Business

Pemangkasan Tarif Impor Pangan: Respons Trump terhadap Inflasi Harga Bahan Pokok

Published

on

Semarang (usmnews) – Dikutip CNN Indonesia Pemerintahan Presiden Donald Trump mengambil langkah signifikan dengan mengumumkan pembebasan tarif impor terhadap lebih dari 200 produk makanan. Keputusan ini, yang mencakup komoditas pokok sehari-hari seperti kopi, daging sapi, pisang, dan jus jeruk, merupakan respons langsung terhadap tekanan inflasi yang menyebabkan harga-harga bahan makanan di Amerika Serikat (AS) melonjak drastis. Tingginya biaya hidup, khususnya di sektor pangan, telah memicu keresahan yang meluas di kalangan konsumen dan menjadi isu politik yang semakin mendesak.

Selama beberapa waktu, konsumen AS menyatakan frustrasi atas kenaikan harga bahan makanan yang signifikan. Para ekonom dan pengamat pasar sebagian besar menyalahkan tarif impor yang diberlakukan oleh pemerintahan Trump sebelumnya sebagai salah satu pendorong utama kenaikan harga ini. Mereka berpendapat bahwa bea masuk yang tinggi memaksa perusahaan-perusahaan importir menanggung biaya tambahan, yang kemudian diteruskan kepada konsumen dalam bentuk harga jual yang lebih tinggi. Kenaikan harga ini diperkirakan akan semakin parah jika perusahaan mulai merasakan beban penuh dari tarif impor yang telah diterapkan.

Tekanan Inflasi dan Dampak Tarif​Salah satu contoh paling menonjol dari dampak tarif impor adalah sektor kopi. Dengan AS yang hampir tidak memproduksi biji kopi secara domestik, tarif impor yang tinggi, seperti tarif 50% yang sempat dikenakan pada kopi dari Brasil (pemasok sepertiga kebutuhan AS), secara langsung menyebabkan biaya produksi dan distribusi meroket. Akibatnya, harga kopi bagi konsumen dilaporkan melonjak hampir 21% dalam periode tertentu, yang merupakan kenaikan terbesar sejak tahun 1990-an. Eksportir utama lainnya, seperti Vietnam, Kolombia, dan negara-negara Amerika Latin lainnya, juga merasakan imbas dari kebijakan tarif pangan AS ini.

Sektor daging sapi juga menjadi salah satu yang paling terpukul. AS telah menerapkan tarif besar terhadap pemasok utama seperti Brasil, Australia, Selandia Baru, dan Uruguay selama setahun terakhir, yang berkontribusi pada lonjakan harga daging sapi di pasar domestik. Lonjakan harga komoditas-komoditas penting ini, termasuk daging sapi, telah menjadi beban politik yang signifikan bagi pemerintahan Trump.

Pengakuan dan Penyesuaian Kebijakan​Langkah pemangkasan tarif ini menandai adanya penyesuaian besar dalam kebijakan perdagangan Presiden Trump. Sebelumnya, Trump dan para pejabat senior AS secara konsisten menepis kritik bahwa kebijakan tarifnya berkontribusi pada kenaikan biaya hidup. Namun, keputusan untuk mencabut atau mengurangi tarif impor untuk produk-produk penting menunjukkan adanya pengakuan—setidaknya secara implisit—bahwa penyesuaian tarif diperlukan untuk mengatasi masalah inflasi pangan. Bahkan, beberapa pengamat melihat pembebasan tarif ini sebagai semacam pengakuan kekalahan setelah Trump sebelumnya bersikeras bahwa bea masuk tidak memicu inflasi, dengan data menunjukkan bahwa inflasi telah meningkat dan sektor manufaktur telah berkontraksi sejak tarif diberlakukan.

Pejabat Gedung Putih menjelaskan bahwa pembebasan tarif ini terutama ditujukan untuk makanan yang tidak memiliki kompetitor signifikan di AS, seperti pisang. Tujuannya adalah untuk menurunkan harga dan meringankan beban finansial konsumen. Pembebasan tarif ini mencakup penghapusan tarif resiprokal untuk produk pertanian dalam upaya ‘menjinakkan’ inflasi yang kian tak terkendali.

Implementasi dan Keterbatasan​Perintah eksekutif yang ditandatangani oleh Presiden Trump mencabut tarif untuk berbagai impor pangan, termasuk tomat, kakao, serta daging sapi, kopi, dan pisang. Namun, penting untuk dicatat bahwa perubahan kebijakan yang diumumkan oleh Gedung Putih hanya mencakup pencabutan tarif sebesar 10% dari total bea masuk yang dikenakan sebelumnya. Ini berarti, tarif tambahan sebesar 40% (atau besaran lain yang tinggi) masih tetap berlaku untuk impor dari negara-negara tertentu.

Sebagai contoh, meskipun kebijakan ini berlaku umum, kabar terbaru menunjukkan bahwa kopi dari Brasil, eksportir kopi terbesar ke AS, mungkin masih dikenakan tarif tinggi. Hal ini karena beberapa pelonggaran tarif diumumkan melalui kesepakatan dagang baru dengan sejumlah negara Amerika Latin, termasuk Argentina, Guatemala, El Salvador, dan Ekuador, tetapi Brasil tidak termasuk dalam perjanjian tersebut. Akibatnya, tarif tinggi untuk ekspor kopi dan daging sapi dari pemasok utama tertentu masih akan membebani pasar, dan efektivitas penuh dari pemangkasan ini dalam menurunkan harga di tingkat konsumen masih bergantung pada dinamika pasar global dan volume pasokan dari negara-negara yang mendapatkan pengecualian.

Dengan langkah ini, pemerintahan Trump berupaya meredakan kemarahan publik atas biaya hidup yang mahal dan menunjukkan poros kebijakan yang lebih fokus pada keterjangkauan harga, terutama menjelang momen-momen penting politik di masa mendatang.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Exit mobile version