International
Putin Tegaskan Ambisi Mutlak: Donbas dan Novorossiya Harus Dikuasai, Apapun Caranya

Jakarta (usmnews) – Dikutip dari CNN Indonesia Di tengah sorotan dunia menjelang pertemuan strategisnya dengan Perdana Menteri India, Narendra Modi, di New Delhi pada Kamis (4/12), Presiden Rusia Vladimir Putin kembali mengeluarkan pernyataan keras yang menegaskan posisi Rusia dalam konflik Ukraina. Dalam sebuah wawancara media, Putin secara eksplisit menyatakan bahwa Rusia memiliki satu tujuan akhir yang tidak dapat ditawar: penguasaan penuh atas wilayah Donbas dan “Novorossiya”.
1. Penegasan Tujuan Operasi Militer. Putin menekankan bahwa narasi “pembebasan” wilayah-wilayah tersebut akan terus dikejar hingga tuntas. Ia memberikan sinyal yang jelas bahwa Rusia siap menggunakan segala instrumen yang tersedia untuk mencapai tujuan tersebut.Dua Jalur Pendekatan: Putin menyebutkan bahwa pencaplokan wilayah ini akan dilakukan baik melalui jalur militer (kekerasan bersenjata) maupun “cara lainnya”.Target Akhir: Ia menegaskan bahwa konflik hanya akan dianggap selesai ketika tujuan awal dari apa yang disebut Rusia sebagai “operasi militer khusus” telah tercapai sepenuhnya, yakni ketika wilayah Donbas berada di bawah kendali penuh Moskow.

2. Menghidupkan Kembali Konsep “Novorossiya” Pernyataan Putin juga menyoroti penggunaan istilah historis yang sarat makna politis. Salah satu tuntutan utama Rusia adalah agar Ukraina menyerahkan kendali atas Donbas—wilayah yang sebenarnya telah dianeksasi secara ilegal oleh Rusia namun belum sepenuhnya berhasil ditaklukkan di lapangan.Putin kembali menggunakan istilah “Novorossiya” (Rusia Baru), sebuah terminologi historis dari masa Kekaisaran Rusia yang merujuk pada wilayah-wilayah di sebelah barat. Penggunaan istilah ini bukan hal baru; Putin pernah menggunakannya pada tahun 2014 saat mendeklarasikan aneksasi Semenanjung Krimea. Dengan mengangkat kembali istilah ini, Putin seolah menegaskan klaim historis dan ideologis Rusia atas wilayah kedaulatan Ukraina tersebut.
3. Kegagalan Diplomasi dengan Amerika Serikat, pernyataan keras Putin ini muncul sebagai respons langsung terhadap kebuntuan diplomatik yang baru saja terjadi. Dialog antara pihak Rusia dengan utusan Amerika Serikat, Steve Witkoff dan Jared Kushner, dilaporkan gagal mencapai titik temu.Penolakan Proposal Damai: Putin dikabarkan tidak menyetujui sejumlah poin dalam proposal damai yang diajukan. Syarat Putin: Ia tetap bersikeras pada tuntutan agar militer Ukraina menarik diri sepenuhnya dari wilayah Donbas dan menahan diri dari tindakan militer apa pun. Sikap ini menunjukkan bahwa Rusia belum bersedia melunakkan posisinya di meja perundingan.
4. Kontroversi Proposal Damai Era Trump. Konteks ketegangan ini semakin diperkeruh oleh munculnya proposal damai baru dari pemerintahan Donald Trump pada akhir November lalu. Proposal yang berisi 28 poin tersebut memicu perdebatan karena dianggap berisi klausul yang menguntungkan Rusia.Konsesi untuk Rusia: Beberapa poin dalam rencana tersebut dinilai sebagai bentuk konsesi atau pemberian kelonggaran kepada Moskow. Penolakan Sebelumnya: Gagasan-gagasan yang tertuang dalam proposal itu sebenarnya berisi ide-ide yang sebelumnya telah ditolak mentah-mentah, baik oleh pihak Ukraina maupun negara-negara Eropa, karena dianggap mencederai kedaulatan Ukraina. Putin di New Delhi menegaskan bahwa Rusia belum berniat mengakhiri perang melalui kompromi yang merugikan ambisi teritorialnya. Dengan menghidupkan kembali retorika sejarah “Novorossiya” dan menolak proposal damai AS yang tidak sesuai dengan syaratnya, Putin mengirim pesan bahwa penguasaan Donbas adalah harga mati yang akan diperjuangkan, baik lewat jalur diplomasi yang memaksa maupun kelanjutan agresi militer.







