Sports

Rekam Jejak Kelam di Piala AFF: Mengulas Kegagalan Bima Sakti dan Shin Tae-yong sebagai Arsitek Timnas Indonesia

Published

on

Semarang (usmnews) – Dikutip dari sindonews.com Sejarah panjang partisipasi Timnas Indonesia dalam ajang bergengsi sepak bola Asia Tenggara, Piala AFF, sejak pertama kali digulirkan pada tahun 1996, menyimpan berbagai cerita pasang surut. Hingga saat ini, skuad Garuda dikenal dengan predikat “Spesialis Runner-up” tanpa pernah sekalipun membawa pulang trofi juara. Tercatat, Indonesia telah enam kali merasakan pahitnya kekalahan di partai puncak, yakni pada edisi tahun 2000, 2002, 2004, 2010, 2016, hingga edisi 2020. Namun, di balik pencapaian sebagai finalis tersebut, terdapat catatan yang jauh lebih kelam, yakni kegagalan menembus fase grup yang terjadi sebanyak empat kali: pada tahun 2012, 2014, 2018, dan yang terbaru pada tahun 2024.

Sorotan tajam kini tertuju pada analisis statistik yang menempatkan Bima Sakti dan Shin Tae-yong dalam daftar pelatih dengan performa terburuk dalam sejarah partisipasi Indonesia di fase grup Piala AFF. Sebuah fenomena statistik yang unik namun ironis terjadi dalam empat kegagalan tersebut, di mana Timnas Indonesia selalu tersingkir dengan koleksi poin yang identik, yaitu empat poin. Pada era Piala AFF 2012 di bawah asuhan Nil Maizar dan edisi 2014 di bawah Alfred Riedl, Indonesia gagal lolos dengan mengemas empat poin dari tiga pertandingan yang dimainkan. Nil Maizar membawa tim finis di peringkat ketiga Grup B dengan selisih gol -1, sementara Alfred Riedl juga finis di peringkat ketiga Grup A dengan selisih gol 0. Namun, kegagalan pada tahun 2018 dan 2024 dianggap sebagai titik nadir yang lebih parah karena format kompetisi yang berbeda.

Bima Sakti (2018) dan Shin Tae-yong (2024) dinilai memiliki rapor merah yang lebih pekat karena mereka memainkan jumlah pertandingan yang lebih banyak, yakni empat laga di fase grup, namun tetap hanya mampu mengumpulkan empat poin. Secara matematis, rasio poin per pertandingan mereka lebih rendah dibandingkan era Nil Maizar dan Alfred Riedl.Pada Piala AFF 2018, kegagalan Bima Sakti terasa sangat mengecewakan publik karena ia dibekali dengan materi pemain terbaik di masa itu (The Dream Team). Nama-nama besar seperti Stefano Lilipaly hingga penyerang naturalisasi tajam, Beto Goncalves, menghiasi skuad. Sayangnya, dengan kekuatan penuh tersebut, Indonesia justru terpuruk di peringkat keempat grup dengan selisih gol -1. Sementara itu, pada Piala AFF 2024, situasi yang dihadapi Shin Tae-yong sedikit berbeda dan memunculkan perdebatan tersendiri. Kegagalan pelatih asal Korea Selatan ini dinilai masih bisa dimaklumi oleh sebagian pihak karena adanya kebijakan strategis untuk menurunkan skuad muda. Shin Tae-yong diinstruksikan memanggil pemain-pemain U-23 dengan rata-rata usia 20,3 tahun sebagai ajang pemanasan menuju SEA Games 2025.

Hasilnya, Indonesia finis di peringkat ketiga dengan selisih gol -1. Meskipun memiliki alibi regenerasi pemain, PSSI mengambil langkah tegas. Tak lama setelah kegagalan menembus semifinal Piala AFF 2024 tersebut, Shin Tae-yong resmi diberhentikan dari jabatannya. Pemecatan ini juga didasari oleh rekam jejak sebelumnya, di mana saat diizinkan menggunakan skuad senior terbaik pun (pada edisi 2020 dan 2022), Shin Tae-yong tetap gagal mempersembahkan gelar juara, dengan pencapaian maksimal hanya sebagai finalis dan semifinalis. Kisah kedua pelatih ini menjadi catatan evaluasi penting bagi masa depan sepak bola Indonesia.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Exit mobile version