International

Retorika Ebrahim Raisi, Tuduhan Intervensi Asing di Balik Gelombang Kerusuhan Iran

Published

on

Semarang (usmnews) – Dikutip dari SindoNews, Ketegangan politik di Iran kembali memuncak setelah Presiden Ebrahim Raisi melontarkan pernyataan keras terkait rangkaian aksi protes yang berujung pada kerusuhan di berbagai wilayah.

Dalam pidatonya, Raisi secara eksplisit menuding bahwa gelombang anarki yang terjadi bukanlah murni aspirasi domestik, melainkan hasil rancangan sistematis yang dilatih dan didanai oleh musuh bebuyutan Iran, yakni Amerika Serikat dan Israel. Narasi ini mempertegas posisi Teheran yang melihat ketidakstabilan internal sebagai bagian dari “perang hibrida” yang dilancarkan oleh kekuatan Barat.

Pemisahan Antara Kritik dan Kekacauan

​Presiden Raisi menekankan pentingnya membedakan antara hak warga negara untuk menyampaikan pendapat dengan tindakan destruktif yang merusak fasilitas publik. Menurutnya, pemerintah Iran senantiasa terbuka terhadap kritik dan dialog yang membangun. Namun, ia menegaskan bahwa ketika aksi tersebut berubah menjadi pembakaran aset negara dan serangan terhadap aparat keamanan, hal itu sudah dikategorikan sebagai tindakan kriminal yang didorong oleh instruksi luar negeri.

​Pemerintah Iran mengeklaim memiliki bukti bahwa kelompok-kelompok perusuh tersebut telah mendapatkan pelatihan khusus untuk menciptakan kekacauan di jalanan. Strategi ini, menurut Raisi, bertujuan untuk melemahkan kedaulatan Iran dan menciptakan citra buruk negara tersebut di mata internasional.

Penodaan Simbol Agama sebagai Garis Merah

​Salah satu poin paling krusial dalam pernyataan Raisi adalah laporan mengenai pembakaran masjid dan kitab suci Al-Qur’an selama kerusuhan berlangsung. Bagi pemerintah Teheran, tindakan ini bukan sekadar vandalisme biasa, melainkan serangan langsung terhadap identitas dan fondasi spiritual bangsa Iran yang religius.

  • Sentimen Keagamaan: Penggunaan narasi pembakaran Al-Qur’an bertujuan untuk membangkitkan kemarahan publik terhadap para demonstran yang dianggap telah melampaui batas norma agama.
  • Delegitimasi Gerakan: Dengan menyoroti serangan terhadap simbol suci, pemerintah berusaha mendelegitimasi tuntutan para pengunjuk rasa dan melabeli mereka sebagai agen anti-Islam.

Implikasi Geopolitik dan Tindakan Tegas

​Tuduhan terhadap agen-agen Mossad dan intelijen AS menunjukkan bahwa Teheran tidak melihat masalah ini sebagai isu hak asasi manusia semata, melainkan ancaman keamanan nasional. Raisi menegaskan bahwa pihak berwenang tidak akan memberikan ruang bagi siapa pun yang mencoba mengganggu stabilitas negara di bawah arahan asing.

​Langkah hukum dan tindakan tegas di lapangan dipastikan akan terus berlanjut untuk memulihkan ketertiban. Pernyataan ini sekaligus menjadi pesan bagi komunitas internasional bahwa Iran tetap teguh pada pendiriannya dan tidak akan tunduk pada tekanan eksternal yang menggunakan isu kerusuhan domestik sebagai alat diplomasi.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Exit mobile version