Connect with us

Business

Misteri di Balik Segel: Mengapa Makam Qin Shi Huang Belum Dibuka?

Published

on

Semarang (usmnews) – Dikutip dari CNBCIndonesia.com Sejak ditemukan secara tidak sengaja oleh para petani di Xi’an lebih dari lima dekade lalu, kompleks pemakaman Qin Shi Huang telah memukau dunia. Namun, para arkeolog hanya berani menyentuh bagian luar dari kompleks tersebut. Inti dari makam itu, yaitu gundukan tanah raksasa yang diyakini berisi peti mati sang Kaisar, tetap tidak tersentuh selama lebih dari 2.000 tahun.

1. Ancaman Mematikan: Sungai Merkurius

Alasan pertama yang paling sering dikemukakan oleh para ahli adalah faktor keamanan fisik. Sejarawan kuno China, Sima Qian, menuliskan dalam catatannya bahwa makam tersebut dikelilingi oleh parit-parit yang diisi dengan merkuri cair (air raksa) yang dipompa secara mekanis untuk menyerupai aliran sungai dan laut.

Awalnya, banyak yang menganggap ini hanyalah mitos belaka. Namun, penelitian ilmiah modern menggunakan sensor geokimia menunjukkan adanya konsentrasi merkuri yang sangat tinggi di tanah sekitar makam—jauh melampaui tingkat normal. Jika makam dibuka secara sembarangan, uap merkuri yang sangat beracun dapat menyebar dan membahayakan para peneliti serta lingkungan sekitar. Paparan merkuri dalam konsentrasi tinggi dapat merusak sistem saraf pusat dan organ tubuh manusia dalam waktu singkat.

2. Kekhawatiran Kerusakan Artefak (Konservasi)

Belajar dari pengalaman pahit saat penggalian Tentara Terakota, para arkeolog sangat berhati-hati. Ketika patung-patung prajurit tersebut pertama kali ditemukan, mereka sebenarnya dilapisi dengan cat warna-warni yang cerah. Namun, begitu terpapar udara luar (oksigen) dan cahaya, lapisan cat tersebut mengering, retak, dan mengelupas hanya dalam waktu beberapa detik, menyisakan warna tanah liat abu-abu yang kita lihat sekarang.

Ilmuwan khawatir hal yang sama atau bahkan lebih buruk akan terjadi pada isi di dalam ruang utama makam. Diperkirakan terdapat sutra, lukisan, dan benda-benda berharga lainnya yang mungkin hancur seketika jika terjadi perubahan suhu atau kelembapan secara mendadak saat segel makam dibuka. Hingga saat ini, belum ada teknologi yang mampu menjamin pelestarian artefak organik di dalam ruang yang hampa udara selama ribuan tahun jika dipindahkan ke kondisi luar ruangan.

3. Jebakan Kuno yang Melegenda

Selain merkuri, catatan sejarah menyebutkan adanya sistem pertahanan berupa mekanisme panah otomatis (busur silang) yang dirancang untuk menembak siapa pun yang berani masuk. Meski banyak ahli meragukan apakah mekanisme kayu dan logam tersebut masih berfungsi setelah dua milenium, risiko adanya jebakan fisik atau keruntuhan struktur bangunan tetap menjadi pertimbangan serius. Konstruksi makam yang sangat luas dan kompleks membutuhkan perhitungan teknik yang luar biasa rumit untuk dibongkar tanpa menghancurkan strukturnya.

4. Etika dan Penghormatan Budaya

Terlepas dari alasan teknis, ada faktor etika dan budaya. Pemerintah China memandang situs ini sebagai monumen nasional yang sakral. Membongkar makam leluhur tanpa alasan yang benar-benar mendesak dianggap tidak sopan dalam tradisi tertentu. Keputusan untuk membiarkan makam tersebut tetap tertutup adalah bentuk penghormatan terhadap sejarah dan “ketenangan” sang kaisar.

Kesimpulan

Dunia arkeologi saat ini memilih untuk bersabar. Para ilmuwan menunggu hingga teknologi non-invasif (seperti pemindaian muon atau sinar kosmik) berkembang cukup canggih sehingga mereka dapat melihat isi makam tanpa harus menggali atau merusak segelnya. Hingga hari itu tiba, kaisar pertama China akan tetap beristirahat dalam kemegahan bawah tanahnya yang tersembunyi dari mata dunia.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *