Connect with us

Uncategorized

Penanganan Pasca-Ledakan SMAN 72: Kapolri Janjikan Pusat Trauma Healing, KPAI Alihkan Pembelajaran ke Sistem Daring

Published

on

Dampak dari tragedi ledakan di SMAN 72 Jakarta terus ditangani secara intensif oleh berbagai pihak. Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) Jenderal Listyo Sigit Prabowo menunjukkan perhatian seriusnya dengan mengunjungi langsung para siswa yang menjadi korban. Para pelajar tersebut saat ini tengah menjalani perawatan medis yang tersebar di beberapa rumah sakit.

Dalam keterangan tertulisnya pada hari Ahad, 9 November 2025, Kapolri memaparkan kondisi terkini para korban. Ia menyebutkan bahwa dari total 96 siswa yang terdampak, puluhan di antaranya masih memerlukan perawatan inap akibat luka-luka yang diderita.

“Dari 96 korban, sekitar 29 siswa masih menjalani perawatan,” kata Sigit. Ia merinci bahwa para korban tersebut dirawat di tiga rumah sakit berbeda, yaitu 14 siswa di Rumah Sakit Islam Cikini, 14 siswa di Rumah Sakit Yarsi, dan satu siswa lainnya dirawat di Rumah Sakit Pertamina. “Sisanya sudah diizinkan pulang dan menjalani rawat jalan,” tambahnya.

Menyadari dampak psikologis yang berat akibat peristiwa ini, pihak kepolisian berencana mengambil langkah proaktif untuk pemulihan mental. Jenderal Sigit mengumumkan rencana pembangunan pusat pemulihan trauma (trauma healing center) yang akan didirikan di lingkungan SMAN 72. Inisiatif ini bertujuan untuk memberikan pendampingan psikologis secara berkelanjutan. “Tugas kita bersama adalah memastikan mereka bisa pulih secara mental dan kembali beraktivitas dengan normal,” tutur Kapolri.

Langkah pemulihan mental ini juga didukung penuh oleh Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI). Komisioner KPAI, Diyah Puspitarini, dalam keterangannya di Rumah Sakit Islam Jakarta pada Ahad (9/11), menegaskan bahwa kegiatan belajar mengajar di SMAN 72 akan dialihkan sementara waktu. Pembelajaran tatap muka dihentikan dan diganti dengan metode pembelajaran jarak jauh atau daring (dalam jaringan).

Diyah menjelaskan bahwa kebijakan ini diambil agar para siswa dapat lebih fokus pada proses pendampingan psikososial yang sangat dibutuhkan saat ini. “Kami ingin para siswa fokus dulu pada pendampingan psikososial,” ujar Diyah. Ia menegaskan bahwa pemulihan kesiapan mental para siswa adalah prioritas utama sebelum mereka dianggap siap untuk kembali beraktivitas di sekolah secara normal. “Itu yang paling penting saat ini,” tegasnya.

Foto: Liputan6.com

Dukungan psikologis tidak hanya ditujukan bagi para siswa. Diyah menambahkan bahwa para guru yang turut menjadi korban atau saksi mata kejadian juga mendapat pendampingan serupa. Dari total 42 guru di SMAN 72, sebanyak 17 di antaranya telah mendapatkan pendampingan psikologis, dan sisanya dijadwalkan akan segera menyusul. “Semua guru perlu mendapat dukungan psikologis agar bisa kembali mengajar dengan tenang,” kata Diyah.

Insiden ledakan di SMAN 72 Jakarta ini terjadi pada hari Jumat, 7 November 2025. Peristiwa tragis itu berlangsung sekitar pukul 12.15 WIB, tepat ketika khutbah salat Jumat sedang berlangsung. Menurut laporan, terjadi dua ledakan secara berurutan, yang pertama terdengar dari aula sekolah dan yang kedua dari arah pintu belakang.

Dalam penyelidikan awal, sejumlah saksi mata melaporkan temuan seorang siswa kelas XII yang tergeletak dengan senjata mainan di dekatnya. Pihak kepolisian juga mengamankan barang bukti di lokasi kejadian, termasuk kaleng minuman yang telah dimodifikasi dan dilengkapi sumbu, serta sebuah remot kecil.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *