Lifestyle

Kenapa Timun Suri Identik dengan Ramadan di Indonesia?

Published

on

Semarang(usmnews) – Kenapa Timun Suri Identik dengan Ramadan menjadi pertanyaan menarik yang sering muncul setiap tahun menjelang bulan suci. Buah ini seolah memiliki jadwal khusus untuk membanjiri pasar dan pinggir jalan hanya saat bulan puasa tiba. Padahal, timun suri sebenarnya bisa tumbuh kapan saja tanpa harus menunggu momen tertentu. Namun, permintaan pasar yang melonjak drastis membuat petani sengaja mengatur masa tanam mereka. Oleh karena itu, keberadaan buah ini menjadi penanda visual bahwa bulan penuh berkah telah tiba bagi masyarakat.

Alasan Utama: Kenapa Timun Suri Identik dengan Ramadan

Faktor kesegaran menjadi alasan kuat Kenapa Timun Suri Identik dengan Ramadan di hati para pecinta kuliner. Tekstur daging buah yang lembut dan kandungan air yang tinggi sangat efektif untuk menghidrasi tubuh setelah seharian berpuasa. Masyarakat Indonesia biasanya mengolah buah ini menjadi es segar dengan tambahan sirup atau santan. Selain itu, timun suri dipercaya memiliki kemampuan untuk mendinginkan suhu tubuh secara alami. Buah ini juga mengandung serat yang sangat baik untuk menjaga kelancaran sistem pencernaan selama berpuasa. Oleh sebab itu, timun suri hampir selalu tersedia di meja makan saat waktu berbuka puasa tiba.

Para pedagang musiman juga memanfataakan momen ini untuk meraup keuntungan berlipat ganda dari penjualan eceran. Mereka biasanya menggelar dagangan di trotoar jalan saat sore hari menjelang waktu ngabuburit.

Baca juga : Resep Membuat Kolak Pisang Candil, Cocok Jadi Menu Takjil Buka Puasa Ramadan di Hari Pertama 2026

Sisi Ekonomi dan Budaya Masyarakat

Selanjutnya, fenomena Kenapa Timun Suri Identik dengan Ramadan juga berkaitan erat dengan strategi pertanian di pedesaan. Petani di wilayah Jawa Barat dan Banten biasanya mulai menanam bibit timun suri dua bulan sebelum puasa. Mereka menghitung waktu panen agar tepat jatuh pada awal atau pertengahan bulan Ramadan. Bahkan, pendapatan dari hasil panen timun suri ini sering kali menjadi modal utama petani untuk merayakan Idulfitri. Hal ini menciptakan sebuah siklus ekonomi musiman yang unik dan saling menguntungkan antara petani, pedagang, dan konsumen.

Di samping itu, kehadiran timun suri sudah menjadi tradisi turun-temurun dalam budaya kuliner Nusantara. Rasa buah yang cenderung tawar justru membuatnya sangat fleksibel untuk dicampur dengan berbagai bahan pemanis lainnya. Dengan demikian, timun suri tetap menjadi primadona takhta takjil meskipun banyak buah impor yang masuk ke pasar lokal. Penjualannya akan terus stabil hingga akhir bulan Ramadan dan perlahan menghilang setelah lebaran usai. Akhirnya, timun suri bukan sekadar buah biasa, melainkan simbol kerinduan masyarakat akan suasana hangat di bulan suci.

Baca juga : Tempat Ngabuburit di Semarang: 4 Lokasi Asyik Berburu Takjil

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Exit mobile version