Nasional
Nestapa Lansia di Subang: Dua Bulan Bertahan di Tenda Pasca-Ambruknya Tempat Tinggal

Semarang (usmnews) – Sebuah potret memprihatinkan datang dari wilayah Kabupaten Subang, Jawa Barat, di mana seorang warga lanjut usia (lansia) harus menjalani hari-harinya dalam kondisi yang sangat tidak layak. Selama lebih dari dua bulan terakhir, lansia tersebut terpaksa menjadikan tenda darurat sebagai tempat bernaung setelah rumah tinggalnya rata dengan tanah akibat kondisi bangunan yang sudah tua dan rapuh. Hingga saat ini, pemulihan hunian yang layak bagi warga tersebut masih menjadi angan-angan karena belum adanya bantuan signifikan dari otoritas terkait.
Kejadian ini bermula ketika rumah kayu yang sudah ditempati selama puluhan tahun tersebut mengalami kerusakan struktur yang sangat parah. Beban bangunan yang tidak lagi mampu menopang atap, ditambah faktor cuaca seperti hujan lebat dan angin kencang, akhirnya membuat rumah tersebut roboh total. Beruntung, lansia tersebut selamat dari reruntuhan, namun sejak saat itu ia kehilangan satu-satunya harta benda yang ia miliki: tempat berlindung.
Karena ketiadaan biaya untuk melakukan renovasi atau membangun kembali secara mandiri, lansia ini bersama pihak keluarga atau tetangga sekitar terpaksa mendirikan tenda seadanya di atas lahan bekas rumahnya tersebut. Tenda yang terbuat dari terpal dan material sisa itu kini menjadi saksi bisu perjuangannya menghadapi terik matahari di siang hari dan dinginnya angin malam.
Meskipun informasi mengenai ambruknya rumah ini telah menyebar di lingkungan setempat, respons dari pemerintah daerah, khususnya dinas terkait seperti Dinas Sosial atau Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), dinilai masih sangat lambat. Sejauh ini, bantuan yang diterima barulah sebatas bantuan logistik darurat yang bersifat sementara, bukan bantuan permanen untuk membangun kembali rumah melalui program semacam Rutilahu (Rumah Tidak Layak Huni).
Warga sekitar dan tokoh masyarakat setempat sangat berharap agar Pemerintah Kabupaten Subang dapat segera turun tangan memberikan bantuan stimulus pembangunan rumah. Mereka menilai, dalam kasus seperti ini, birokrasi seharusnya bisa lebih fleksibel untuk membantu warga yang berada dalam kondisi darurat kemanusiaan.
Kisah ini menjadi pengingat bagi kita semua tentang pentingnya jaring pengaman sosial bagi kelompok rentan. Selagi menunggu uluran tangan resmi dari pemerintah, solidaritas dari para dermawan dan komunitas sosial sangatlah dibutuhkan. Dibutuhkan kolaborasi kolektif untuk membangun kembali rumah bagi lansia ini agar ia dapat menghabiskan masa tuanya dengan martabat dan kenyamanan yang seharusnya ia dapatkan.
Kesabaran lansia ini selama dua bulan di bawah tenda terpal adalah cerminan dari ketangguhan sekaligus keputusasaan. Sudah saatnya “uluran tangan” yang dinantikan bukan lagi sekadar janji, melainkan tindakan nyata di lapangan.







