Connect with us

Business

Sinergi Produktivitas dan Lingkungan, Bagaimana Efisiensi Pertanian Menjadi Kunci Menekan Emisi Karbon Global

Published

on

Semarang (usmnews) – Dikutip dari kompas.com Sebuah studi terbaru yang dipimpin oleh Ariel Ortiz-Bobea, associate professor di Dyson School of Applied Economics and Management, Cornell University, membawa kabar optimis bagi masa depan pangan dan iklim dunia. Penelitian ini mematahkan anggapan bahwa peningkatan hasil pertanian harus selalu dibayar mahal dengan kerusakan lingkungan. Sebaliknya, Ortiz-Bobea menegaskan bahwa tujuan pelestarian lingkungan dan peningkatan produktivitas pangan sebenarnya dapat dicapai secara bersamaan. Menurutnya, strategi yang paling efisien dan ekonomis untuk mencapai target iklim global justru terletak pada peningkatan produktivitas itu sendiri.

Bukti Data Enam Dekade: Produksi Melonjak, Emisi Terkendali

​Para peneliti menggali data pertanian global dalam rentang waktu yang sangat panjang, yakni dari tahun 1961 hingga 2021, dengan memanfaatkan basis data dari USDA (Departemen Pertanian AS) dan Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO). Analisis historis ini mengungkapkan sebuah tren positif: meskipun produksi pertanian dunia terus meroket, laju kenaikan emisi gas rumah kaca tidak bergerak secepat kenaikan produksi tersebut.

​Secara statistik, selama 60 tahun terakhir, produktivitas pertanian global telah mengalami lonjakan drastis hingga 270 persen. Namun, kabar baiknya, emisi gas rumah kaca yang dihasilkan dari sektor ini “hanya” mengalami kenaikan sekitar 45 persen. Kesenjangan angka ini menunjukkan bahwa sektor pertanian dunia semakin efisien; para petani kini mampu menghasilkan output yang jauh lebih besar untuk setiap unit input yang mereka gunakan.

Pergeseran Fokus: Dari Kalori ke Nilai Ekonomi

​Dalam studi ini, tim peneliti juga melakukan pembaruan dalam metode analisis. Jika banyak riset sebelumnya hanya terpaku pada jumlah produksi fisik atau kalori yang dihasilkan, Ortiz-Bobea dan timnya memilih pendekatan nilai ekonomi yang lebih relevan dengan statistik nasional.

​Mereka tidak sekadar menghitung berapa banyak makanan yang dihasilkan, tetapi mengukur keseluruhan rantai nilai: berapa banyak modal, bahan baku, dan tenaga kerja yang diinvestasikan, serta berapa banyak emisi yang terbuang sebagai “produk sampingan” dari proses tersebut. Kerangka kerja ini memberikan gambaran yang lebih komprehensif mengenai efisiensi sumber daya.

Peran Vital Teknologi dan Peringatan bagi Kebijakan R&D

​Faktor utama yang memungkinkan terjadinya penekanan laju emisi ini adalah kemajuan teknologi. Penggunaan benih varietas unggul, pupuk yang lebih efisien, serta modernisasi alat pertanian memungkinkan petani memanen hasil maksimal tanpa perlu melakukan pembukaan lahan baru secara masif. Artinya, intensifikasi pertanian (memaksimalkan lahan yang ada) terbukti lebih ramah lingkungan dibandingkan ekstensifikasi (memperluas lahan) yang sering kali memicu deforestasi.

​Meskipun demikian, sektor pertanian dan perubahan penggunaan lahan masih menyumbang sekitar seperlima dari total emisi gas rumah kaca global akibat aktivitas manusia. Oleh karena itu, upaya mitigasi tidak boleh kendur.

​Ortiz-Bobea menutup studinya dengan sebuah peringatan penting bagi para pembuat kebijakan, khususnya berkaca pada kondisi di Amerika Serikat. Ia menyoroti bahwa produktivitas pertanian di AS mulai menunjukkan tanda-tanda perlambatan. Hal ini disinyalir akibat stagnasi pendanaan untuk Riset dan Pengembangan (R&D) selama empat dekade terakhir. Studi ini menegaskan bahwa tanpa investasi berkelanjutan pada inovasi teknologi dan kebijakan R&D yang terarah, kemampuan dunia untuk menekan emisi sambil memberi makan populasi global akan terancam. Pemerintah perlu segera mengidentifikasi dan mendorong teknologi yang mampu menyeimbangkan trade-off antara ekonomi dan ekologi.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *