Tech

Meskipun Merugikan Pengguna, Iklan Penipuan Bikin Induk Facebook Untung Besar

Published

on

Semarang (usmnews) – Dikutip Kompas.news Laporan-laporan terkini telah menyoroti sebuah ironi yang meresahkan: semakin maraknya iklan penipuan yang membanjiri platform-platform media sosial di bawah naungan Meta, seperti Facebook dan Instagram, justru diduga menjadi sumber pendapatan yang signifikan bagi raksasa teknologi tersebut. Fenomena ini menimbulkan kekhawatiran serius mengenai tanggung jawab perusahaan dalam mengelola konten iklan dan dampaknya terhadap perlindungan pengguna dari aktivitas kejahatan siber.

Berdasarkan dokumen internal dan investigasi yang bocor, terungkap bahwa Meta disinyalir memperoleh persentase yang cukup besar dari total pendapatannya — diperkirakan mencapai 10% — yang berasal dari iklan-iklan yang dianggap “berisiko tinggi” atau bermasalah, termasuk yang tergolong penipuan. Jika estimasi ini benar, maka Meta berpotensi meraup puluhan miliar dolar dari aktivitas periklanan yang merugikan dan menipu pengguna secara global. Praktik ini menjadi sorotan karena Meta dinilai gagal secara efektif mencegah penyebaran konten iklan palsu, meskipun sistem mereka diduga telah mendeteksi sifat mencurigakan dari sebagian besar iklan tersebut.

Alih-alih memblokir iklan-iklan yang sudah terdeteksi mencurigakan, Meta dikabarkan mengambil kebijakan untuk menaikkan tarif atau membebankan biaya iklan yang lebih tinggi kepada pihak-pihak yang memasang iklan “berisiko” tersebut. Strategi ini, meskipun diklaim sebagai upaya untuk mencegah penipuan, pada akhirnya justru memungkinkan iklan-iklan bermasalah tetap tayang dan menghasilkan keuntungan besar bagi perusahaan. Kondisi ini memperkuat dugaan bahwa keuntungan finansial menjadi prioritas, bahkan di tengah risiko kerugian besar yang ditanggung oleh para pengguna yang menjadi korban penipuan.

Tudingan ini diperkuat dengan fakta bahwa pengguna di berbagai negara, termasuk Australia, telah mengajukan tuntutan hukum terhadap Meta. Tuntutan ini muncul karena Meta dituduh mengizinkan iklan-iklan penipuan, yang sering kali menggunakan dukungan palsu dari tokoh atau selebriti terkenal, untuk secara sengaja menargetkan pengguna yang rentan. Kasus-kasus kerugian yang dialami korban pun tidak main-main, dengan beberapa di antaranya kehilangan ratusan ribu hingga jutaan dolar akibat terperdaya oleh janji investasi palsu yang diiklankan di platform Meta.

Meskipun demikian, Meta secara tegas membantah tuduhan tersebut. Juru bicara perusahaan mengklaim bahwa Meta telah melakukan upaya signifikan dalam memerangi penipuan dan ‘spoofing’ (peniruan identitas). Sebagai bukti, mereka melaporkan telah menghapus jutaan, bahkan lebih dari 134 juta konten iklan penipuan sepanjang tahun berjalan. Selain itu, Meta juga mengklaim telah berhasil mengurangi laporan pengguna terkait iklan penipuan sebesar 58% dalam kurun waktu 18 bulan terakhir. Pihak Meta juga berargumen bahwa angka estimasi pendapatan iklan penipuan yang beredar merupakan perkiraan kasar dan dianggap terlalu inklusif, karena juga mencakup pendapatan dari iklan yang sah, sehingga angka sebenarnya seharusnya lebih rendah. Namun, mereka menolak memberikan angka estimasi yang lebih baru.

Terlepas dari pembelaan Meta, maraknya iklan penipuan ini berdampak jangka panjang yang merusak. Iklan palsu, tawaran investasi bodong, hingga modus penipuan “cinta” dan phishing yang bertebaran membuat pengguna kehilangan kepercayaan terhadap kredibilitas informasi di feed mereka. Hal ini pada akhirnya tidak hanya merugikan individu korban secara finansial (beberapa ibu rumah tangga bahkan dilaporkan kehilangan tabungan puluhan juta Rupiah), tetapi juga berpotensi mengikis engagement pengguna secara keseluruhan, merusak reputasi Meta, dan menurunkan efektivitas iklan legal yang ada.

Oleh karena itu, artikel ini menggarisbawahi perlunya pengawasan yang lebih ketat dan transparansi yang lebih besar dari Meta, terutama dalam mengambil tindakan pencegahan yang lebih proaktif, alih-alih hanya berfokus pada penghapusan konten setelah kerugian terjadi. Tekanan publik dan tuntutan hukum tampaknya akan terus menjadi faktor pendorong bagi Meta untuk meningkatkan standar keamanan platformnya dan benar-benar memprioritaskan perlindungan pengguna dari ancaman penipuan online yang semakin canggih.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Exit mobile version