Connect with us

Business

Rupiah Jadi Mata Uang Terburuk Kedua di Asia Sepanjang 2025?

Published

on

Semarang(Usmnews)– Dikutip dari finansial.bisnis.com Performa mata uang Rupiah sepanjang tahun 2025 berada dalam sorotan tajam, mencatatkan kinerja yang sangat mengecewakan di kancah regional. Berdasarkan data yang dirilis oleh Bloomberg, dalam periode year-to-date (YtD) atau sejak 1 Januari hingga 14 November 2025, nilai tukar Rupiah telah terdepresiasi sebesar 3,44% terhadap dolar Amerika Serikat.

Pelemahan ini menempatkan Rupiah pada posisi yang tidak menguntungkan, yakni sebagai mata uang dengan performa terburuk kedua di antara 11 mata uang utama Asia yang dipantau. Posisi terburuk ditempati oleh Rupee India, yang melemah 3,52%, hanya selisih tipis 0,08 basis persentase di atas Rupiah.Jika dirinci lebih lanjut, tren pelemahan Rupiah ini tampak konsisten secara historis.

Data menunjukkan depresiasi sebesar 0,62% dalam satu bulan terakhir, 0,86% dalam enam bulan terakhir, dan yang paling signifikan, pelemahan tajam sebesar 3,54% yang terkonsentrasi dalam tiga bulan terakhir. Periode kuartal terakhir ini kebetulan bertepatan dengan sejumlah peristiwa domestik yang menyita perhatian, termasuk demonstrasi besar-besaran di beberapa kota pada akhir Agustus dan proses transisi kepemimpinan di Kementerian Keuangan dari Sri Mulyani Indrawati ke Purbaya Yudhi Sadewa.Kondisi Rupiah ini sangat kontras jika dibandingkan dengan mata uang negara-negara tetangga di kawasan ASEAN.

Alih-alih melemah, mata uang seperti Baht Thailand dan Dolar Singapura justru menguat signifikan, masing-masing sebesar 5,9% dan 5,16%. Performa terbaik di Asia secara mengejutkan diraih oleh Ringgit Malaysia, yang berhasil melesat dengan penguatan 8,22% (YtD). Di ASEAN, praktis hanya Rupiah dan Peso Filipina (-1,82%) yang berada di zona merah.

Faktor Pemicu:

Arus Modal Asing Rp184 Triliun Hengkang Salah satu faktor utama di balik terpuruknya nilai tukar Rupiah adalah terjadinya arus modal asing keluar (capital outflow) dalam jumlah yang masif dari pasar keuangan domestik. Bank Indonesia (BI) mencatat, sepanjang tahun berjalan hingga 13 November 2025, modal asing telah hengkang dengan nilai total mencapai Rp184,09 triliun.Keluarnya dana ini terjadi di berbagai instrumen.

Pasar saham mencatatkan jual neto (net sell) sebesar Rp37,24 triliun. Pasar Surat Berharga Negara (SBN) ditinggalkan investor asing senilai Rp6,45 triliun. Namun, pelarian modal terbesar terjadi di instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), yang mencatatkan outflow jumbo sebesar Rp140,40 triliun.Meskipun demikian, beberapa indikator pasar menunjukkan sinyal yang beragam. Premi risiko investasi Indonesia, yang tercermin pada credit default swap (CDS) bertenor 5 tahun, tercatat membaik ke level 73,51 basis poin (bps) per 13 November, setelah sebelumnya berada di 76,05 bps pada 7 November.

Di sisi lain, tingkat imbal hasil (yield) SBN tenor 10 tahun terpantau stabil di angka 6,12%, sementara imbal hasil US Treasury 10 tahun berada di 4,119%.Pada perdagangan Jumat (14/11/2025), Rupiah sempat dibuka menguat tipis ke posisi Rp16.690 per dolar AS, dari penutupan hari sebelumnya di Rp16.720.Optimisme Pemerintah di Tengah TekananDi tengah tekanan yang ada, Bank Indonesia melaporkan bahwa posisi cadangan devisa (cadev) per akhir Oktober 2025 justru mengalami kenaikan.

Cadev tercatat sebesar US$149,9 miliar, naik dari posisi akhir September yang sebesar US$148,7 miliar. Menurut Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, kenaikan ini ditopang oleh penerbitan global bond pemerintah serta penerimaan pajak dan jasa. Posisi cadev ini ditegaskan masih sangat sehat, setara dengan pembiayaan 6,2 bulan impor, jauh di atas standar kecukupan internasional.

Menanggapi fenomena outflow besar-besaran, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengaku tetap optimistis bahwa aliran modal asing tersebut akan kembali masuk ke Indonesia. Ia tidak menampik bahwa investor di pasar SBN belum sepenuhnya kembali, meski pasar saham dinilai sudah relatif normal.Purbaya menyebut, para investor obligasi global saat ini masih dalam posisi wait and see, menunggu bukti perbaikan kondisi perekonomian domestik.

“Kalau saya bisa menunjukkan di triwulan keempat ini ekonominya tumbuh di atas 5,5%, [kisaran] 5,6%-5,7%, itu pasti akan balik lagi ke sini. Mereka mencari tempat yang paling stabil,” jelasnya di Jakarta, Jumat (14/11/2025).Secara menarik, mantan Ketua LPS itu justru menilai outflow bukan sebagai masalah besar. Ia berpendapat bahwa kondisi tersebut malah menunjukkan bahwa pasar keuangan Indonesia cukup likuid, di mana investor dapat keluar dengan mudah tanpa hambatan signifikan.‎

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *