Lifestyle

Misteri “Return Trip Effect”: Mengapa Perjalanan Pulang Selalu Terasa Lebih Singkat?

Published

on

Semarang (usmnews) – Dikutip dari cnnindonesia.com Pernahkah Anda merasakan sebuah anomali saat bepergian ke suatu tempat liburan atau lokasi baru? Saat berangkat, rasanya waktu berjalan begitu lambat dan tujuan tak kunjung terlihat, seolah perjalanan memakan waktu berjam-jam. Namun anehnya, saat perjalanan pulang melewati rute yang sama, waktu seakan melesat cepat dan tiba-tiba Anda sudah sampai di rumah. Fenomena ini bukan hanya perasaan Anda semata, melainkan sebuah pengalaman psikologis yang umum dan dapat dijelaskan secara ilmiah.

‎Persepsi Subjektif Terhadap Waktu Pada dasarnya, manusia memiliki hubungan yang unik dengan waktu. Waktu yang kita rasakan (waktu psikologis) sering kali berbeda dengan waktu yang tertera pada jam dinding (waktu kronologis). Perasaan ini bersifat sangat subjektif dan sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor internal maupun eksternal, seperti suasana hati, tingkat fokus, aktivitas yang sedang dilakukan, hingga kondisi lingkungan sekitar. Distorsi persepsi inilah yang menjadi fondasi utama mengapa durasi perjalanan pergi dan pulang terasa berbeda, meskipun jarak dan kecepatan tempuhnya sama.

‎Faktor Atensi dan Fokus pada Waktu Sebagaimana dilansir dari The Washington Post, para psikolog menyoroti bahwa salah satu penyebab utama fenomena ini berkaitan erat dengan cara otak kita menaruh perhatian pada waktu. Saat kita berangkat menuju tempat yang asing atau baru pertama kali dikunjungi, ada kecenderungan alamiah untuk terus-menerus memantau progres perjalanan.

‎Ada rasa antisipasi, ketidaksabaran, atau bahkan kecemasan untuk segera sampai. Ketika seseorang terus-menerus “menghitung” waktu atau sering melirik jam tangan, secara psikologis waktu akan terasa melambat. Hal ini serupa dengan situasi saat kita sedang terburu-buru, terlambat, atau terjebak kemacetan; satu menit terasa seperti sepuluh menit karena fokus kita terpaku sepenuhnya pada berlalunya waktu.

‎Sebaliknya, saat perjalanan pulang, rasa antisipasi tersebut sudah hilang. Tekanan untuk “segera sampai” biasanya berkurang karena tujuannya adalah rumah yang sudah familiar. Pikiran kita menjadi lebih rileks, terdistraksi oleh obrolan, lelah, atau sekadar menikmati musik, sehingga kita tidak lagi menghitung menit demi menit. Sesuai pepatah lama, “waktu berlalu cepat saat kita bersenang-senang” atau dalam konteks ini, saat kita tidak terobsesi dengan waktu itu sendiri.

‎Peran Familiaritas dan Pengenalan Rute Selain faktor atensi, aspek pengenalan lingkungan juga memegang peranan vital. Efek perjalanan pulang ini yang sering disebut sebagai The Return Trip Effect paling kuat dirasakan saat kita mengunjungi lokasi yang belum dikenal.

‎Saat berangkat, otak bekerja lebih keras memproses informasi visual baru: jalanan asing, persimpangan yang membingungkan, hingga mencari tanda-tanda lokasi. Ketidakpastian tentang “kapan kita akan sampai” membuat durasi terasa memanjang. Namun, saat pulang, rute tersebut sudah tidak lagi menjadi misteri. Kita mulai mengenali landmark atau patokan jalan yang tadi dilewati. Karena otak sudah memiliki gambaran mental tentang rute tersebut dan bisa memprediksi perjalanan, beban kognitif berkurang dan perjalanan terasa lebih singkat. Inilah alasannya mengapa efek ini jarang terjadi pada rute harian yang sudah kita hafal di luar kepala, seperti perjalanan ke kantor atau sekolah.

‎Dukungan Riset Ilmiah Teori ini didukung oleh berbagai literatur ilmiah. Salah satu studi yang sering dirujuk berjudul “The Return Trip Effect: Why the Return Trip Often Seems to Take Less Time”. Dalam penelitian tersebut, ditemukan bahwa ekspektasi memegang kunci penting. Sering kali, karena perjalanan berangkat terasa sangat lama (akibat ketidakpastian), otak kita tanpa sadar menetapkan ekspektasi waktu yang tinggi untuk perjalanan pulang. Ketika perjalanan pulang ternyata berjalan lancar, hal itu mematahkan ekspektasi “lama” tersebut, sehingga menciptakan ilusi bahwa perjalanan pulang jauh lebih cepat.

‎Secara keseluruhan, fenomena ini adalah bukti nyata bahwa otak manusia tidak bekerja seperti stopwatch. Perjalanan pulang terasa cepat adalah kombinasi dari berkurangnya kecemasan, meningkatnya pengenalan rute, dan perubahan fokus atensi kita dari sekadar menunggu waktu berlalu menjadi menikmati perjalanan itu sendiri.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Exit mobile version