Business
Perubahan Haluan Sang Naga: China Resmi Tahan Laju Stimulus Baru di 2026 demi Kejar Pertumbuhan Berkualitas
Semarang (usmnews) Dikutip dari ekonomi.bisnis.com Peta ekonomi global kembali mengalami guncangan strategis menjelang pergantian tahun. Berdasarkan laporan analitis yang dirilis oleh Bisnis.com pada Jumat, 12 Desember 2025, pemerintah China mengambil keputusan berani untuk mengubah arah kebijakan fiskal dan moneternya secara signifikan. Beijing dikabarkan akan mengerem atau membatasi peluncuran paket stimulus ekonomi baru untuk tahun anggaran 2026. Langkah ini menandai berakhirnya era “uang mudah” dan beralihnya fokus negara dengan ekonomi terbesar kedua di dunia tersebut menuju strategi pertumbuhan jangka panjang yang lebih fundamental dan berkelanjutan.
Mengakhiri Ketergantungan pada “Obat Kuat” Ekonomi
Selama beberapa tahun terakhir (2023-2025), China gencar menggelontorkan berbagai stimulus jumbo untuk menopang sektor properti yang runtuh dan konsumsi domestik yang lesu pascapandemi. Namun, kebijakan di tahun 2026 ini menyiratkan bahwa para pembuat kebijakan di Beijing mulai menyadari bahaya laten dari ketergantungan stimulus.
Alih-alih terus memompa likuiditas instan yang berisiko menciptakan gelembung utang baru (debt bubble)—terutama di tingkat pemerintah daerah—China memilih untuk menelan “pil pahit” dalam jangka pendek. Mereka tidak lagi mengejar angka pertumbuhan PDB yang fantastis secara artifisial, melainkan lebih mementingkan kesehatan struktur ekonomi. Keputusan untuk mengerem stimulus baru ini didasari oleh evaluasi bahwa intervensi pemerintah yang berlebihan justru dapat menghambat reformasi pasar yang sebenarnya dibutuhkan.
Fokus Baru: High-Quality Development
Narasi utama yang diusung untuk tahun 2026 adalah “Pertumbuhan Jangka Panjang”. Artinya, anggaran negara tidak akan lagi dihamburkan untuk proyek infrastruktur massal yang kurang efisien atau bailout pengembang properti tanpa akhir. Sebaliknya, sumber daya akan dialihkan secara agresif ke sektor-sektor produktif masa depan.
Fokus baru ini meliputi investasi besar-besaran dalam:
1. Teknologi Tinggi & Kemandirian Sains: Memperkuat industri semikonduktor, kecerdasan buatan (AI), dan bioteknologi untuk lepas dari ketergantungan teknologi Barat.
2. Transisi Energi Hijau: Mempercepat dominasi China dalam rantai pasok kendaraan listrik (EV), baterai, dan energi terbarukan.
3. Manufaktur Canggih: Meningkatkan nilai tambah industri dari sekadar “pabrik dunia” menjadi pusat inovasi global.
Implikasi Bagi Ekonomi Global dan Indonesia
Keputusan China untuk menahan stimulus ini tentu mengirimkan sinyal campuran ke pasar global. Di satu sisi, investor mungkin akan kecewa karena hilangnya katalis pertumbuhan instan yang biasanya mendongkrak harga komoditas global. Bagi negara mitra dagang seperti Indonesia, ini adalah sinyal waspada. Jika China mengurangi proyek konstruksi, permintaan terhadap komoditas mentah tradisional mungkin tidak akan melonjak drastis.
Namun, di sisi lain, langkah ini memberikan kepastian stabilitas. China yang tumbuh secara sehat dan stabil—meski dengan persentase yang lebih moderat—jauh lebih baik bagi ekonomi dunia daripada China yang tumbuh cepat namun menyimpan bom waktu krisis utang. Beijing sedang mencoba membangun fondasi yang kokoh agar negaranya tidak terjebak dalam middle-income trap dan siap menghadapi tantangan demografi di masa depan.
Kesimpulan
Tahun 2026 akan menjadi tahun transisi krusial bagi China. Dengan mengerem stimulus, Beijing sedang mengirim pesan bahwa mereka siap bersakit-sakit dahulu demi mencapai kedaulatan ekonomi yang tangguh di masa depan. Dunia kini menanti, apakah strategi “puasa stimulus” ini akan berhasil membawa Sang Naga terbang lebih tinggi, atau justru memicu perlambatan yang lebih dalam.