International

Pantauan Harga Minyak Dunia: Kesepakatan AS-China Jaga Stabilitas di Angka USD 100

Published

on

Semarang (usmnews) Harga minyak dunia hari ini menunjukkan gejolak di kisaran USD 100 pada perdagangan Kamis (14/5/2026). Situasi ini menyusul pernyataan Gedung Putih terkait kesepakatan Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping untuk menjaga Selat Hormuz tetap terbuka.

Mengutip data CNBC pada Jumat (15/5/2026), harga minyak Brent untuk kontrak Juli mengalami kenaikan 9 sen ke level USD 105,72 per barel. Sementara itu, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Juni juga naik 9 sen menjadi USD 101,17 per barel.

Kesepakatan Selat Hormuz AS-China

“Kedua pihak sepakat bahwa Selat Hormuz harus tetap terbuka guna mendukung arus energi bebas,” ujar seorang pejabat Gedung Putih dalam pernyataan resminya. Selain itu, Presiden Xi menegaskan bahwa China menentang militerisasi di wilayah selat tersebut.

Pejabat Gedung Putih juga mengungkapkan ketertarikan Xi Jinping untuk membeli minyak dari Amerika Serikat. Namun, media pemerintah China belum memberikan keterangan resmi terkait diskusi pembelian minyak maupun isu Selat Hormuz tersebut.

Dampak Perang Iran Terhadap Harga Minyak Dunia Hari ini

OPEC dan Badan Energi Internasional (IEA) baru saja menerbitkan pembaruan terkait dampak perang Iran terhadap pasar energi global. Oleh karena itu, OPEC memangkas prakiraan pertumbuhan permintaan tahun 2026 menjadi 1,2 juta barel per hari.

Produksi kartel tersebut mengalami penurunan drastis sebesar 1,7 juta barel per hari pada April lalu. Bahkan, angka produksi telah merosot lebih dari 30 persen sejak pecahnya perang Iran pada akhir Februari. Kondisi ini semakin menantang setelah Uni Emirat Arab resmi keluar dari keanggotaan OPEC pada 1 Mei kemarin.

Stok Minyak Dunia Menipis

“Kehilangan pasokan dari Selat Hormuz terus menguras persediaan minyak global dengan kecepatan rekor,” ungkap pihak IEA. Selanjutnya, mereka mencatat total pengurangan pasokan dari produsen Teluk kini mencapai lebih dari satu miliar barel.

Para analis dari ING memperkirakan gejolak harga akan terus berlanjut seiring mendekatnya puncak permintaan musim panas. Akibatnya, perkembangan geopolitik di Timur Tengah masih menjadi faktor penentu utama bagi stabilitas pasar energi ke depan.

Baca Juga : Pertemuan Donald Trump dan Xi Jinping di Beijing Bahas Isu Iran hingga Taiwan

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Exit mobile version