Blog

Peringatan Keras Ahli: Larangan Mendirikan Bangunan di Atas Sesar Aktif Demi Keselamatan Publik

Published

on

Semarang (usmnews) – Dikutip dari CNNIndonesi.com Indonesia kembali diingatkan akan takdir geologisnya sebagai salah satu wilayah paling rawan bencana di dunia. Dalam sebuah peringatan tegas yang dilansir oleh CNN Indonesia pada Kamis, 11 Desember 2025, para ahli konstruksi dan geologi menyerukan urgensi untuk menghentikan segala bentuk pembangunan infrastruktur tepat di atas jalur sesar aktif. Peringatan ini bukan sekadar imbauan, melainkan kunci utama untuk menekan angka korban jiwa di tengah ancaman gempa yang nyata.

Realitas Tektonik Indonesia

Warga melintasi rumah-rumah yang rusak akibat gempa bumi di Desa Sajang, Lombok Timur, NTB, Senin (30/7). Gempa bumi berkekuatan 6,4 pada skala richter Minggu (29/7) kemarin telah mengakibatkan korban 15 orang meninggal dunia, 162 orang luka-luka serta ratusan rumah rusak. ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay/wsj/18.

Masyhur Irsyam, Guru Besar Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan Institut Teknologi Bandung (ITB), menyoroti posisi Indonesia yang terhimpit oleh pertemuan empat lempeng tektonik raksasa dunia: Lempeng Asia, Australia, Pasifik, dan Filipina. Interaksi dinamis antar-lempeng ini menciptakan akumulasi energi yang sewaktu-waktu dapat terlepas sebagai gempa bumi dahsyat. Kondisi alamiah ini menempatkan Indonesia pada tingkat kerawanan yang ekstrem, sehingga pendekatan tata ruang tidak bisa disamakan dengan negara yang berada di zona stabil.

Hukum Fisika dan Kerentanan Struktur

Dari kacamata teknik sipil, Masyhur menjelaskan mekanisme kerusakan bangunan menggunakan prinsip dasar Hukum Newton. Ketika gempa terjadi, tanah bergerak dengan percepatan tertentu. Jika sebuah bangunan memiliki massa yang besar dan menerima percepatan gempa yang tinggi—seperti yang terjadi di dekat sumber gempa atau sesar—maka gaya guncangan yang menghantam struktur tersebut akan menjadi sangat destruktif.

Mendirikan bangunan tepat di atas sesar aktif (jalur patahan) adalah tindakan yang sangat berbahaya karena deformasi tanah di zona ini dapat merobek pondasi bangunan secara langsung. Tidak ada rekayasa struktur konvensional yang secara ekonomis dan teknis mampu menahan pergeseran tanah ekstrem tepat di “nadi” patahan tersebut.

Praktik Konstruksi yang Membahayakan

Selain faktor lokasi, para ahli juga menyoroti ironi kualitas konstruksi di lapangan. Masih banyak ditemukan praktik pembangunan yang jauh dari standar keselamatan (non-engineered building). Salah satu contoh fatal yang diungkap adalah penggunaan pipa paralon (PVC) sebagai pengganti tulangan besi atau baja di dalam kolom beton rumah tinggal. Praktik semacam ini membuat bangunan menjadi sangat rapuh; alih-alih melindungi penghuninya, rumah tersebut justru menjadi perangkap mematikan saat guncangan terjadi.

Langkah Mitigasi: Standarisasi dan Pengawasan

Para pakar sepakat bahwa kunci keselamatan bukan hanya pada menghindari zona sesar, tetapi juga pada kepatuhan terhadap standar bangunan tahan gempa (SNI). Bangunan yang dirancang dengan benar mungkin akan mengalami kerusakan saat gempa besar melanda, namun struktur utamanya harus tetap berdiri (tidak runtuh seketika) untuk memberi waktu bagi penghuni menyelamatkan diri.

Oleh karena itu, pengawasan yang ketat terhadap izin mendirikan bangunan (IMB/PBG) dan edukasi masif kepada masyarakat mengenai konstruksi sederhana yang aman menjadi harga mati. Pemerintah dan masyarakat harus bersinergi memastikan bahwa peta rawan bencana benar-benar dijadikan acuan dalam perencanaan tata ruang, bukan sekadar dokumen pelengkap. Membangun di luar jalur sesar dan memperkuat struktur bangunan adalah satu-satunya cara berdamai dengan risiko bencana di negeri cincin api ini.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Exit mobile version