eropa Tengah, fakta unik muncul saat kita membandingkannya dengan kota-kota besar di belahan dunia lain. Sebagai ilustrasi, populasi Swiss ternyata masih lebih rendah jika dibandingkan dengan DKI Jakarta. Data semester pertama tahun 2025 mencatat bahwa populasi tetap de jure Jakarta mencapai 11,01 juta jiwa.
Meskipun populasinya lebih kecil dari Jakarta, laju pertumbuhan penduduk di Swiss tergolong sangat cepat. Sejak tahun 2000, jumlah penduduk Swiss telah meningkat sekitar 25 persen, sebuah angka pertumbuhan yang jauh melampaui negara-negara tetangganya di Eropa. Hal yang paling mencolok adalah fakta bahwa sekitar 27 persen dari total penduduk Swiss saat ini merupakan warga negara asing, yang memicu perdebatan mengenai identitas nasional dan keberlanjutan sumber daya.
Alasan di Balik Desakan Pembatasan
Argumen utama yang diusung oleh kelompok pendukung pembatasan adalah dampak dari apa yang mereka sebut sebagai “ledakan penduduk.” SVP mengeklaim bahwa migrasi besar-besaran—yang dalam satu tahun terakhir mencatat masuknya lebih dari 180.000 orang—telah merusak kelestarian lingkungan, menciptakan kepadatan di transportasi publik, serta memicu lonjakan harga sewa hunian yang membuat warga lokal kesulitan. Krisis perumahan inilah yang menjadi bahan bakar utama tingginya dukungan publik terhadap inisiatif ini.
Prospek Keberhasilan Referendum

Hasil jajak pendapat terbaru menunjukkan gambaran yang kompetitif. Sekitar 48 persen responden menyatakan dukungan mereka terhadap langkah pembatasan tersebut. Michael Hermann, seorang pakar politik terkemuka, menilai peluang keberhasilan referendum ini berada di angka 50:50. Meski dukungan awal terlihat tinggi karena keresahan masyarakat terhadap krisis hunian, tantangan besar biasanya muncul menjelang hari pemilihan ketika argumen mengenai dampak ekonomi dan hubungan internasional mulai diperdebatkan secara lebih mendalam oleh pihak oposisi.
Referendum ini tidak hanya akan menentukan masa depan demografi Swiss, tetapi juga akan menjadi sinyal penting bagi negara-negara Eropa lainnya yang tengah bergelut dengan isu serupa terkait migrasi dan daya tampung wilayah.






