Nasional
Pembersihan “Tiang Hantu” di Jantung Kota
Semarang (usmnews) – Dikutip dari CNNIndonesia Setelah sekian lama berdiri tanpa kejelasan, tiang-tiang beton proyek monorel yang mangkrak akhirnya dibongkar. Fokus utama pengerjaan berada di kawasan-kawasan padat seperti Jalan HR Rasuna Said (Kuningan) dan kawasan Senayan. Keberadaan tiang ini selama dua dekade terakhir dianggap tidak hanya merusak keindahan kota, tetapi juga menyita ruang jalan yang seharusnya bisa digunakan untuk memperlancar arus kendaraan.
Keputusan pembongkaran ini merupakan langkah strategis untuk mengembalikan fungsi jalan secara maksimal. Mengingat besarnya struktur beton tersebut, proses evakuasi membutuhkan alat berat dan penanganan khusus yang berisiko mengganggu kelancaran lalu lintas di sekitarnya.
Skema Rekayasa Lalu Lintas dan Diversi Jalan
Untuk meminimalisir dampak kepadatan, Dinas Perhubungan (Dishub) DKI Jakarta berkolaborasi dengan Ditlantas Polda Metro Jaya telah menyiapkan skema rekayasa lalu lintas. Beberapa poin penting dalam pengaturan ini meliputi:
• Penyempitan Lajur: Selama proses pembongkaran, beberapa ruas jalan akan mengalami penyempitan karena penempatan alat berat dan area buffer keamanan.
• Pengalihan Arus (Diversi): Kendaraan yang biasanya melintasi jalur utama Kuningan akan diarahkan ke jalur-jalur alternatif seperti Jalan Galunggung atau melalui area pemukiman di sekitar Menteng dan Setiabudi pada jam-jam tertentu.
• Waktu Pengerjaan: Untuk mengurangi beban kemacetan di siang hari, mayoritas aktivitas pembongkaran dilakukan pada malam hari (pukul 22.00 hingga 05.00 WIB). Namun, sisa-sisa material dan barikade mungkin masih akan memengaruhi lebar jalan di pagi hari.
Dampak bagi Pengguna Jalan
Masyarakat yang sehari-harinya bermobilisasi melewati jalur Kuningan dan Senayan sangat disarankan untuk melakukan penyesuaian jadwal. Meskipun rekayasa lalu lintas telah disiapkan, volume kendaraan Jakarta yang sangat tinggi tetap berpotensi menimbulkan antrean panjang, terutama pada jam berangkat dan pulang kerja.
Pihak otoritas menghimbau pengguna jalan untuk:
1. Memantau Aplikasi Navigasi: Selalu gunakan Google Maps atau Waze untuk melihat titik kemacetan real-time.
2. Beralih ke Transportasi Umum: Menggunakan LRT Jabodebek, MRT, atau TransJakarta sangat disarankan karena jalur transportasi umum ini relatif lebih steril dari dampak pembongkaran di permukaan jalan.
3. Mematuhi Petugas di Lapangan: Keberadaan personel Dishub dan Kepolisian akan ditingkatkan di titik-titik krusial untuk membantu mengarahkan pengendara.
Visi Jakarta yang Lebih Rapi
Meskipun dalam jangka pendek warga harus bersabar menghadapi kemacetan tambahan, langkah ini dinilai sangat positif untuk masa depan Jakarta. Tanpa tiang-tiang mangkrak tersebut, jalan protokol di Jakarta akan terlihat lebih luas dan bersih. Ruang yang ditinggalkan oleh tiang-tiang tersebut nantinya dapat dimanfaatkan untuk perluasan jalur hijau atau optimalisasi lajur transportasi publik lainnya.
Upaya ini adalah bagian dari komitmen penataan ulang ruang publik agar Jakarta menjadi kota yang lebih humanis dan efisien.